Jingga Dalam Senja
Langit dan udara sore hari itu seakan menjadi saksi bisu antara dua anak manusia yang sedang memulai untuk menjalani lika liku kehidupan cintanya, Gilang dan Jingga.
Mereka saling menatap satu sama lain, berpandangan, dan saling merasakan setiap hembusan nafas yang ada pada diri mereka.
Kedua tangan Gilang meraih tubuh Jingga, dan sebaliknya kedua tangan Jingga mencoba untuk merangkul pundak Gilang. Mereka sangat menikmati semua apa yang mereka lakukan pada saat itu. Bahkan ketika senja sudah tiba, saat matahari mulai tenggelam di ufuk barat.
Kali ini terlihat bibir sang pria mulai begerak, mencoba untuk mengatakan suatu hal yang harus ia katakan, hal yang pasti meskipun sulit.
“Aku sangat mencintaimu, Jingga. Tapi aku ga bisa terus berada di sini, aku harus meneruskan study ke luar negeri.” ucap Gilang sambil terus menatap Jingga, kemudian menggenggam tangannya erat.
“Jujur, ini berat untukku. Saat kamu jauh, semuanya akan terasa jauh lebih sulit.” jawab Jingga, air matanya mulai menetes.
“Maafin aku, Jingga. Aku ga mungkin menolak keputusan kedua orangtuaku.”
“Iya, aku mengerti. Kalau memang itu yang terbaik buat kamu, aku akan mendukung kamu.”
Kali ini sepertinya akan terasa berat bagi mereka dikala jarak harus memisahkan antara keduanya, dikala jarak harus menciptakan batas-batas yang tidak menutup kemungkinan akan membuat hubungan mereka menjadi renggang.
Kini Jingga maupun Gilang sangat menyadari akan hal itu, dikala cinta mereka akan dipertaruhkan untuk suatu hal yang mungkin akan lebih baik meski mereka tidak akan pernah tahu apa yang selanjutnya akan terjadi.
“Gilang…” ucap Jingga lirih sambil menyandarkan kepalanya di pundak Gilang.
“Apa ?”
“Aku cuma mau kamu tau kalau aku sayang sama kamu.”
“Aku juga sayang kamu, Jingga.”
***
Hari berganti hari, malam berganti siang, dan begitu pun dengan bumi yang terus berevolusi sehingga semua musim akan terus berganti. Tawa dan canda yang pernah ada pun kini telah berubah.
Sepi, sedih, dan sendiri. Seharusnya bukan begini yang Jingga inginkan. Yang ia inginkan hanya terus bersama Gilang, berbagi tawa dan canda bersamanya, berbagi kisah saat ada waktu luang, dan yang lainnya. Setidaknya dia bisa terus dekat dengan Gilang.
Namun kini tampaknya Gilang sudah mulai sibuk dengan aktifitas barunya di sana, di sebuah kota yang memiliki gaya arsitektur yang begitu mempesona, Roma.
Meskipun dalam hatinya, sesungguhnya Jingga sangat bersedih, namun kali ini ia tidak ingin mengambil pusing tentang hal itu. Sekarang Jingga pun akan memulai untuk memikirkan beberapa tugas kuliahnya yang mulai menumpuk dan harus segera diselesaikan.
“Bagaimana kabar Gilang, nak ?” tanya mama Jingga ketika beliau sedang menyiram bunga yang tumbuh subur di halaman belakang rumahnya.
“Gilang ? Mmm… Dia lagi sibuk kayaknya sih ma.” jawab Jingga santai sambil terus membaca buku yang baru dibelinya kemarin
“Tapi hubungan kalian baik-baik saja kan ? Kalian masih tetap berkomunikasi ?”
“Mmm lagi engga, ma. Kan udah aku bilang kalau dia mungkin lagi sibuk.”
“Padahal mama rindu sekali sama anak itu. Dia itu anak yang baik, ramah, sopan santun, dan yang paling penting dia paling bisa bikin kamu ketawa, nak.”
“Jingga juga kangen banget sama Gilang, ma. Paling kangen sama senyumnya deh!” jawab Jingga.
Seketika itu juga bayangan kenangan mereka terlintas di pikiran Jingga. Di saat keduanya masih sama sama duduk di bangku SMA dan saling dekat, bahkan tanpa jarak. Jingga sangat merindukan saat-saat itu, dimana Gilang akan selalu ada untuk Jingga di saat Jingga membutuhkan Gilang, di saat Gilang akan selalu berhasil membuat Jingga tersenyum saat Jingga sedang tidak mood, dan banyak lagi kenangan yang lainnya, sekecil apapun itu.
***
Saat jam dinding sudah menunjukkan pukul 10 malam dan Jingga belum juga bisa tertidur, ia kembali menatap ke sebuah bingkai foto yang berdiri di atas meja lampunya. Di sana terihat jelas Gilang sedang tersenyum sambil memainkan gitar akustik kesayangannya, memetik senar – senar tersebut menjadi alunan nada yang mereka favorite-kan. Sebuah lagu yang pernah dinyanyikan oleh sesosok penyanyi ternama bernama Mariah Carey, dan dinyanyikan kembali dengan sangat romantis oleh seorang David Cook. Ya, mereka sangat menyukai lagi itu, sebuah lagu berjudul “Always Be My Baby”.
You’ll always be part of me
I’m a part of you indefinitely
Girl, don’t you know you can’t escape me
Ooh darling, ’cause you’ll always be my baby
“Hidupku ada di kamu, Gilang. Begitu juga cintaku yang akan terus tumbuh padamu. Bahkan ketika senja akan menghilang dan berganti dengan langit malam, saat aku terjaga ataupun tertidur, hatiku takkan berhenti untuk mencintaimu.”
Tulisan yang menarik :)
ReplyDeleteterimakasih :)
Delete