A Little Story About Pelangi

Pelangi Adinda, sebuah nama yang diberikan oleh kedua orang tuaku sekitar 20 tahun yang lalu, ketika aku baru saja dilahirkan. Mereka berharap, kelak aku akan tumbuh seindah pelangi yang biasa orang-orang lihat setelah hujan reda. Mereka berharap, kelak aku akan menjadi kebahagiaan, bahkan ketika hujan dan badai datang menerpa sekalipun.

Dan inilah aku sekarang, yang orang-orang bilang sebagai gadis yang supel, ceria, humoris, dan... konyol. Entahlah, tapi aku suka menerima kenyataan bahwa orang-orang mengenalku sebagai pribadi yang demikian. Sekalipun, tidak semuanya adalah benar. Aku sama seperti manusia pada umumnya, sama persis seperti gadis yang lainnya. Aku akan bahagia ketika jatuh cinta, dan menangis ketika terluka. Hanya saja, aku ingin menanggungnya sendirian bersama kegelapan yang menyapa di dalam kamarku, dan juga melodi dengan irama senada dengan perasaan yang kupunya.

Aku kuat, begitulah yang orang-orang bilang tentang aku. Padahal, mereka hanya tidak tahu betapa rapuhnya diriku. Aku pernah bahagia karena jatuh cinta dan terluka karena ditinggalkan begitu saja, berkali-kali malah. Aku pernah berpikir bahwa mengapa Tuhan membiarkanku hidup, dikala ada orang lain yang ingin membunuhku secara perlahan? Kau tahu? Aku selalu berjuang sendirian untuk mengembalikan duniaku yang dibuat jungkir balik, berkali-kali. Tapi biarkanlah, orang-orang tak perlu tahu bahwa seringkali aku menangis di kala malam mengantarkan sepi dan sendiri yang begitu menyakitkan untukku. Orang-orang tak perlu tahu tentang aku yang masih dibelenggu masa lalu. Biarlah, biarkan aku yang menanggunggnya sendirian.

Sejujurnya aku lelah, sungguh sangat lelah. Aku lelah menahan diriku sendiri untuk jatuh cinta pada orang yang salah. Aku sungguh sangat lelah menahan perasaan yang berkecamuk, dan tentunya menyita waktu. Aku lelah merasakan perihnya kehilangan, dan menangis karena ditinggalkan. Aku ingin hidup bahagia, itu saja. Sekalipun aku tahu bahwa jatuh cinta, patah hati, dicintai, dan dibenci adalah hal yang manusiawi. Tapi, salahkah aku jika aku hanya berharap kelak akan ada orang yang benar-benar tulus mencintaiku? Semoga saja.

Comments

  1. Great,
    cinta yang tulus itu ada, dan akan datang kepada hati yang tulus pula.
    cinta yang tulus bisa di dapatkan, dengan cinta Tuhan, karena hakikatnya ialah yang mengetahui isi hati manusia, dan Ia pula yang menciptakan cinta tersebut.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts