The Rain 2

Aku hanya ingin mengingatnya dengan sederhana,
Hanya ingin menceritakannya, dan aku ingin kamu menuliskannya.
Sama seperti dulu, ketika aku mencintainya.
Ya, dulu di saat semua kondisi masih begitu memungkinkan,
Dulu di saat bahkan hampir tak ada alasan untuk berhenti.
Ya, benar, dulu. Di saat dia masih mencintaiku, entah sampai kapan
Waktu itu terhenti dan semuanya berubah seperti saat ini.
Hanya ada aku sendiri. Sendirian.


Jalanan dari sekolah menuju ke rumahku ketika itu cukup padat. Saat itu aku hanya terdiam. Ya, terdiam. Aku masih malu untuk mengeluarkan suara, masih takut akan salah tingkah untuk yang kedua kalinya. Aku tidak ingin ia menyadarinya; raut wajahku yang tiba-tiba berubah dan menjadi merah. Aku tertunduk melihat jam tanganku, sudah pukul empat. Itu tandanya aku sudah menghabiskan waktu cukup lama dengannya hari itu. Aku pun masih tertunduk hingga tiba-tiba dia memperlambat laju kendaraannya dan mengajakku berbicara lebih dulu, membuka percakapan di antara kami, mengisi ruang-ruang yang sempat kosong akibat kecanggunganku.

"Bil..." ucapnya sambil tetap menatap lurus ke depan, ke jalanan aspal yang ada di hadapan kami, jalanan yang cukup padat kendaraan.

"Iya, Nang. Ada apa?" tanyaku khawatir. Saat itu aku menebak-nebak, takut Danang akan marah karena sejak awal aku hampir tak berbicara dengannya.

"Aku punya sesuatu buat kamu. Tolong ambilin deh, di dalam tas ku. Letaknya di bagian paling dalam, agak nyempil."

Aku pun membuka tas nya, mencari-cari barang yang dimaksud, di tempat yang ia katakan ketika itu.

"Bunga?"

"Iya."

"Buat aku?"

"Iya."

"Makasih ya." ucapku sambil tersenyum. Tiba-tiba rasa canggung itu pun hilang. Ya, mungkin terbang bersama angin dan berganti dengan bahagia.


***

Siang itu saat jam istirahat sekolah, aku dan Aida sedang berada di depan koridor kelas kami, menatap lurus ke bawah dan memperhatikan orang-orang yang sedang berlalu-lalang. Aku pun tiba-tiba saja ingin menceritakan isi pikiranku padanya ketika itu. Ya, kepada Aida.

"Da..." ucapku sambil setengah berbisik.

"Iya?"

"Aku sayaaaannnggg banget sama dia, Da. Aku ga pernah ngerasain hal ini sebelumnya, ngerasa nyaman sama seorang cowok sampe segininya."

"Danang?"

Aku pun mengangguk.

"Bagus dong, Bil."

"Iya, tapi aku takut."

"Takut kenapa?"

"Takut kalau lama-lama dia bosan sama tingkah aku. Kamu kan tahu sendiri aku kayak gimana, Da. Yaaaa mungkin suatu saat kalau dia pergi, aku ga akan bisa bayangin." ucapku lagi sambil menopangkan dagu dengan kedua tanganku di atas pagar pembatas balkon sekolah.

***

Mungkin aku berubah di matamu, tapi tidak di hatiku.
Aku tetap aku, bagaimanapun itu yang mencintaimu.
Aku hanya butuh waktu sesaat untuk menata hidupku,
Hidupku yang hampir kehilangan arah...
Aku hanya butuh spasi di antara kata-kata yang kau tulis,
Menciptakan suatu kalimat yang dapat tersusun rapi,
Kalimat yang dapat kubaca dengan mata dan hati ini...

Malam itu tubuhku terasa remuk, kegiatan lomba jurnalistik antar-kelas di sekolahku akan segera dimulai. Dan sebagai salah satu dari panitia, aku diminta untuk menyelesaikan proposal dengan segera karena akan diserahkan secepatnya kepada pihak sekolah. Hampir setiap hari aku pulang telat ke rumah, seringkali pulang lewat dari pukul lima sore. Padahal, jam pulang sekolah sendiri adalah pukul tiga sore. Belum lagi urusan bimbingan belajar yang selalu menyita waktuku sampai pukul delapan malam, dan berakhir dengan pekerjaan rumah yang menumpuk, yang sudah harus kuselesaikan secepatnya. Alhasil, aku jarang sekali melihat layar ponselku. Beberapa kali itu berdering, aku sampai tak sempat meski hanya sekedar melihatnya.

Tugasku sebagai panitia memang sangat merepotkan! Tapi mau tak mau, aku sadar bahwa itu semua adalah salah satu konsekuensi berorganisasi.

Aku mengernyitkan dahiku ketika menatap sms darinya. Pesan yang hampir sama,

From : Danang

Kamu udh mulai berubah ya, Bil. Kamu udh ga sama lagi kayak dulu. Mungkin inget aku aja pun engga!

"Huh! Selalu deh. Ini orang ga ngertiin banget sih." ucapku sambil mendengus.

Aku tidak ingin ambil pusing soal sikap Danang yang selalu terlihat berlebihan. Jujur saja, tubuhku sedang lelah dan sedang tidak ingin bertengkar dengan Danang, apalagi untuk membahas suatu persoalan yang kami sendiri sudah tahu jawabannya, Aku sibuk!

Rasanya memang sangat nikmat untuk berbaring di atas tempat tidur yang empuk setelah seharian dipenuhi kegiatan yang sangat padat. Hampir setiap guru memberikan tugas, belum lagi soal proposal yang sepertinya memang sangat sulit untuk membuat yang satu itu secara sempurna, belum lagi soal beberapa file yang masih belum lengkap. Ah, rasanya bagai bom waktu yang siap meledak di atas kepalaku.

To : Danang

Maaf, Nang. Aku lagi sibuk bgt.

Pesan pun terkirim, semudah itu ketika tubuhku terasa sangat lelah. Semudah mengeluarkan ego yang rasanya telah membuncah di dalam otakku dan siap meledak. Dan pada akhirnya ego itu yang akan menenggelamkan segalanya, sekecil apapun hal yang sebenarnya belum kau sadari.

***

Kau bahkan tak menyadari apa yang telah kau genggam,
Atau mungkin berusaha untuk tidak peduli dengan apa yang kau milikki,
Hingga pada saatnya waktu telah berhasil mengubah segalanya.
Dan kau sudah benar-benar terlambat untuk mengembalikannya...

Aku memejamkan mataku, berusaha untuk tidak peduli. Aku benar-benar tidak ingin memohon kepadanya. Tidak! Memangnya dia pikir, dia siapa? Seenaknya saja mengatakan ingin berakhir, dan aku tidak akan menahannya.

Aku tidak akan menahannya! Sesulit itukah? Mengapa rasanya sesakit ini?

Kali ini dia benar-benar mengatakannya, kata-kata yang penuh dengan rasa sakit hati. Mungkin dia muak akan sikapku, mungkin saja. Atau mungkin dia memang tidak benar-benar mencintaiku, tidak benar-benar ingin memperjuangkanku. Rasanya memang sakit, namun terlambat sudah rasanya untuk mengatakannya. Aku dan kamu, semoga hujan akan selalu mengabadikan kenangan kita...

Comments

Post a Comment

Popular Posts