Kerinduanku
Hari ini sang mentari belum terbenam, senja pun masih urung datang. Akan tetapi, gelapnya langit sore menandakan bahwa sebentar lagi akan turun hujan. Dari sebuah bangku cantik yang terletak di pelataran halaman belakang rumah kedua orangtuaku, aku menatapi langit, meratapi nasibku sendiri. Aku berpikir, terus berpikir tanpa henti.
Tuhan, penyesalan ini selalu berlarian di dalam otakku, bahkan sangat mengganjal di dalam hati. Semua tentang masa laluku, tentang betapa bodohnya aku dalam menjaga diri dulu. Entah sudah berapa banyak laki-laki yang masuk ke dalam kehidupanku, memaksakan apa yang haram menjadi halal. Entah aku harus berkata apa kepadanya nanti, dia yang kelak akan menjadi suamiku, imamku, ayah dari anak-anakku. Pantaskah aku, masih pantaskah diriku untuk menjadi istri, makmum, sekaligus ibu dari anak-anak seorang lelaki sholeh? Ah, aku bahkan ingin menangis saja memikirkannya.
Tuhan, aku bukanlah seorang perempuan yang sempurna. Tentu saja aku sering berbuat kesalahan dalam hidup. Seringkali aku mengabaikanMu, mempertanyakan keberadaanMu, atau mungkin aku yang banyak mengkhianati perintahMu. Tuhan, bahkan aku malu akan masa laluku dulu. Aku kerap kali menghalalkan sesuatu yang haram hanya demi mencapai keindahan dan kepuasan duniawi semata, ah betapa nistanya aku Tuhan. Tapi Tuhan, aku juga hanya manusia biasa yang tak tahu diri. Masih pantaskah aku berharap untuk mendapatkan seorang laki-laki sholeh sebagai imamku kelak?
Dari sajadah panjang yang kubentangkan, aku bersujud membenamkan diri, mendekatkan diri kepada Tuhan. Aku menangis sejadi-jadinya, menyesali apa-apa yang sesungguhnya sudah tak ada guna lagi untuk disesali. Dari sini, aku membayangkan dirinya yang masih menjadi misteri. Akankah dia juga sedang melakukan hal yang sama dengan apa yang sedang kulakukan sekarang? Akankah dia dan aku sedang sama-sama bersujud memohon ridhaNya? Ah, indahnya jika kami bisa sama-sama sedang bersujud kepadaNya dalam rentang jarak dan waktu yang sungguh tak terbatas.
Tuhan, meski telah kupaparkan bagaimana buruknya diriku, aku yakin bahwa sesungguhnya hanya Kaulah yang paling tahu. Bahkan, Kau yang jauh lebih mengenal aku dibanding diriku sendiri. Tuhan, aku mohon jadikanlah aku sebagai Muslimah yang mencintaiMu, yang dapat mentaati segala perintahMu dan menjauhi segala laranganMu. Jadikanlah aku sebagai Muslimah yang menjauhi segala yang haram dan mendekati apa-apa yang hanya Kau halalkan saja.
Tuhan, aku tahu mungkin aku adalah makhluk yang paling tak tahu malu. Tapi, aku mohon jadikanlah aku istri, makmum, sekaligus ibu anak-anak dari seorang lelaki sholeh. Aku mohon jagalah dia, Tuhan. Jagalah bapak dari anak-anakku kelak. Jadikanlah dia seorang Muslim yang taat kepada diriMu, jadikanlah dia seorang laki-laki yang tangguh, yang bijak, yang adil, yang berwibawa. Jadikanlah pula dia seorang laki-laki yang hangat dan penuh kasih sayang. Jadikanlah dia sebagai seorang laki-laki yang penuh pengertian.
Mungkin aku memang terlalu banyak meminta, Tuhan. Sesungguhnya aku pun malu. Akan tetapi, perempuan mana yang mau mendapat laki-laki yang tidak baik sebagai suaminya? Tidak ada, Tuhan. Jadi, aku mohon titipkanlah salam dan rinduku kepadanya. Aku di sini selalu mendoakannya dari jauh. Katakan padanya bahwa aku pun juga sedang memantaskan diri.
Comments
Post a Comment