Mind Effect
Salahkah aku jika kini aku seringkali berpikir bahwa aku adalah seorang boneka yang sedang dimainkan oleh Tuhan?
Dia yang memaksaku untuk memainkan peran seorang tokoh protagonis di dalam sebuah skenario yang Dia sebut 'drama'.
Lalu, apa yang bisa kulakukan ketika Dia tidak mengizinkanku untuk berhenti dalam menjalankan peran yang telah diberikan? Tidak ada.
Ya, sepertinya memang sangat bodoh. Dipontang-panting, dijatuhkan, atau bahkan diinjak-injak dan tidak dihargai.
Hanya saja, 'drama' yang kumaksud memang nyata. Dan para tokoh antagonis yang mereka perankan pun nyata, sangat nyata.
Pernahkah kau berpikir, untuk apa sesosok Tuhan menciptakan dunia bila pada akhirnya Dia tahu bahwa semua akan berakhir?
Untuk apa dia menciptakan manusia, bila pada kenyataannya Dia sendiri sudah tahu setiap skenario yang akan dijalankan oleh masing-masing dari kita?
Untuk apa Tuhan menciptakan surga dan neraka, padahal Dia sendiri sudah tahu siapa saja bonekaNya yang pada akhirnya akan mask ke sana?
Mungkin, kau berpikir aku tidak waras atau gila karena pikiranku sendiri nampak seperti menentang alam semesta.
Tapi, apakah pernah kau berpikir bahwa sesungguhnya hidupmu adalah bagian dari skenario Tuhan, yang bahkan kau sendiri tak punya kebebasan dalam memilihnya?
Silahkan saja, silahkan saja kau berpikir sesukamu.
Malam itu aku kembali termenung sambil menatap langit yang sedang mendung, dan lagi-lagi hati kecilku kembali menanyakan hal yang sama kepada Tuhan. Lagi dan lagi, rutin setiap malam setelah kejadian itu berhasil terpaku di dalam otakku. Kenapa Tuhan sekejam itu merenggut semuanya dariku? Kebahagiaan yang selama ini kumilikki lenyap sudah. Apakah aku telah berbuat suatu kesalahan? Jika ya, kesalahan apa itu? Bukankah selama ini aku telah menjalankan apa-apa yang Tuhan perintahkan kepada umatNya dengan baik, sesuai dengan pedoman yang ada? Lalu, kurang apa lagi? Aku selalu menanyakan hal yang sama, memutar otakku untuk mendapatkan jawabannya. Akan tetapi, pada kenyataannya aku bukanlah apa-apa, semuanya tetap nihil, tak ada jawaban dan tetap menjadi pertanyaan, sampai sekarang.
Aku rasa langit pun bosan melihatku sendirian dan terus bertanya-tanya tentang kehidupan, tentang aku dan takdirku. Mungkin dia pikir aku adalah orang yang tak tahu bersyukur, atau memang aku sudah benar-benar gila. Entahlah. Hanya saja, aku butuh banyak penjelasan. Mengapa aku dilahirkan dengan tidak seberuntung ini? Lagi-lagi aku menyalahkan Tuhan. Mengapa Tuhan membiarkanku untuk tetap jatuh? Mengapa? Apakah kehendak sesosok Tuhan yang katanya adalah Maha Adil malah justru setidak adil ini? Ah, entahlah. Aku muak, kau tahu? Baiklah, mungkin akan kuceritakan secara singkat mengapa pikiran-pikiran gila ini mulai merasukiku, membunuh akal sehatku secara perlahan.
***
Waktu itu, aku adalah sesosok perempuan kecil yang baru berusia sepuluh tahun dengan pemikiran yang dapat dikatakan di atas rata-rata. Bahkan guru-guruku di Sekolah Menengah Pertama mempertanyakan hal ini, mengapa bisa? Aku adalah salah satu dari sedikit anak yang memiliki IQ superior di dunia ini. Mereka bilang aku sangat cerdas dengan pola pikir yang bahkan orang dewasa pun sulit untuk mengertinya, bahkan kedua orangtuaku pun menjadi ragu dan mempertanyakan bagaimana bisa hal seperti ini terjadi kepada anak mereka? Jujur saja, kedua orang tuaku hanyalah dua orang dewasa dengan kemampuan yang sangat biasa-biasa saja, bahkan di bawah standar.
