Am I Really Married? (3)

Bertahan untuk mempertahankan tidaklah semudah yang aku pikirkan sebelumnya. Tikungan-tikungan yang aku alami selama ini ternyata justru jauh lebih tajam dari apa yang pernah aku bayangkan. Barhari-hari aku bertahan, menantikan waktu yang akan menjawab segalanya, akan tetapi ternyata semuanya tak kunjung berubah, atau mungkin lebih tepatnya memang belum. Dia, Ferdian masih asik dengan hidupnya sendiri, tak sekalipun memperdulikan perasaanku yang semakin lama semakin tidak nyaman dengan perilakunya yang dingin, dan sangat jauh dari apa yang ia tunjukkan sebelumnya ketika di awal.

Pagi itu kami kembali ke rutinitas kami masing-masing, dia sudah pulang ke rumah meski tetap tak mau berbicara denganku. Ya, bisa kau bayangkan bagaimana rasanya hidup dengan sebuah patung hidup di dalam rumah yang sama. Kami duduk di meja makan yang sama, saling berhadapan, tapi matanya sama sekali tak mau menatapku, begitupun dengan gerak-geriknya yang semakin menjauh. Entah mengapa, tapi rasanya diperlakukan seperti itu olehnya terasa sangat menyesakkan. Bukan, bukan aku telah jatuh cinta padanya, aku bahkan tahu persis bagaimana perasaanku saat ini, aku tahu persis hati ini milik siapa. Hanya saja diacuhkan oleh seseorang, tentu rasanya sangat menyakitkan, apalagi orang itu adalah orang yang sudah menjadi bagian dari keluargaku.

Sudah berkali-kali aku mencoba untuk tetap tidak peduli, aku mencoba menahan segala keluh-kesahku dan berpura-pura bahwa semuanya akan baik-baik saja, dan kali ini semuanya seperti terasa semakin membuncah. Dan, aku tahu persis bagaimana posisiku saat ini. Aku tahu, tapi lagi-lagi aku harus berpura-pura tidak tahu, aku harus menahan egoku demi kebahagiaan keluargaku, pun kebahagiaan keluarganya juga. Meski hati ini yang menjadi taruhannya.

"Ibuku mau ke Jakarta, minggu depan. Mungkin untuk beberapa hari Ibu akan stay di sini, katanya sekalian mau mendekatkan diri sama kamu, yang Ibu anggap sebagai MENANTUNYA." ucapku sambil menekankan nada bicaraku pada kata menantu.

"It's okay. Kita bisa berpura-pura, kan? Kamu bisa tidur di kamarku, nanti akan aku suruh Bibi untuk menambahkan kasur lipat di dalam. Oh ya, aku juga akan suruh Bibi untuk merapihkan semua barang-barangmu dari kamarmu dan dipindahkan ke kamarku untuk sementara. Persoalan kamar untuk Ibu, aku rasa kamarmu hanya perlu dirapihkan sedikit di beberapa sudutnya." jawabnya datar.

"Okay. Aku harap kamu ga bertingkah mencurigakan di hadapan Ibu. Aku khawatir Ibu akan sangat kecewa kalau tahu apa yang sebenarnya terjadi di antara kita."

"Don't worry, I'm also a good actor." jawabnya sekenanya, dan lagi-lagi tanpa mau menatap ke arahku.

***

Jam telah menunjukkan pukul satu siang, dan seperti biasa selepas kuliah, aku selalu menyempatkan diri untuk pergi ke perpustakaan utama, sendirian. Meski pada akhirnya aku akan bertemu dengan laki-laki itu lagi, Azka.

Siang ini, lagi-lagi aku berkunjung ke sudut sastra. Tak banyak orang yang akan berkunjung ke sudut sastra, apalagi ke bagian karya-karya fiksi dari sudut sastra ini. Kebanyakan dari mereka hanya mencari buku sebagai referensi dari tugas mereka, dan setelah dapat kemudian mereka akan mengurus administrasi peminjaman buku, dan kemudian pergi. Jarang sekali ada yang mau tinggal dan tetap membaca seperti aku dan Azka, dua orang yang sama-sama berantusias terhadap sastra.

Aku suka menghabiskan waktuku berjam-jam di sini, membaca dan terus membaca, menciptakan sebuah imajinasi baru dari karya-karya yang sudah selesai kubaca. Begitu juga dengan Azka, dia suka menghabiskan waktunya di sini selepas kuliah dan mengerjakan tugas kuliahnya yang tergolong banyak. Berbeda dengan teman-temannya, Azka justru memilih membaca sebagai caranya untuk melepaskan penat.

Setelah mengambil sebuah karya fiksi klasik, aku kemudian duduk di sebuah bangku yang terletak di sudut ruangan, mencari zona yang memang agak sepi dan jarang dilalui orang. Selama kuliah di universitas ini, spot itulah yang telah menjadi spot favoritku setiap kali aku mengunjungi perpustakaan utama.

"I'm finally here. Baca apa, Tuan Putri?" ucapnya tiba-tiba sambil menarik sebuah bangku yang ada di hadapanku.

"Karya fiksi klasik. Is it important to you, hm?" jawabku sambil melempar senyum ke arahnya.

"Jutek banget sih haha. By the way, how was your day?"

"It's gray. Lol. No, I'm kidding. Ya seperti biasanya aja, cuma dengerin orang-orang presentasi, mencatat hal-hal yang dirasa perlu, mengajukan beberapa pertanyaan, dan... selesai. Minggu depan giliran aku yang presentasi di mata kuliah yang sama. How boring it is, uh."

