Am I Really Married?
Hari berganti hari, detik demi detik pun telah aku lalui. Senja datang silih berganti setiap hari, mengantarkan sang mentari tenggelam pada saatnya. Aku masih di sini, tinggal sendiri meski sudah dua bulan lamanya aku resmi menikah dengan seorang laki-laki pilihan kedua orangtuaku, Ferdian. Ferdian adalah seorang laki-laki yang usianya terpaut delapan tahun lebih tua denganku, dan sekarang telah bekerja sebagai salah satu akuntan di sebuah perusahaan ternama di Jakarta. Kedua orangtuaku menjodohkan aku dengannya karena dia adalah anak sulung dari salah satu teman dekat ibuku semasa SMA dulu. Jika dilihat dari penampilannya, Ferdian adalah seorang laki-laki berperawakan tinggi, berisi, dengan kulit sawo matang, selayaknya orang Indonesia pada umumnya. Dia memang memiliki wajah yang tampan mempesona, ditambah dengan educational background yang bagus dan karier yang begitu cemerlang diusianya yang sekarang telah menginjak duapuluh delapan tahun. Hanya dengan melihat sepintas saja, wanita bisa-bisa langsung terpana.
Aku akui, dia adalah seorang laki-laki yang baik dengan segudang prestasi. Ia telah berhasil meraih gelar masternya di usia yang ke duapuluh empat tahun di salah satu perguruan tinggi ternama di Amerika karena beasiswa yang diperolehnya, dan masih banyak lagi prestasinya yang menurutku patut untuk dibanggakan. Akan tetapi dibalik kelebihannya itu, ia mengenalkanku kepada sebuah pernikahan yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya. Pernikahan yang dingin dan dipenuhi misteri. Tingkahnya yang terkadang baik, dan bisa berubah menjadi dingin kapan saja, tanpa bisa ditebak.
Malam itu hujan turun dengan derasnya membasahi kota Jakarta. Jam telah menunjukkan pukul sembilan malam, dan dia belum pulang juga. Seperti biasa, aku menunggunya di ruang tamu rumah kami sambil mengerjakan beberapa tugas kuliah yang kian menumpuk akibat terlalu lama dibiarkan begitu saja. Sesaat setelah menikah dengannya, orangtuanya memberikan rumah ini kepada kami. Sebuah rumah minimalis yang dibangun di atas tanah seluas 350 meter, yang terletak di salah satu komplek perumahan di bilangan Jakarta Selatan. Rumah ini hanya memiliki satu lantai dasar dengan 4 kamar tidur yang masing-masing di dalamnya sudah terdapat satu kamar mandi, satu dapur, satu ruang makan, ruang keluarga, dan juga ruang tamu dengan dua buah jendela besar yang langsung berhadapan dengan halaman depan rumah ini. Halaman depan rumah ini adalah spot favoritku dengan kolam ikan minimalis, beberapa pohon pinus kecil yang ditanami di sekitarnya, serta beberapa jenis bunga warna-warni. Di bagian tengah halaman itu diberi jalur dari bebatuan sebagai penghubung antara halaman dengan teras rumah. Di samping halaman depan terdapat garasi dengan kapasitas dua buah mobil berukuran sedang.
Tak lama, sebuah suara mobil memasuki gerbang rumah kami. Seperti biasa, Bibi Rahmi, seorang perempuan paruh baya yang bekerja di sini untuk membantuku dalam mengurusi beberapa urusan rumah tangga lah yang membukakannya. Aku pun langsung berlari ke arah pintu depan dan menyambutnya dengan sebuah senyuman, meski aku tahu mungkin baginya aku hanyalah seorang perempuan asing yang dipaksa untuk tinggal dan menghabiskan sisa hidup bersamanya. Saat itu, rambutnya yang berwarna hitam telah dibiarkannya berantakan, begitu pula dengan kemeja putihnya yang sudah dibuka kedua kancing teratasnya dan digelungnya seasalnya, semakin mempertunjukkan dadanya yang bidang.
"Sudah makan? Kalau belum, nanti aku siapkan. Kebetulan masih ada beberapa bahan di kulkas kalau mau dibuatkan pasta atau sekadar omelette." ucapku sambil meraih tas hitam yang ada di tangannya.
