Penantian Panjang

Menunggu...
Bukankah menunggu adalah suatu tindakan yang paling membosankan?
Sesuatu yang selalu dikaitkan dengan ketidakpastian,
Ketidakpastian yang akan membawa kegundahan di dalam hati.
Lalu kenapa? Kenapa aku masih rela melakukannya untukmu?
Menunggumu, dan merelakan yang lainnya pergi, hilang, dan tak kembali.
Inikah yang mereka katakan cinta? Atau memang hanya sekedar obsessi belaka?
Tapi, apakah obsessi segila ini? Apakah obsessi semenyakitkan ini? Dan apakah sekedar obsessi membutuhkan pengorbanan sebesar ini?

                                                                     ***

Aku berjalan mengikuti hembusan angin yang membawa langkahku semakin jauh. Aku tak tahu arah, hanya mencoba untuk mengikuti saja hingga waktu yang akan menjawab kemana angin kan membawaku merintangi jalan setapak ini. Tak ada pertanyaan, apalagi jawaban. Kita sama-sama saling membisu dalam keraguan, tanpa sepatah katapun, tanpa kepastian.

Melihat senyumnya, tawanya, candanya membuatku semakin tenggelam dalam suatu kondisi yang tak dapat kusebut itu apa. Terkadang berada di dalam kondisi seperti ini adalah  hal yang menyenangkan, dimana aku bebas melakukan apa saja yang aku inginkan, termasuk mencinta dibalik tawa dan canda yang telah berhasil kita ciptakan. Dan bahkan sebaliknya, di saat aku hanya bisa memuja dibalik keheningan yang juga berhasil kita ciptakan, menyebut sebuah nama dalam doa tanpa perlu diketahui oleh sang pemiliknya, KAMU.

"Mau sampai kapan begini? Apa salahnya sih bilang aja tentang perasaan lo ke dia?" selalu pertanyaan yang sama yang keluar dari mulut sahabat dekatku, Tias.

"Gue cuma takut kalau seandainya gue bilang ke dia, hubungan gue sama dia malah semakin renggang. Dan itu pasti bakalan lebih nyiksa." dan selalu jawaban yang sama yang keluar dari mulutku, jawaban yang telah tertanam kuat di dalam pikiranku.

"Lea sayang, apa salahnya sih bilang? Coba deh, daripada keduluan sama yang lain."

Selalu percakapan yang sama dengan orang yang sama. Hal ini membuatku semakin muak sampai-sampai aku tidak tahu harus berkata apalagi. Banyak dari mereka bilang bahwa saat ini sudah zamannya emansipasi wanita, wanita tidak perlu lagi harus menunggu. Wanita bisa untuk menyatakan cintanya kapanpun mereka mau untuk mengatakannya. Setolol itu kah keterkaitan emansipasi wanita dengan cinta? Nyatanya, wanita memang tak pernah seberani itu. Banyak baik dan buruknya yang harus selalu dipertimbangkan, sama seperti ketika aku menimbangkan.

                                                                         ***

Siang itu kembali terulang, sebuah pertemuan antara aku dan dia, berdua. Lagi-lagi hanya berdua untuk sekedar menghabiskan waktu makan siang di akhir pekan. Pekerjaan yang menuntutnya untuk selalu menghabiskan hari-harinya dalam lautan tugas yang selalu saja menumpuk, dan hanya ada waktu luang ketika hari Minggu. Itu pun dia habiskan bersamaku hanya sekali dalam dua minggu, sisanya dia lebih memilih untuk beristirahat di rumah atau sekedar hang out dengan teman-temannya yang lain.

Aku memperhatikan setiap detail di raut wajahnya. Ketika dia tersenyum, atau bahkan ketika ia mencoba untuk menggodaku. Aku benar-benar mengagumi sosoknya. Sosoknya yang dewasa, sosoknya yang begitu ramah. Ingin rasanya aku menggenggam tangannya, sesosok lelaki yang begitu kupuja dalam hati. Namun apalah daya, aku harus menahan keinginan itu dan menutupnya rapat-rapat. Aku hanya bisa memperhatikannya, meski sejujurnya aku sangat ingin memilikinya, menjadikan diriku sebagai sebab bahagianya. Namun lagi-lagi, itu hanyalah angan-anganku semata.

"Mau kemana lagi setelah ini?" tanyanya sambil melahap semangkuk bakso yang berada tepat di hadapannya.

"Ga kemana-mana lagi, capek. Lagian Senin besok jadwal kuliahku padat banget." jawabku santai.

"Oh yaudah, istirahat aja."

"Kamu mau kemana?" tanyaku penasaran, berharap hanya aku lah satu-satunya orang yang ia temui hari ini.

"Ke rumah, lagian lagi ga ada jadwal ngumpul sama anak-anak."

"Oh." ucapku sambil mengangguk.

                                                                                 ***

Hari-hari berikutnya pun aku jalani seperti biasa. Kuhabiskan banyak waktuku di kampus, waktuku untuk sekedar berbincang-bincang dengan beberapa teman dekatku, dan terkadang waktu yang kuhabiskan bersamanya hanya sekedar melalui pesan singkat, ataupun melalui sebuah pertemuan yang dapat dikatakan terlalu singkat untuk jangka waktu dua minggu. Tapi, mau tidak mau, beginilah adanya.

Setiap hari aku hanya dapat menebak, menghitung waktu yang telah kulalui bersamanya, dan juga semua angan-angan yang masih terus terkubur di dalam dadaku. Sebuah perasaan yang telah lama mengendap, atau bahkan telah membeku di hatiku, dan tak pernah dapat ku ungkap. Hanya dapat menunggu, dan menunggu. Sebuah penantian panjang yang aku sendiri pun belum tahu kapan akhirnya, kapan sebuah pertanyaan akan tercipta, disertai dengan jawaban yang akan menjadikannya sebagai akhir. Akhir dari sebuah kisah yang bisu.

Comments

Popular Posts