"Hmm... mau aku bantu? Ya sekalian aku main ke rumahmu, kenalan juga sama ibumu."

Deg! Sungguh, rasanya jantungku seperti akan keluar detik itu juga. Aku bahkan sama sekali tidak ingin berterus terang dengannya tentang apa yang sesungguhnya sedang aku jalani saat ini. Demi Tuhan, menjalani suatu pernikahan karena paksaan bukanlah hal yang membanggakan. Dan, aku ingin Azka-lah orang terakhir yang mengetahui soal pernikahan "pura-pura" yang terpaksa aku jalani bersama Ferdian.

Entahlah, rasanya terlalu rumit untuk aku jelaskan, akan tetapi aku hanya tidak ingin kebersamaan yang telah kami lalui sekian lama kandas begitu saja. Aku tahu, bahkan sangat tahu bahwa hatiku sangat-sangat menginginkannya. Bahkan ketika Ferdian mengucapkan namaku dalam ijab qobul pernikahan kami pun, aku sangat tahu bahwa hatiku sangat amat menginginkan Azka untuk menggantikan Ferdian. Meski aku tak pernah melihat adanya tanda-tanda bahwa Azka juga menginginkanku, akan tetapi hanya dengan menatap matanya aku telah merasakan kebahagiaan yang tak pernah aku dapatkan dari laki-laki manapun sebelumnya. Kedua bola mata itu sangat teduh ketika memandangku, bahkan senyumannya adalah favoritku di antara ribuan senyuman lainnya yang pernah aku temukan.

"Wanna have lunch with me?" tanyanya memecahkan keheningan di antara kami.

"No, Azka, Thanks. I wanna go home, right now." ucapku sambil merapihkan beberapa buku yang berserakan di hadapanku.

"What's going on with you? Kamu ga seperti biasanya, Alisa. Ada masalah?" tanyanya sambil menahan pergelangan tanganku.

"Itu bukan urusanmu kan, Ka? Kamu bahkan ga perlu bertanya soal itu."

"Aku sayang sama kamu, Sa. Aku selalu care sama kamu, tapi kamu ga pernah sadar sama hal itu. You're the one that I wanna be with..." ucapnya, dan lagi-lagi dengan tatapannya yang sama teduhnya ketika menatapku.

"Aku mau pulang sekarang. Aku butuh waktu, sorry." ucapku sambil bergegas pergi, sedangkan dia, aku tahu dia masih terpaku di sana menatap punggungku yang semakin lama semakin menghilang. Tapi biarkan saja, biarkan waktu yang akan menjelaskan semua kepadanya. Aku hanya terlalu takut untuk kehilangan dirinya.

***

Malam itu aku kembali menunggunya, Ferdian pulang dari ruang tamu rumah kami. Aku tak peduli jika jam telah menunjukkan pukul sebelas malam sekalipun. Aku harus berbicara tentang apa yang harus kuutarakan padanya. Ini bukan lagi tentang kebahagiaan orang lain, bukan juga karena aku terlalu memikirkan egoku. Hanya saja, aku yakin semuanya akan sangat menyakitkan bila diakhiri nanti. Semuanya belum terlalu terlambat, meski aku tahu semua sudah tidak bisa lagi diperbaiki. Tapi setidaknya biarkanlah semua menjadi kenangan pahit, hanya kenangan.

Saat jam dinding telah menunjukkan pukul setengah satu malam, aku dapat mendengar deru mesin mobilnya memasuki garasi rumah kami. Dan tak perlu menunggu lama, sosoknya telah terlihat dengan kondisi yang kuyakin tak kalah berantakan dengan isi kepalanya.

"Aku mau bicara, saat ini juga!" ucapku tegas.

"Mau bicara soal apa? Ini sudah larut malam, Alisa. Tidak bisakah kita tunggu hingga besok pagi? Aku lelah, Alisa, sungguh."

"Aku ga peduli, Ferdian. Aku butuh bicara, SEKARANG!"

"Oke, ada apa? Kedatangan Ibu akan dipercepat? Ya gapapa, bukan masalah berarti. Kita bisa suruh Bibi langsung beresin kamar kamu besok, kan?"

"Aku mau udahin ini semua, Yan. Aku mau kita jujur sama keluarga kita, dan aku mau kita cerai. Aku udah ga bisa lagi."

"Kenapa?"

"Kamu masih bisa tanya kenapa, hah?! Kamu sadar kalau kita ga pernah menjadi suami-istri, kan? Kita ini cuma dua orang asing yang terikat pernikahan demi kebahagiaan orang lain. Bahkan kita harus mengorbankan kebahagiaan kita sekalipun. Ini ga lucu, Yan. Aku muak!"

"Kita ga pernah jadi suami-istri katamu? Alisa, kamu ini istriku, dan aku adalah suamimu. Status kita jelas di mata hukum dan agama. Kurang apalagi?"

"Semuanya ga sesederhana itu, Yan. Semuanya ga semudah seperti apa yang ada di kepalamu."

"Hmm... I see. Kita ga pernah jadi suami-istri karena aku belum pernah menyentuhmu kan? Jadi, malam ini bagian mana dari dirimu yang ingin kusentuh terlebih dahulu, hm?" ucapnya sambil menggendongku ke kamarnya. Oh God, I think he's drunk.

***

TO BE CONTINUED

Comments

  1. hello, ini cerita fiksi atau based on true story ya?? thanks..

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts