Am I Really Married? (4)
Ferdian's POV
Aku masih mengingat pertama kali pertemuanku dengan gadis itu, Alisa, ketika kedua orang tua kami sepakat untuk saling menjodohkan anak-anaknya. Sejak pertama kali bertemu, Alisa adalah gadis yang cukup menyenangkan dan memberikan kesan yang hangat. Dia adalah gadis yang mudah bergaul dan juga periang. Mungkin, jika aku adalah orang lain, aku akan dengan mudah jatuh cinta kepada gadis sepertinya. Tetapi, aku berbeda, aku punya banyak alasan mengapa aku menolak untuk jatuh cinta kepadanya.
Aku mengulurkan tanganku, dia pun tersenyum, kemudian membalas menjabat tanganku. Aku tidak tahu apa yang ada di dalam pikirannya ketika itu. Bagaimana bisa dia tetap seriang itu ketika dia tahu bahwa sebentar lagi dia akan dijodohkan dengan laki-laki yang bukan hanya jarak usianya terpaut jauh darinya, tetapi juga seorang laki-laki yang sama sekali belum ia kenal?
"Ferdian Ananda." ucapku singkat.
"Alisa Alka." ucapnya.
Malam itu, kedua orang tua kami memang sengaja mengadakan pertemuan antar keluarga di sebuah restaurant yang berada di pusat kota Jakarta dengan dalih akan membicarakan tentang pernikahan kami. Ya, mungkin mereka sudah gila. Aku sama sekali belum pernah bertemu dengan gadis yang tempo hari selalu dibicarakan oleh kedua orang tuaku, lalu ketika kami baru bertemu untuk yang pertama kalinya, mereka langsung membahas rencana gila itu. Demi Tuhan, aku benci ketika mengingat momentum itu.
Setelah berkenalan, aku mengajak Alisa untuk menyingkir sebentar dari keluarga kami, dan menuju taman restaurant tersebut untuk berbicara empat mata saja, tentang ide gila mereka, tentang apa yang harus kami lakukan, dan bagaimana selanjutnya hubungan kami.
"Aku ga bisa menolak, Kak. Menolak keinginan kedua orang tuaku sama saja menciptakan kesedihan bagi mereka." itulah yang pertama kali Alisa ucapkan ketika aku mengajaknya duduk di sebuah ayunan yang berada di taman belakang restaurant tersebut. Ayunan tersebut terbuat dari rotan, dan diperuntukkan bagi dua orang. Kami pun duduk bersisian, sekalipun itu terasa sangat canggung bagiku, dan mungkin juga bagi Alisa.
"Hmm... I see. Tapi, bukankah kamu masih menyandang status sebagai mahasiswi? Bagaimana dengan kuliahmu nanti setelah menikah denganku?"
"Aku tetap akan melanjutkannya. Lagipula, aku yakin kakak tidak akan mengintervensiku ketika kita sudah menikah nanti, mengingat bahwa kita ga akan menjadi suami-istri seutuhnya. Aku tahu kakak sudah punya kehidupan sendiri, begitu pula aku. Kita akan tetap melanjutkan hidup masing-masing, tanpa ada intervensi satu sama lain. Pernikahan kita kan hanya status, ga lebih."
"Ya, hanya status. Tapi... apakah kamu sudah yakin dengan keputusanmu yang setuju untuk dijodohkan denganku? Kita masih punya kesempatan untuk membatalkannya jika kamu mau. Setidaknya kita berdua yang harus melakukannya,karena jika hanya ada satu pihak yang menolak perjodohan ini, akan sangat sulit bagi mereka untuk mempertimbangkannya."
"Aku ga punya kekuatan untuk itu, Kak. Kedua orang tuaku terlalu keras kepala."
"Ya, orang tuaku pun sama. Tapi setidaknya..." belum sempat aku menyelesaikan kata-kataku, mamanya Alisa, Tante Aini pun menghampiri kami dengan senyum yang merekah di bibirnya. Dan, dari sanalah segala kerumitan itu terjadi.
***
Hari demi hari pun silih berganti, sang waktu sepertinya enggan untuk berhenti. Semenjak hari pernikahan itu, hidupku telah sepenuhnya berubah, dan kurasa begitu juga dengan kehidupan Alisa. Dia tak seriang seperti pertama kali bertemu, meski aku tahu, dia sedang berusaha untuk tetap menerima keputusan orang tua kami dengan dalih demi kebahagiaan mereka. Bagiku, Alisa bukannya lemah dan tidak bisa mengambil sikap, hanya saja dia bukanlah tipe orang yang akan dengan mudahnya menyakiti perasaan orang lain demi mewujudkan kebahagiaannya sendiri, apalagi orang itu adalah kedua orang tua yang sangat dikasihinya.
