An Angel Called Mama

Hampir tujuhbelas tahun yang lalu aku dilahirkan ke dunia ini oleh seorang wanita yang begitu tulus hatinya untuk mencintaiku. Ia rela bertaruh mengorbankan jiwa dan raganya demi melahirkanku, menjadikanku ada di dunia ini. Itu bukanlah suatu perkara yang mudah; kesakitan, kecemasan semuanya bercampur aduk menjadi satu.

Beliau sering bercerita ketika dulu, saat aku masih berada di dalam kandungannya, ia sangat mengharapkan kehadiranku sebagai anak pertama, buah hati dari pernikahannya bersama seseorang yang kupanggil Papa. Ia selalu berdoa agar nanti, jika tiba saatnya aku dilahirkan, aku akan selamat dan sehat. Hingga tiba saatnya, waktu itu pada tanggal 28 Februari 1997 pukul 01.00 WIB aku lahir ke dunia ini. Ia berkata padaku bahwa hari itu adalah hari dimana kebahagiannya bertambah dan lengkap. Aku dilahirkan normal dengan bobot 4,3 kilogram dan panjang 51 cm sebagai bayi perempuan. Proses persalinan yang tak mudah tidak membuat beliau gentar. Ia terus berjuang, bahkan tak pernah mengeluh. Itulah alasannya mengapa beliau sangat mengasihiku.

Aku pun tumbuh menjadi sosok balita yang sangat ia kasihi. Meskipun beliau adalah wanita karier yang telah merintisnya sejak usia muda, beliau tak pernah lupa pada kewajibannya. Bahkan dulu, saat aku belum duduk di bangku Taman Kanak-Kanak, ia sering mengajakku ke kantornya, bekerja sambil menyambi untuk memomongku. Meskipun dulu ada seseorang yang merawatku di rumah, tapi tampaknya beliau memang lebih suka jika merawatku langsung seorang diri. Ia berjuang membesarkanku. Sebagai pegawai muda yang upahnya belum seberapa, beliau benar-benar berjuang. Beliau bahkan jarang memikirkan dirinya sendiri, yang beliau pikirkan hanyalah bagaimana caranya mencukupi asupan gizi bagiku. Dia adalah seorang ibu yang benar-benar protective, bahkan hal sekecil apapun yang menyangkut tentangku benar-benar diperhatikannya.

Suatu ketika saat usiaku baru 2 tahun, aku jatuh sakit. Aku divonis dokter terjangkit DBD. Beliau menangis, bahkan aku masih ingat betul tangisan itu. Ketika kaki kananku harus dibedah untuk mencari saluran infus di IGD, sedangkan orang-orang yang berada di sekitarku, yang juga terjangkit penyakit yang sama banyak yang tidak tertolong. Aku ingat betul mimik wajahnya saat itu, ketika aku menangis kesakitan karena obat bius yang diberikan oleh dokter tidak mampu bekerja secara sempurna pada tubuhku. Selama tujuh hari lamanya aku diopname, dan selama itu pula ia tidak keluar gedung rumah sakit dan melihat matahari. Ia selalu menemani dan menjagaku, baik siang maupun malam. Bahkan beliau pun sangat kurang tidur untuk merawatku, meladeni setiap rengekanku di tengah malam yang sekedar kegerahan atau bahkan saat suhu tubuhku naik.

Dan sekarang ketika aku tumbuh menjadi seorang remaja, beliau sangat setia mendampingiku. Dengan sabarnya beliau mendengar semua keluh kesahku, beliau tak pernah bosannya mendengar curhatanku, bahkan ketika soal cinta sekalipun. Beliau adalah satu-satunya orang yang paling aku percaya di dunia ini. Beliau adalah seorang ibu sekaligus sahabat yang baik. Beliau adalah sosok ibu yang bijak, yang mau menegur dan menasihatiku di saat aku salah.

Sebagai anak, aku mungkin sangat jauh dari kata sempurna manakala aku sering beradu argument dengan beliau. Namun meskipun begitu, di dalam hatiku, aku sangat bersyukur memiliki seorang ibu sperti mama. Mama yang selama ini telah setia merawatku, berkorban waktu dan tenaga untukku dan adik, seorang wanita karier yang tetap mengutamakan anak-anak yang dicintainya.

Dear mama,
Thank you so much for everything you gave to me.
You gave birth,
You give me your affection,
You give me your love,
You give me your time,
You give me your attention,
You always understand me,
Always care about me,
You never leave me as anyone else did,
You always accompany me,
You always there when I need you so much,
You always listening to me,
And In this mother's day,
I just wanna say to you that I really love you, but I might not love you as much as you love me.
And when that day is arrive, the day when I die, I just want you to know that I'm really glad and proud to be your daughter.
I save you in the deepest place which is called my heart :*


                                                         
                                                                                                                                 Love,
                                                                                                                                Your oldest <3

Comments

Popular Posts