Hujan Menangis

Malam itu malam Minggu, hujan turun dengan derasnya membasahi kami berdua. Saat berteduh di pelataran ruko yang sudah tutup di pinggir jalan, aku mencoba meliriknya, kaos putih dan celana jeansnya basah kuyup. Saat itu jam tanganku telah menunjukkan pukul duabelas malam. Aku semakin tidak enak padanya, pasalnya tadi sebelum kami berangkat, aku yang memintanya untuk tidak pergi dengan mobil, tetapi dengan motorku karena akan lebih menghemat waktu. Kami berdua hanya diam mematung sambil menatap hujan yang tak kunjung mereda. Aku tak berani menatapnya, apalagi harus memulai pembicaraan terlebih dahulu.

Udara dingin malam itu semakin menjadi, menusukku hingga ke tulang, bibirku pun gemetar karena kedinginan. Meski telah kugesek-gesekkan kedua telapak tanganku berulang kali, dingin itu sama sekali tidak berkurang. Hatiku pun semakin bergejolak, ingin rasanya aku memintanya untuk mendekap tubuhku, setidaknya untuk mengurangi hawa dingin yang aku rasakan. Tapi bibirku masih saling mengatup dan belum mau terbuka, aku masih merasakan perasaan itu, perasaan bersalah karenanya.

"Nila..." ucapnya tiba-tiba memanggil namaku dengan nada setengah berbisik, aku terdiam.

"Kamu kedinginan?" tanyanya, dan aku hanya mengangguk.

Dengan segera ia meraih kedua tanganku untuk diletakkan di kedua pundaknya.

"Aku peluk ya? Aku ga bawa jaket, jadi aku ga bisa meminjamkannya sama kamu." ucapnya lagi, kemudian ia memelukku.

Tubuhnya yang sepuluh sentimeter lebih tinggi dariku mendekat ke arahku, kemudian kedua tangannya diletakannya di pinggulku, sedangkan aku meletakkan kepalaku di dadanya. Ketika itu aku dapat mencium aroma tubuhnya dari jarak yang sangat dekat sekaligus merasakan kehangatan yang berhasil ia ciptakan, sebuah kenyamanan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya.

"Ras, maafin aku. Aku udah bikin semuanya jadi kacau begini. A-aku...." belum sempat aku menyelesaikan perkataanku, ia malah mengencangkan pelukannya. Sungguh baru kali ini aku tak kuasa untuk menolak, aku sangat mencintainya.

"Kamu jangan merasa bersalah seperti itu, Nil. Kamu ga salah, semuanya akan baik-baik aja." ucapnya dengan tenang.

"Tapi kamu lagi sakit, Ras."

"Sakit apa? Kamu bisa lihat kalau aku baik-baik aja, kan?"

Hatiku semakin miris sekaligus terkesima pada sosoknya yang saat ini sedang berdiri sangat dekat di hadapanku. Tak henti-hentinya aku menatap wajahnya yang pucat pasi sambil menangis.

Ya Tuhan, aku sungguh tak kuasa untuk menatapnya seperti ini. Bagaimana bisa aku melihat lelaki yang aku cintai terus-terusan menahan rasa sakitnya? Bagaimana bisa aku membiarkannya berjuang sendirian untuk melawan rasa sakitnya? Jikalau Tuhan mengizinkan, biarkan saja aku yang mengalaminya, setidaknya itu akan mengurangi penderitaan di hidupnya.

"Kenapa kamu menangis? Ga ada yang perlu ditangisi, sayang. Kan udah aku bilang, semuanya akan baik-baik aja, jangan khawatir." ucapnya lirih, kemudian kedua tangannya bergerak untuk menghapus air mataku.

"Kenapa kamu terus mempertanyakan ini, Firas?! Kenapa kamu terus berkata seperti itu? Aku sayang sama kamu, aku cinta sama kamu, aku suka kamu, aku tergila-gila karenamu! Terus kamu masih nanya aku ini menangis karena apa?!" jawabku setengah berteriak, sedangkan dia hanya tersenyum.

Dia pun meletakkan satu jari telunjuknya di ujung bibirku, mendekatkan wajahnya dengan wajahku, semakin dekat sehingga aku dapat merasakan setiap hembusan nafasnya. Tak lama, hangat bibirnya mendarat tepat di bibirku, kondisi itu bertahan hingga beberapa saat. Untuk pertama kalinya aku merasakan itu, dengannya aku seperti menembus dinding yang seharusnya tidak aku lakukan. Akan tetapi, cinta itu memang penuh dengan pembodohan. Seperti ombak di lautan, semakin kita terlena, maka semakin besar kemungkinan kita akan tenggelam.

***

Hari ini tepat setahun kepergiannya, mengingatkanku akan segala kenangan manis bersamanya dulu. Aku masih dapat merasakannya, aku yakin jiwanya masih ada di sini meski raganya telah pergi bersama peti mati yang terkubur di dalam tanah.

"Kenapa kamu masih di sini? Semua orang udah berkumpul di bawah, Resa juga udah nungguin kamu daritadi." ucap seseorang yang tiba-tiba datang ke kamarku, dia adalah kakak perempuanku, Arina.

