A Long Way (1)
Deburan suara ombak terdengar sangat merdu, dilengkapi dengan indahnya semburat warna jingga pada langit sore kala itu. Seorang gadis berdiri menatap birunya lautan dari hamparan pasir yang berwarna putih di tepi pantai, membiarkan kerudung merah mudanya ikut menari-nari bersama angin yang berhembus di udara. Sesekali ia melemparkan senyumnya, menyapa para nelayan yang sedang bersiap-siap hendak mencari ikan di lautan selepas petang demi mencari nafkah bagi anak dan istri mereka di rumah.
"Nuwun sewu, Mba." ucap seorang Bapak yang sedang membawa peralatan memancingnya ke salah satu perahu kayu yang ada di tepi pantai. Kulitnya berwarna gelap, tanda terlalu sering terpapar sinar matahari, sedangkan kakinya ia biarkan berjalan tanpa alas kaki. Usianya kira-kira sudah memasuki 50 tahun, akan tetapi ia masih terlihat begitu semangat untuk mencari ikan di laut.
"Monggo, Pak." jawab gadis itu sambil tersenyum. Gadis itu manis, wajahnya khas perempuan Indonesia dengan kulit kuning langsat dan gigi putihnya yang berderet rapi.
Tak lama, suara adzan pun berkumandang. Gadis itu pun meninggalkan pantai dengan sepedanya yang sedari tadi ia parkirkan di bawah pohon kelapa.
***
"Sudah pulang, Nduk? Habis dari mana?" tanya seorang perempuan tua yang sedang mendapati nafas cucunya yang tersengal-sengal akibat mengayuh sepeda dengan jarak tempuh yang cukup jauh.
"Saya habis dari pantai, Uti. Biasa lah, cari angin." jawabnya, baru kemudian Ia menyalami tangan Eyang Putrinya dan menciumnya.
"Haduh, cah wedok, ndak baik anak perempuan keluar rumah menjelang Maghrib begini. Kalau kamu kenapa-kenapa gimana, Nduk?"
"Buktinya Kinanti ga kenapa-kenapa toh, Ti? Masih sehat wal'afiat gini kok." jawabnya sambil tersenyum dan menciumi pipi Eyang Putrinya.
"Kamu yo, Nduk. Dikandani kok yo angel? Uti ini sayang sama kamu loh, Kinan."
"Uti ga usah khawatir sama Kinan. Kinan ini sudah besar, Ti, sudah 25 tahun." ucapnya sambil tertawa kecil.
"Kalau sudah 25 tahun, kenapa belum menikah juga? Kinan, nih ya Nduk, Uti bilangin, usia kamu itu sudah cukup untuk menikah, moso kamu malah ngerem di desa toh? Piye? Gimana mau dapat jodoh kalau kamu justru lebih betah sama Uti?"
Pertanyaan Eyang Putri barusan justru membuat Kinanti merasakan kembali pilu di dadanya akibat luka lama yang belum juga sembuh dan menghilang. Sebuah luka yang telah terpatri jelas di hatinya, yang menjadikannya alasan bagi Kinanti untuk melepaskan segala tugasnya sebagai seorang junior arsitek di Jakarta. Bukan pilihan yang mudah memang, tapi inilah jalan yang telah dipilih Kinanti agar setidaknya Ia dapat melupakan lukanya meski hanya sesaat.
***
Hari itu, langit di Jakarta sudah berubah menjadi gelap, ditambah lagi dengan derasnya hujan yang turun selepas Isya tadi. Diliriknya jam tangan Kinanti, sudah menunjukkan pukul 10 malam. Kinanti malam itu baru saja menyelesaikan beberapa draft yang harus disiapkannya sebagai bahan meeting esok pagi. Kali ini, proyek yang ia hadapi bersama beberapa rekan kerja sesama arsiteknya merupakan proyek besar, sebuah pembangunan apartemen dan juga pasar swalayan di tengah kota. Oleh karena itu, seminggu belakangan pun Kinanti beserta beberapa rekan kerjanya yang tergabung di dalam satu tim terpaksa lembur untuk menyelesaikan suatu pekerjaan yang sangat melelahkan. Meskipun hal ini pun kadang sangat dikeluhkan oleh kedua orangtuanya yang kerapkali melihat satu-satunya anak mereka harus pulang larut malam karena lembur bekerja.
"Kinan mau pulang naik apa?" tanya Galang, rekan setimnya sesama arsitek.
"Taksi kayaknya. Udah malam gini, hujan pula." jawab Kinan sambil merapihkan beberapa barangnya yang masih tergeletak di atas meja kerjanya.
"Gue anter ya? Gue bawa mobil hari ini."
"Jangan deh, rumah gue jauh, Lang."
"Cilandak kan? Searah lah, gue di Jagakarsa. Deket itu."
"Eh serius rumah lo di Jagakarsa? Tau gitu gue nebeng terus sama lo ya?" ucap Kinanti sambil tertawa kecil.
"Tapi lo gapapa kan ya kalau semobil berduaan sama yang bukan mahram?"
"Lebay deh lo, Lang." ucapnya sambil menepuk pundak Galang.
"Tapi kita ngopi dulu sebentar ya, Nan. Butuh asupan kafein nih, kerja lembur terus lama-lama gila."
