Forever Love



Aku menulis surat itu dalam kesedihan, di tengah rintik hujan yang mengguyur seluruh tubuku hingga hampir beku. Aku tak peduli jika tangisanku pecah saat itu, aku yakin hujan akan menghapusnya, merubahnya menjadi senyuman ketika tiba saatnya nanti aku harus pergi.

Malam ini jam baru menunjukan pukul 8 malam, tetapi tak ada satu pun orang yang ingin berada di taman ketika hujan lebat saat malam hari, kecuali aku. Aku yang lemah dan selalu mengalah pada keadaan, aku yang hidup sebagai pecundang, bahkan hingga saatnya aku hampir mati karena penyakit ini.

Tiba-tiba ponselku berdering

"Lo dimana, Risma? Kenapa lo belum balik juga?" ucap suara dari seberang. Dia adalah Indah, sahabatku sejak kecil, bahkan kami telah menghabiskan banyak waktu bersama.

"A-a-akuuu..." ucapku dengan suara terisak.

"Udah, lo jawab aja sekarang lo dimana. Mau gue jemput? Ini udah malam, lagian hujan deras, gua ga mau lo kenapa-kenapa."

"Ga usah ndah. Sebentar lagi aku pulang kok, aku cuma butuh waktu sendiri untuk saat ini. But thanks for your attention." ucapku sambil memutuskan pembicaraan.

Waktu sepertinya tak pernah bisa berdamai dengan perasaanku. Meski sudah lama aku berdiam diri di sini, aku belum juga bisa menghapus  setiap kesedihan yang mengisi setiap rongga dalam hatiku. Tapi kali ini aku memang benar-benar harus pulang, aku harus kembali ke rumah karena aku tidak ingin membuat bunda khawatir padaku. Apalagi setelah dia tau bahwa aku mengidap penyakit kanker otak stadium akhir, sifatnya padaku berubah 180 derajat. Bahkan dia rela untuk berhenti dari profesinya sebagai karyawan di salah satu bank swasta besar di Indonesia hanya demi aku.

***

Saat jam telah menunjukkan pukul dua-belas malam, akhirnya aku sampai juga di pelataran  sebuah rumah yang sudah sangat sepi, kemudian aku memarkirkan mobilku di sana. Aku pun turun dari mobil, dan melewati beberapa anak tangga di hadapanku. Selang beberapa saat, aku mengetuk pintu rumah itu. Sepi sekali, seperti tak berpenghuni.  Tak lama, seseorang membukakannya untukku.

"Kamu dari mana aja, sayang? Bunda nungguin kamu, bunda khawatir sama kamu. Lain kali kalau mau kemana-mana, bilang sama bunda. Kan bunda bisa nemenin kamu."

"Bunda, bunda ga perlu khawatir ya sama Risma. Sekarang Risma baik-baik aja kok."

"Ta-tapi kamu lagi sakit sayang, dan...."

"Bun, Risma tau kalau Risma emang lagi sakit. Tapi Risma ga mau bunda terlalu khawatir sama Risma. Bunda ingat apa kata dokter tentang Risma? Umur Risma ga akan lama lagi, bunda. Cepat atau lambat Risma akan mati karena penyakit ini." ucapku sambil menangis. Saat itu aku sudah tidak dapat membendungnya lagi, apalagi ketika aku melihat bunda yang begitu menyayangiku. Aku pun kasihan terhadap bunda. Jika aku pergi nanti, bunda akan sendirian. Ayah sudah meninggal sejak aku masih berada di dalam kandungan karena mengidap penyakit yang sama denganku, sedangkan kakakku pun sudah meninggal dua tahun yang lalu karena kecelakaan lalu lintas.

"Sayang, kamu ga boleh berbicara seperti itu. Kamu harus semangat, kamu masih punya harapan. Bunda mohon kamu harus berusaha melawan penyakit kamu itu demi bunda, demi Hangga. Kami sangat mencintaimu, sayang."

Ya, akhirnya lagi-lagi nama Hangga yang harus kudengar. Sebenarnya hatiku menjerit mendengar nama itu lagi, bahkan hatiku tak sanggup lagi untuk membayangkannya. Aku sangat mencintainya, bahkan aku sangat ingin terus bersamanya. Dia adalah satu-satunya pria yang pernah aku cintai di dunia ini selain Alm ayahku. Namun demi menjaga perasaannya, selama aku sakit, aku tak pernah menemuinya lagi. Aku harus berpura-pura pergi dari hidupnya, aku harus berpura-pura menjadi diri orang lain dan juga berpura-pura untuk berhenti mencintainya. Aku tidak ingin menambah beban dalam hidupnya, membuatnya khawatir karena penyakitku, dan membuatnya bersedia untuk membuang waktunya demi seorang gadis pengidap kanker yang sedang menanti kematiannya.