Aku pun segera menghapus air mataku, kemudian berkaca dan merapihkan tatananku saat ini. Di dalam cermin, aku bukan lagi menatap diriku yang dulu, aku telah berubah. Aku telah kehilangan sosok diriku yang sesungguhnya, setelah hari kematiannya. Meski terkadang aku masih dapat merasakan hangat tubuhnya di sisiku, tapi kenyataannya tetap berubah, dia telah pergi dan tak dapat aku peluk lagi. Aku tak mungkin menggapainya seperti dulu, saat dia masih ada disini untuk mencintaiku.

"Firas udah lama meninggal, Nil. Dan kamu ga bisa terus-terusan bersedih kayak gini. Lagipula sebentar lagi kamu akan menikah dengan Resa. Mau sampai kapan kamu tersiksa seperti ini?" ucap Arina.

"Apa kakak pernah merasa kehilangan seseorang yang sangat kakak cintai untuk selama-lamanya? Apa kakak pernah dituntut harus merelakan orang yang sangat kakak cintai terkubur di dalam tanah yang gelap dan sendirian? Dia belum pergi, kak! Dia masih hidup di sini, di hatiku. Perasaanku masih sama kak, sama sekali belum berubah."

"Semua yang udah terjadi biarkan terjadi, Nil. Kamu ga bisa mengubah ketentuan Tuhan. Sekarang ayo kita ke bawah dan segera memulai acara pernikahan kalian."

"Kakak pikir aku akan bahagia bersama Resa? Rasa bahagiaku telah mati, kak."

***

Aku berjalan tanpa arah, sendirian melewati gedung-gedung tua yang membisu di kanan dan kiri jalan. Seseorang yang sedari tadi bersamaku kubiarkan berjalan sendirian beberapa meter di belakangku, dibatasi oleh jarak yang aku ciptakan.

"Nila! Kita mau kemana lagi? Udah malam, Nil." teriak Resa memanggilku.

"Kalau kamu capek, yaudah tunggu di mobil aja. Atau kalau kamu mau pulang, yaudah pulang sendiri. Kamu ga perlu capek-capek ikutin aku. Jangan jadiin aku beban kamu, Res." jawabku sambil terus berjalan.

"Kamu pikir aku setega itu, Nil? Apa aku gila? Kamu istriku!"

Aku pun menghentikan langkahku dan berbalik arah menghampirinya. Kulihat wajahnya telah dipenuhi keringat yang mengucur dari dahi, ternyata udara dingin malam itu tak tampak berpengaruh baginya.

"Kenapa kamu mau menikahi aku, Res? Kenapa?!" tanyaku dengan suara gemetar, rasanya air mataku akan tumpah saat ini juga.

"Karena aku sangat mencintai kamu, Nila. Kamu udah sering bertanya seperti itu, kan? Jawabanku pasti akan tetap sama, Nil." jawabnya kemudian mendekat ke arahku.

Air mataku pun sudah tak tertahankan lagi, mengalir begitu saja di pipiku, kemudian kering disapu angin malam.

"Apa kamu ga tau kalau aku masih sangat mencintai Firas, Res? Perasaanku sama dia belum berubah. Semakin ingin aku menghapusnya, bayangannya selalu hadir dan semakin mengacaukan aku. Aku lelah seperti ini, Res."

Resa pun semakin mendekatkan posisinya, kemudian memelukku erat hingga beberapa saat, dan menghapus air mataku yang tak kunjung berhenti.

"Nila, aku tuh tulus mencintai kamu. Aku ga berharap lebih karena aku tahu kamu masih sangat mencintai Firas, tapi aku akan sabar buat nunggu kamu, Nil. Aku yakin suatu saat kamu akan mencintai aku."

Aku pun memejamkan mataku, merasakan setiap hembusan angin malam yang menyapu setiap debu, termasuk lukaku yang perlahan terkikis. Aku pasrah, aku tahu dia tak mungkin akan kembali, tak akan pernah sampai kapan pun.

Aku pun mendekatkan tubuhku dengan tubuh Resa yang berdiri tepat di hadapanku, sangat dekat. Aku memeluknya dengan erat, dan merasakan setiap detak jantungnya. Aku mendongakan kepalaku.

"Cium aku, Res." ucapku sambil menangis.

Hanya selang beberapa saat, aku dapat merasakan hangat bibirnya menyentuh bibirku, aku pasrah dan membiarkan setiap lukaku luntur bersama kenangan pahit masa lalu. Aku ingin menemukan diriku lagi, menyatukan setiap kepingan yang telah hilang, menyatukan sayap-sayapku yang patah karena cinta.

"I'll do anything for you, because I wanna be your happiness. Please be with me, I want it as long as forever." ucap Resa sambil membisikannya di telingaku.

"Kiss me and don't ever stop. Let me feel your love, and love me as deep as ocean, as high as blue sky."

"I promise, I'll keep you. My life will seems brighter only with you"

*

Comments

Popular Posts