"Emang ada ya kafe yang buka jam segini?"
"Ada. Nanti kita lewatin kafe langganan gue, bukanya sampai pagi."
"Wah parah, melanggar aturan tuh. Kan ga boleh buka 24 jam."
"Bawel deh lo, Nan."
Mereka pun saling melempar tawa, dan kemudian berjalan bersisian ke arah parkiran, tempat Galang memarkirkan mobil toyota altisnya.
Jalanan malam itu pun tidak terlalu macet, bahkan cenderung sepi karena jam sudah menunjukan pukul setengah sebelas malam dan hujan pun sepertinya masih enggan untuk berhenti. Oleh karena itu, tak butuh waktu lama bagi mereka untuk sampai di kafe yang dimaksud oleh Galang.
Kafe itu seperti kafe kebanyakan, tak ada yang spesial kecuali beberapa lagu Michael Learns To Rock yang sengaja mengalun di setiap sisi ruangan yang bernuansa putih dan dihiasi kaca-kaca besar.
Love is one big illusion I should try to forget,
But there's something left in my head.
You're the one who set it up,
Now you're the one to make it stop.
I'm the one who feeling lost right now.
Now you want me to forget every littlhe thing you said,
But there's something left in my head.
Kinanti pun duduk di sebuah meja di pinggir jendela besar yang mengarah ke parkiran. Dilihatnya hujan tak kunjung mereda. Dan tiba-tiba saja sebuah mobil yang tak asing baginya datang dan parkir di halaman kafe itu. Seorang laki-laki dengan kemeja slim fit berwarna abu-abu pun turun dari pintu kemudi, kemudian dibukakannya pintu penumpang di sampingnya. Tak lama kemudian, turunlah seorang perempuan dengan mini dress berwarna hitam yang selanjutnya berjalan bersisian bersama si lelaki menuju pintu kafe, salah satu dari kedua tangan mereka saling menggenggam, seperti saling menguatkan karena suhu di Jakarta malam itu terasa jauh lebih dingin daripada biasanya. Tanpa ada yang tahu, ada seseorang yang merasa dikhianati hanya dengan melihat sederetan adegan romantis sepasang laki-laki dan perempuan itu.
"Hai Beno." sapa Kinanti saat matanya bertatapan dengan laki-laki yang barusan saja masuk ke dalam kafe, dan sedang memilih meja paling nyaman untuk ia tempati.
"K-K-Kinan?" ucapnya seperti tersekat.
"Well, lembur karena besok ada meeting di luar kota sama klien penting ya? Hmm..."
"Aku bisa jelasin."
"Dia siapa, Sayang?" tanya perempuan yang mengenakan mini dress berwarna hitam kebingungan.
"Beno Aditya Respati, untung kita baru akan bertukar cincin ya, belum akan menikah. Bayangin deh kalau aku menikah sama laki-laki playboy macam kamu! Astaga, kupikir kamu beneran lembur di kantor, ternyata... bagus. Salut aku sama kamu, Ben." ucap Kinanti sambil tersenyum. Nadanya tenang, tidak melihatkan kemarahan sedikit pun meski jantungnya sudah berdegup kencang sejak tadi.
"Kinan, sorry. Tapi aku ga bermaksud..."
"Ga bermaksud ngeduain aku sama perempuan ini? Tega ya kamu, Ben. Cewek ini kamu begoin juga!"
"K-K-Kinan..."
"Selesai, Ben."
Galang yang sejak tadi sedang memesan kopi pun menghampiri Kinanti yang terlihat kesal dengan seorang laki-laki yang saat itu baru saja masuk ke dalam kafe bersama seorang perempuan cantik.
"Galang, tolong antarin gue pulang."
Karena melihat perubahan sikap Kinanti dan kejadian barusan, Galang pun akhirnya memilih diam dan langsung mengantarkan Kinanti sampai ke depan rumahnya. Selama perjalanan pun Galang hanya diam, meskipun ia tahu perempuan manis yang sedang berada di mobilnya saat itu sedang menahan tangis.
Hany berselang beberapa minggu sejak kejadian itu, Kinanti memutuskan untuk mengundurkan diri dari kantornya dan pindah ke Kebumen, tinggal bersama Eyang Utinya dan seorang Asisten Rumah Tangga bernama Bibi Aliyah. Sedangkan Eyang Kakungnya telah lama meninggal, sejak Kinanti masih duduk di bangku kelas 3 SMA.
***
Kinanti pun tersenyum menanggapi pertanyaan Eyang Utinya tentang pernikahan barusan.
"Jodohnya belum ketemu, Uti. Mangkannya Uti banyak-banyak doain Kinanti, ya."
"Uti selalu mendoakanmu, Nduk."
"Bulan depan Kinanti akan kembali ke Jakarta, Ti. Kinan sudah dapat panggilan kerja di perusahaan yang baru."
"Semoga sukses, Nduk."
"Aamiin, Uti."
"Yowes, saiki sembahyang dulu."
"Siap, Uti." jawab Kinanti bersemangat. Sejak dulu, sifatnya tidak pernah berubah. Tetap jadi Kinanti yang ceria, meskipun di dalam hatinya banyak memendam duka.
*TO BE CONTINUED*
penulisannya mudah dipahami, substansinya menarik.
ReplyDelete