"Bunda, tolong jangan sebut nama itu lagi. A-aku sudah..."


"Sayang, kamu tidak akan pernah bisa membohongi bunda. Bunda bisa merasakannya dengan jelas. Bunda yang mengandungmu, yang melahirkanmu, dan bunda yang sudah membesarkanmu dengan susah payah selama duapuluh-tiga tahun."


"Bun, aku ga mau berdebat. Aku mau tidur." ucapku sambil berjalan menuju kamarku.


***


Hari berganti hari, dan kini hanya tinggal aku bersama bayanganku. Hariku semakin sunyi tanpanya. Aku rindu semua kenangan itu, setiap saat kebersamaanku dengannya. Tapi apa daya? Aku memang benar-benar harus melupakannya dan merelakannya untuk mendapatkan hidup barunya, meski tanpa aku. Ya, TANPA AKU. Tanpa aku ? Ya, sekarang apalah artinya aku ? Aku hanya seorang pecundang yang terus menyerah pada keadaan dan hampir mati karena penyakitku, aku lemah.


Siang itu aku berbaring di atas tempat tidurku. Tapi 'tempat tidur' ku saat itu bukan lagi tempat tidur yang biasa membuatku nyaman dan mampu membuatku melupakan segala rasa penat akibat aktifitas sehari-hari. Sekarang 'tempat tidur' ku telah berganti menjadi sebuah ranjang kecil yang mengisi salah satu ruangan di sebuah rumah sakit tempatku dirawat. Sudah dua minggu aku berada di sini, menjadi seperti mayat hidup yang hanya mampu berbaring tanpa sanggup melakukan apa-apa. Tengah malam itu, saat aku baru  saja ingin merebahkan tubuhku di atas tempat tidur, tiba-tiba kepalaku terasa begitu sakit, bayanganku kabur, lalu beberapa kali aku muntah hingga akhirnya aku tak sadarkan diri. Kata bunda, dia mendengar suara seperti benda jatuh dari arah kamarku. Setelah dilihatnya, aku sudah tergeletak di lantai dengan luka sobek di dahi karena membentur lantai.

"Bagaimana kondisimu ? Masih sakit ?" tanya seorang pria dengan tubuh tinggi tegap yang sedang berdiri di hadapanku. Dia adalah Hangga, cinta pertama sekaligus yang terakhir bagiku sebelum kematian. Caranya ketika berbicara, caranya ketika tersenyum, kedewasaannya membuatku sangat ingin terus berada di sampingnya. Namun sekarang harus aku menepis jauh-jauh rasa itu. Aku tidak ingin egois. Dia masih sehat, dia tampan, hampir sempurna, bahkan aku tidak pantas untuk bersamanya lagi.


"Buat apa kamu kesini ? Sana kamu pulang, jangan di sini. Tempat ini ga pantas untuk kamu."


"Ternyata saat sakit, kamu masih sempat ya buat marah-marah sama aku. Kamu lucu deh kalau lagi marah kayak sekarang ini." ucapnya sambil tertawa kecil.


Sesungguhnya aku sangat merindukan saat- saat seperti saat itu, saat dia berusaha untuk menggodaku, dan aku berhasil dibuat tertawa olehnya. Tapi sekali lagi, waktu tak kan pernah bisa berdamai dengan keadaan. Dia akan membawaku terbang, kemudian menghilang.


"Please, Ngga. Aku mohon kamu pergi. Biarin aku tenang di sini, aku mau istirahat."


"Risma, aku mohon kamu jangan bohongin perasaan kamu sendiri. Kamu mungkin bisa bersikap kayak gini sama aku, tapi mata kamu ga akan pernah bisa bohong. Aku tau kok kamu masih sayang sama aku, sama seperti aku yang akan terus menyayangi kamu." ucapnya tiba-tiba sambil menggenggam tanganku erat, hangat dan nyaman. Dan kali ini ia menangis untuk pertama kalinya di hadapanku. Aku speechless, aku tidak tau haru berkata apa saat itu. Aku sangat menikmati saat-saatku berada di dekatnya. Karena itu akan membuatku merasa sangat aman dan nyaman.


"Risma, kamu ga perlu khawatir kalau dokter bilang umur kamu ga akan lama lagi. Dokter itu bukan Tuhan, Ris. Sekarang kamu hanya perlu bersemangat untuk menjalani semuanya. Kamu hanya perlu berdoa dan berusaha untuk melawan penyakitmu. Aku ada di sini, dan aku mencintaimu. Kamu jangan takut, aku akan selalu ada untuk kamu dan mencintai kamu. Aku ga peduli bagaimanapun keadaan kamu sekarang, Ris. Aku tetap mencintai kamu." ucapnya sambil tetap menggenggam tanganku, hangat.


