Aku Merindukanmu, Mama...
Sore itu langit mulai mendung, angin pun mulai berhembus kencang sehingga daun-daun kering jatuh dari dahannya. Tetapi hal itu tak membuat seorang anak perempuan berambut panjang sebahu yang sedang duduk di bawah pohon sambil menikmati buku ceritanya gentar dan berpindah posisi. Dia tetap menikmatinya, saat rambut panjangnya yang lurus dan berwarna kecokelatan terus tertiup oleh angin. Meski rambutnya sudah tak karuan, ia tetap membiarkannya. Wajah itu terlalu lucu dan lugu saat itu.
Anak perempuan itu adalah Isabella. Isabella adalah anak tunggal dari salah seorang penghuni baru di salah satu rumah di perumahan itu. Ia tinggal bersama ayah dan seorang pengasuhnya, Ibu Delia. Sedangkan ibunya telah meninggal sejak lima tahun yang lalu setelah melahirkan dirinya.
Pengasuhnya, Ibu Delia sudah mengasuh Isabella sejak bayi. Bisa dibilang wanita paruh baya ini adalah pengganti sosok seorang ibu bagi Isabella. Setiap hari Ibu Delia selalu menemani Isabella, bahkan ketika ayahnya sedang lembur atau tugas keluar kota.
"Isabella, ayo kita pulang sayang. Sebentar lagi akan turun hujan nak." ucap Ibu Delia sambil membantu Isaella berdiri.
"Tapi Bella masih ingin di sini, bu. Bella belum selesai baca ceritanya." jawab Isabella.
"Nanti baca ceritanya diteruskan di rumah ya nak. Ayo, sekarang kita pulang ke rumah."
Isabella pun mengiyakan ajakan Ibu Delia untuk pulang ke rumah. Setibanya mereka di rumah, Isabella langsung masuk ke kamarnya dengan ditemani oleh Ibu Delia.
"Bu, di cerita ini si gadis berkerudung merah punya mama." ucap Isabella sambil menatap wajah Ibu Delia. Tatapannya begitu polos, tetapi terlihat kesedihan di sana.
"Memangnya kenapa, nak ?" tanya Ibu Delia sambil tersenyum.
"Tapi Bella ga punya mama, bu."
"Sayang, Bella juga punya mama kok nak. Setiap anak di dunia ini pasti memiliki seorang mama. Karena mama lah yang melahirkan kita ke dunia. Tanpa mama, Bella ga mungkin bisa ada di dunia ini, sayang." ucap Ibu Delia sambil membelai rambut Isabella lembut.
"Tapi Bella ga pernah liat mama, bu."
"Mamanya Bella ada di sini kok, sayang. Mamanya Bella akan selalu ada di hati Bella."
"Kalau mama ada di hatinya Bella, kok Bella ga bisa liat mama ? Bella mau ketemu sama mama, bu."
"Suatu saat nanti Bella pasti bisa ketemu sama mamanya Bella kok sayang." ucap Ibu Delia sambil tersenyum.
***
Siang ini seperti biasanya, Ibu Delia menjemput Isabella di Taman Kanak-Kanak. Dan seperti biasanya pula, wanita paruh baya itu tak pernah lupa membawa minuman kesukaan Isabella, yaitu susu rasa strawberry.
Dari luar, terlihat murid-murid Taman Kanak-Kanak itu berhamburan sambil tertawa bahagia menghampiri orangtuanya masing-masing. Dari jauh, terlihat Isabella sedang mengamati teman-temannya dengan wajah murung. Ibu Delia pun segera menghampiri Isabella yang sedang berdiri sambil mengamati teman sebayanya yang sedang memeluk papa dan mamanya sambil tertawa bahagia.
"Bella kenapa nak ? Eh iya, ibu bawa susu strawberry kesukaan Bella lho." ucap Ibu Delia sambil mengeluarkan segelas susu strawberry dari dalam tas nya.
"Bella ga mau susu, bu."
"Terus Bella maunya apa, sayang ?"
"Bella kangen mama sama papa. Bella mau dijemput sama mama dan papa kalau pulang sekolah, bu."
"Bella sayang, dengerin ibu ya nak. Mama ga mungkin bisa jemput Bella lagi, sayang. Mama udah bahagia di sisi Tuhan. Nah kalau papa kan lagi sibuk cari uang buat Bella. Lagian kan masih ada ibu yang selalu jemput Bella." ucap Ibu Delia sambil tersenyum.
"Ibu, mama Bella udah ga sayang sama Bella ya ? Habisnya Bella ga pernah liat mama. Mama juga ga pernah main ke rumah buat nengokin Bella sama papa, terus mama juga ga pernah jemput Bella ke sekolah." ucap Bella. Kali ini ia mulai terisak, matanya pun berkaca-kaca.
"Nak, mamanya Bella sayang banget sama Bella. Buktinya mama ngizinin Bella untuk tinggal di rahimnya selama sembilan bulan, melahirkan Bella dangan susah payah, dan membiarkan Bella hidup di dunia ini sebagai karunia-Nya yang terindah."
"Terus kenapa mamanya Bella ga pernah ada buat Bella ? Bella kan mau ketemu mama, bu."
"Nak, mamanya Bella itu udah ga ada. Beliau sudah meninggal dan bahagia di sisi Tuhan. Dan orang yang udah meninggal, ga akan pernah bisa untuk kembali lagi nak."