Dengan bergantinya hari, pada akhirnya aku berhasil masuk Sekolah Menengah Atas di usia duabelas tahun karena setiap guruku sejak SD hingga SMP selalu menyarankanku untuk mengambil program akselerasi. Dan lagi-lagi, orang tuaku menganggap hal ini adalah sebagai hal yang sangat-sangat mustahil mengingat bahwa aku bukan diturunkan dari kedua orang tua yang cerdas. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, kelebihkanku ini seakan menjadi bumerang bagi diriku sendiri. Banyak temanku yang mengatakan bahwa aku adalah anak dari sesosok alien yang terdampar di bumi, yang kemudian diasuh oleh kedua orang tuaku. Pada saat itu, aku hanya tertawa meremehkan. Bagaimana bisa? Bahkan aku sendiri tak percaya dengan cerita-cerita alien yang tidak jelas asal-usulnya. Seringkali aku tertawa di atas pernyataan-pernyataan mereka yang bagiku sangat tidak masuk akal, sangat mustahil untuk terjadi. Maka dari itu, bukan merupakan hal yang aneh lagi bila aku menjadi korban bullying saat masih SMA, terlebih saat itu usiaku masih sangat muda dibanding yang lainnya.
Saat SMA, seringkali aku pulang sambil menangis dan meminta Ibu untuk memelukku. Dan tentu saja hasilnya sangat menenangkan. Akan tetapi, setelah kejadian itu, aku benar-benar kehilangan Ibu. Kau tahu? Ibu adalah sumber kebahagiaan terbesar di dalam hidupku, tentu saja. Kejadian yang kumaksud di sini adalah dimana suatu hari aku merasa bahwa kecerdasanku ini semakin lama semakin meningkat dengan tingkatan yang sudah tidak lagi dapat kuprediksi. Entah mengapa, seiring bertumbuhnya aku menjadi sosok yang lebih dewasa, maka saat itu juga kemampuanku akan terus bertambah. Aku semakin menyalahkan Tuhan atas kejadian itu, tentu saja karena hal ini adalah pemberian dari Tuhan, entah itu anugerah atau bencana, aku tidak peduli.
Kau tahu bagaimana rasanya hidup di dalam ketidaknyamanan dan perasaan bersalah secara terus menerus? Sesungguhnya, akulah yang menyebabkan semuanya terjadi saat itu. Dimana aku dapat membaca setiap pikiran orang terhadapku, termasuk Ibu. Semakin lama, Ibu semakin mengkhawatirkan pertumbuhanku, maka tak jarang pula di dalam pikirannya, dia menganggapku sebagai orang gila. Tentu saja karena aku sering menceritakan kepadanya bahwa beberapa kali aku pernah melihat iblis tersenyum dan bangga atas kekuatan yang mereka berikan kepadaku secara illegal, tentunya dengan tujuan yang akan menguntungkan mereka. Ibu tak pernah percaya ataupun mendengarkanku, bahkan ketika kubilang bahwa suatu saat Ibu akan kubunuh dengan tanganku sendiri dan dengan cara yang keji. Tak lama, kedua orang tuaku pun sepakat untuk memasukkanku ke dalam Rumah Sakit Jiwa.
Ya, itulah aku. Aku baru genap berusia tigabelas tahun dan sudah menjadi pasien Rumah Sakit Jiwa. Tidakkah mereka, kedua orang tuaku benar-benar jahat? Bukankah Tuhan sangat jahat untuk menciptakan skenario yang serumit ini kepadaku? Apalagi, ketika iblis-iblis itu menghampiriku dan terus mengatakan bahwa Ibuku akan mati di tanganku sendiri dengan cara yang sangat keji.
Comments
Post a Comment