"Ga usah, aku udah makan di luar. Sekarang aku capek, mau langsung istirahat." jawabnya sambil berlalu begitu saja ke kamarnya. Aku pun membututinya dari belakang, bermaksud meletakkan tas yang tadi dibawanya di atas meja kerjanya. Setelah meletakannya di sana, aku pun kembali mengerjakan beberapa tugas kuliahku. Dan lagi-lagi, tanpa banyak basa-basi yang keluar dari mulut kami.
Ya, sudah dua bulan lamanya kami lalui dengan keadaan yang hampir selalu sama. Sikapnya yang dingin dan sulit dibaca, seolah-olah selalu menunjukkan sikap waspada kepadaku, seorang perempuan asing yang kini terpaksa tinggal di rumah pemberian kedua orangtuanya. Selama dua bulan kami lalui dengan tanpa banyak bicara, dan juga pastinya kami pun tidur di kamar yang terpisah. Dia tidur di kamar tidur utama, dan aku di kamar tidur yang sengaja dibuat dengan ukuran lebih kecil dan diperuntukkan untuk kamar anak-anak nantinya. Mengingat anak-anak, aku hanya dapat tersenyum getir. Jangankan berharap untuk punya anak darinya, mengingat sikapnya yang begitu dingin kepadaku saja aku sudah merinding dibuatnya.
Tak ada kata yang dapat menggambarkan bagaimana perasaanku sekarang. Menikah dengan seorang laki-laki bersikap dingin, dan tinggal jauh dari kedua orangtua bukanlah perkara yang mudah. Belum lagi dengan impian pernikahan bahagia yang sebelumnya pernah kumilikki, yang pada akhirnya kini harus kandas karena perjodohan ini. Sebelumnya, aku selalu bermimpi bahwa suatu ketika nanti aku akan menikahi seorang laki-laki yang kucintai dan pastinya juga mencintaiku, memiliki anak-anak yang wajah dan sifatnya adalah perpaduan dari kami, berbagi kebahagiaan, serta dapat tumbuh tua bersama.
"Non Alisa ga tidur? Atau mau Bibi buatkan sesuatu?" tanya Bi Rahmi kepadaku setelah ia mengunci rapat gerbang dan pintu depan rumah kami.
"Ga usah, Bi. Hmm... Bibi temenin Alisa ngobrol-ngobrol di sini aja gimana?" jawabku sambil tersenyum.
"Boleh, Non." ucapnya, kemudian duduk di sofa yang berhadapan dengan sofa yang aku tempati ketika itu.
"Bi, Bibi bahagia ya sama pernikahan Bibi?"
"Pasti lah, Non. Kenapa memangnya? Non juga pasti bahagia kan menikah dengan Mas Ferdi?"
Aku pun mengangguk tersenyum, "Aku bahagia pada akhirnya aku bisa membuat kedua orangtuaku bernafas lega, Bi. Apapun yang aku lakukan saat ini, aku bahagia karena bisa melihat mereka tersenyum."
"Non Alisa jangan khawatir. Dulu Bibi juga menikah muda, ya bahkan lebih muda dibanding Non Alisa saat ini. Kalau sekarang usia Non Alisa sudah duapuluh tahun, dulu Bibi baru berusia limabelas tahun ketika menikah. Tapi ya Bibi bahagia, Non. Apalagi setelah melahirkan anak Bibi yang pertama, duh bahagia banget pokoknya!"
"Alisa juga mau punya anak, Bi. Alisa juga dulu sering bermimpi punya anak yang banyak, anak yang lucu-lucu setelah menikah nanti, apalagi dari dulu Alisa kan suka banget sama anak kecil. Tapi kalau dilihat dengan keadaan sekarang, kayaknya ga mungkin deh Bi hehe. Apalagi Alisa masih sibuk kuliah."
"Non jangan bilang ga mungkin. Non itu harus berusaha dan bertawakal kepada Tuhan, berdoa semoga suatu saat nanti Non akan dikaruniai anak-anak yang baik, yang sayang sama Non dan juga Mas Ferdi."
"Aamiin..." ucapku sambil tersenyum, meski sebenarnya hati ini menangis sambil mengaminkan.
*To be Continued*
Comments
Post a Comment