Isabella pun langsung memluk Ibu Delia dan menangis di dalam sana. Kali ini ia benar-benar merasakan kesedihan sekaligus kasih sayang yang besar.
*TO BE CONTINUED*
Anak perempuan itu adalah Isabella. Isabella adalah anak tunggal dari salah seorang penghuni baru di salah satu rumah di perumahan itu. Ia tinggal bersama ayah dan seorang pengasuhnya, Ibu Delia. Sedangkan ibunya telah meninggal sejak lima tahun yang lalu setelah melahirkan dirinya.
Pengasuhnya, Ibu Delia sudah mengasuh Isabella sejak bayi. Bisa dibilang wanita paruh baya ini adalah pengganti sosok seorang ibu bagi Isabella. Setiap hari Ibu Delia selalu menemani Isabella, bahkan ketika ayahnya sedang lembur atau tugas keluar kota.
"Isabella, ayo kita pulang sayang. Sebentar lagi akan turun hujan nak." ucap Ibu Delia sambil membantu Isaella berdiri.
"Tapi Bella masih ingin di sini, bu. Bella belum selesai baca ceritanya." jawab Isabella.
"Nanti baca ceritanya diteruskan di rumah ya nak. Ayo, sekarang kita pulang ke rumah."
Isabella pun mengiyakan ajakan Ibu Delia untuk pulang ke rumah. Setibanya mereka di rumah, Isabella langsung masuk ke kamarnya dengan ditemani oleh Ibu Delia.
"Bu, di cerita ini si gadis berkerudung merah punya mama." ucap Isabella sambil menatap wajah Ibu Delia. Tatapannya begitu polos, tetapi terlihat kesedihan di sana.
"Memangnya kenapa, nak ?" tanya Ibu Delia sambil tersenyum.
"Tapi Bella ga punya mama, bu."
"Sayang, Bella juga punya mama kok nak. Setiap anak di dunia ini pasti memiliki seorang mama. Karena mama lah yang melahirkan kita ke dunia. Tanpa mama, Bella ga mungkin bisa ada di dunia ini, sayang." ucap Ibu Delia sambil membelai rambut Isabella lembut.
"Tapi Bella ga pernah liat mama, bu."
"Mamanya Bella ada di sini kok, sayang. Mamanya Bella akan selalu ada di hati Bella."
"Kalau mama ada di hatinya Bella, kok Bella ga bisa liat mama ? Bella mau ketemu sama mama, bu."
"Suatu saat nanti Bella pasti bisa ketemu sama mamanya Bella kok sayang." ucap Ibu Delia sambil tersenyum.
***
Siang ini seperti biasanya, Ibu Delia menjemput Isabella di Taman Kanak-Kanak. Dan seperti biasanya pula, wanita paruh baya itu tak pernah lupa membawa minuman kesukaan Isabella, yaitu susu rasa strawberry.
Dari luar, terlihat murid-murid Taman Kanak-Kanak itu berhamburan sambil tertawa bahagia menghampiri orangtuanya masing-masing. Dari jauh, terlihat Isabella sedang mengamati teman-temannya dengan wajah murung. Ibu Delia pun segera menghampiri Isabella yang sedang berdiri sambil mengamati teman sebayanya yang sedang memeluk papa dan mamanya sambil tertawa bahagia.
"Bella kenapa nak ? Eh iya, ibu bawa susu strawberry kesukaan Bella lho." ucap Ibu Delia sambil mengeluarkan segelas susu strawberry dari dalam tas nya.
"Bella ga mau susu, bu."
"Terus Bella maunya apa, sayang ?"
"Bella kangen mama sama papa. Bella mau dijemput sama mama dan papa kalau pulang sekolah, bu."
"Bella sayang, dengerin ibu ya nak. Mama ga mungkin bisa jemput Bella lagi, sayang. Mama udah bahagia di sisi Tuhan. Nah kalau papa kan lagi sibuk cari uang buat Bella. Lagian kan masih ada ibu yang selalu jemput Bella." ucap Ibu Delia sambil tersenyum.
"Ibu, mama Bella udah ga sayang sama Bella ya ? Habisnya Bella ga pernah liat mama. Mama juga ga pernah main ke rumah buat nengokin Bella sama papa, terus mama juga ga pernah jemput Bella ke sekolah." ucap Bella. Kali ini ia mulai terisak, matanya pun berkaca-kaca.
"Nak, mamanya Bella sayang banget sama Bella. Buktinya mama ngizinin Bella untuk tinggal di rahimnya selama sembilan bulan, melahirkan Bella dangan susah payah, dan membiarkan Bella hidup di dunia ini sebagai karunia-Nya yang terindah."
"Terus kenapa mamanya Bella ga pernah ada buat Bella ? Bella kan mau ketemu mama, bu."
"Nak, mamanya Bella itu udah ga ada. Beliau sudah meninggal dan bahagia di sisi Tuhan. Dan orang yang udah meninggal, ga akan pernah bisa untuk kembali lagi nak."
Isabella pun langsung memluk Ibu Delia dan menangis di dalam sana. Kali ini ia benar-benar merasakan kesedihan sekaligus kasih sayang yang besar.
*TO BE CONTINUED*
no comment
ReplyDeleteLah itu comment
ReplyDeleteKarangan yg sangat menarik rum tapi kalau diganti judulnya "aku merindukanmu, papa" mungkin lebih menarik lagi :
ReplyDelete