Hatiku terasa ditusuk jarum, perih. Mataku pun terasa panas, aku tak dapat menahan air mataku lagi. Aku langsung memeluk tubuhnya yang tegap, bersentuh dengan tubuhku yang sudah lemah dan terlihat sangat berbeda.


"Maafin aku, Ngga. Maafin aku karena selama ini aku udah ngejauh dari kamu, maafin juga aku udah bohongin kamu. Aku cuma ga mau ngerepotin kamu, Ngga. Aku ga mau kamu sedih di saat kepergianku nanti."


"Engga, Ris engga. Aku ga akan pernah merasa direpotkan sama kamu." ucapnya sambil tersenyum.


***


Ketika mentari baru saja tenggelam di ufuk barat, aku menemukan diriku kembali tak berdaya. Tiba-tiba kepalaku sakit, dan rasanya tubuhku terasa sangat ringan seperti kapas. Aku serasa menari-nari di udara, kemudian aku melihat jasadku sudah dipenuhi oleh darah yang bercampur muntahan yang keluar dari mulut. Aku pun melihat bundaku menangis dan berteriak memanggil dokter seperti orang kesetanan. Selang beberapa saat, seorang dokter yang biasa merawatku datang bersama beberapa orang perawat. Mereka seperti bermain dengan tubuhku yang sudah terlihat sangat pucat seperti orang mati, sedangkan bunda menunggu di luar ruangan bersama Hangga dan Indah yang baru saja datang. Aku melihat ada kekhawatiran yang sangat amat di dalam hati bunda, itu tampak sangat jelas dari raut wajahnya. Bibirnya pun tak henti-henti memanjatkan doa-doa untuk kesembuhanku hingga akhirnya dokter selesai melakukan tugasnya dan keluar ruangan.


"Bagaimana keadaan Karisma, dok ? Apa dia baik-baik saja ? Atau bagaimana ? Tolong ceritakan pada saya, dok."


Samar-samar aku mendengarkan percakapan mereka dari luar ruangan. Aku dengar dokter mengatakan bahwa aku telah pergi, pergi untuk selama-lamanya karena pada akhirnya aku tak sanggup melawan kanker otak yang aku derita selama ini. Dan aku melihat bunda seperti orang yang hilang arah. Dia menangis, berteriak memanggil namaku, kemudian ia tidak sadarkan diri. Tapi tak apa, aku lihat masih ada Indah di sana yang mampu menjaga bunda untukku. Aku yakin Indah bersedia menyayangi bunda untukku, sahabat kecilnya. Sedangkan Hangga berjalan pelan mendekat ke arah jasadku. Yang terlihat nafasnya seperti tersengal, air matanya tak henti-hentinya jatuh dari pipi. Kemudian dia menggenggam tanganku erat. Tapi kali ini aku tidak dapat merasakan kehangatannya lagi, kehangatan yang selalu berhasil ia ciptakan di antara kami.


"Selamat jalan, sayang. Cintaku akan terus menyertaimu, menemanimu menuju surga. Terimakasih telah mencintaiku hingga akhir hayatmu. Semoga cinta kita abadi. Dan semoga  kita dapat dipertemukan kembali suatu saat nanti. Tangan Tuhan akan menyatukan kita kembali, percayalah." ucap Hangga sambil memeluk jasadku erat.


Kemudian Indah datang, memberikan sepucuk surat terakhirku untuk Hangga yang telah berhasil aku susun dan kutulis dalam secarik kertas pada malam itu, di tengah hujan deras yang melengkapi kesunyian dan kesepianku.


Dear Hangga,

Maybe after you've read this letter, I've gone. But don't worry, I'll be there for you forever. Maybe you'll never see me again, but trust that you can still feel me. Hangga, I'm glad that I've been yours. I'm happy that I love you, and always. And I want you to know that I never wanted like this, I wanna be forever with you and keep our relationship. But, what can I do if God never allow us ? I must go, forever. Please, forget me. I want you to move on and love another one. I want you to be happy without me, and I hope that you can still be yourself. Life must go on, so don't ever look back :)



                                               With love,


Karisma


Aku pun melihat Hangga menangis, kemudian ia menciumi keningku. Aku tau hatinya sangat hancur waktu itu. Tapi apalah dayaku ? Aku hanyalah seorang arwah yang sudah tak sanggup lagi untuk menggapainya, apalgi memberikannya beberapa petuah untuk tetap tegar. Namun aku yakin suatu saat nanti dia akan kembali berdiri tegap dan menatap dunia dengan keceriaannya yang baru, meski tanpa aku.

Risma, my love for you as long as my life. I'll never stop it, my love will always grow up. I might not be with you, but my heart always belongs to you. I love you, forever and ever.

Comments

Popular Posts