Sejak awal, aku tahu untuk mencintainya bukanlah suatu perkara yang sulit. Alisa adalah sesosok perempuan yang unik, cerdas, berbakat, dan... sangat perasa. Aku bisa saja melakukannya, menyerahkan hatiku sepenuhnya kepada Alisa. Akan tetapi, semua tak semudah yang orang lain lihat. Alisa telah memiliki kehidupannya sendiri, dan aku tidak akan mengusiknya. Maka dari itu, terhitung sejak minggu pertama pernikahan kami, aku berusaha untuk menjauhinya, sekalipun kami tinggal di rumah yang sama, dan itu sangat menyiksa. Bukan, bukan karena aku harus menahan untuk tidak mencintainya. Hanya saja, untuk seorang pria dewasa sepertiku, rasanya tidak mudah untuk menahan hasrat ingin memiliki dirinya seutuhnya. Aku tidak ingin dipandang sebagai laki-laki yang egois, sekalipun caraku dengan menjauhinya juga akan menyakiti hatinya.
Dan semalam, aku tahu aku sudah tidak bisa menahan perasaanku. Semuanya terlalu lama, sangat lama, hingga pada akhirnya membuncah begitu saja. Aku benar-benar ingin memilikinya, seutuhnya. Dan setelah ini, aku sangat yakin Alisa akan semakin membenci diriku, terlebih karena selama ini caraku untuk menghindarinya sudah terlampau salah.
Aku tahu, sejak awal pernikahanku dengan Alisa memang sudah salah. Tidak ada sedikit pun cinta di antara kami. Aku tahu Alisa telah mencintai orang lain, sedangkan aku sendiri masih terpuruk akibat luka di masa lalu. Oh, haruskah aku ceritakan masa laluku?
***
Namanya Cassandra, seorang wanita Indonesia bersuku Jawa keturunan Italia. Dia terlihat anggun dan sangat cantik dengan kedua matanya yang berwarna biru kehijauan. Dia adalah teman sekampusku dulu, sama-sama berkuliah di universitas bergengsi dan mengambil jurusan yang sama, akuntansi, sekalipun dulu kita memang hampir tidak pernah mengambil kelas yang sama. Gadis cantik nan cerdas selalu dapat menyita perhatian laki-laki di sekitarnya dengan mudah, begitu pula aku yang dengan mudahnya dapat mencintai Cassandra. Dan seperti yang kalian kira, ya aku pun bersaha mendekatinya, sama seperti laki-laki lain yang ada di kampusku. Cassandra juga gadis yang ramah, sekaligus sulit untuk ditebak. Meski banyak laki-laki tampan nan populer yang mendekatinya, pada akhirnya dia justru memilihku, si Mahasiswa kutu buku yang lebih sering berkunjung ke perpustakaan dibanding bergaul atau nongkrong-nongkrong di kafe.
Seiring dengan berjalannya waktu, dapat dikatakan bahwa hubungan kami pun semakin serius, apalagi setelah kami sama-sama bekerja dan memiliki karier yang bagus. Aku pun sempat akan melamarnya sebelum malam itu, ketika pada akhirnya aku sadar akan posisiku di dalam hatinya. Aku pikir, Cassandra adalah wanita yang berbeda. Tetapi, ternyata aku pun salah. Entah mengapa, semakin lama sikapnya berubah 180 derajat dari pertama kali kukenal. Dan ternyata, malam itu semuanya jelas sudah. Sejak awal, dia tidak benar-benar mencintaiku. Dia lebih memilih untuk menerima lamaran Gilang, sahabat kami semasa kuliah, yang notabenenya adalah anak dari salah satu pengusaha kaya raya di Indonesia.
Hatiku remuk godam saat itu juga. Bagaimanapun, aku hanyalah manusia biasa yang akan terluka bila disakiti. Dan sejak saat itu, hidupku benar-benar berubah. Entah mengapa, aku lebih memilih untuk sulit percaya terhadap wanita manapun, dan juga bersikap dingin. Aku lebih fokus terhadap karierku, dan mengambil setiap kesempatan emas yang ada di depan mata, termasuk mendapat beasiswa untuk melanjutkan studi magister ke luar negeri. Dan lagi, sekalipun pada akhirnya aku banyak mengenal wanita, tak ada satu pun dari mereka yang dapat mengambil celah di dalam hatiku. Tidak, sampai pada akhirnya aku bertemu seorang Alisa.
*
Aku mengulurkan tanganku, dia pun tersenyum, kemudian membalas menjabat tanganku. Aku tidak tahu apa yang ada di dalam pikirannya ketika itu. Bagaimana bisa dia tetap seriang itu ketika dia tahu bahwa sebentar lagi dia akan dijodohkan dengan laki-laki yang bukan hanya jarak usianya terpaut jauh darinya, tetapi juga seorang laki-laki yang sama sekali belum ia kenal?
"Ferdian Ananda." ucapku singkat.
"Alisa Alka." ucapnya.
Malam itu, kedua orang tua kami memang sengaja mengadakan pertemuan antar keluarga di sebuah restaurant yang berada di pusat kota Jakarta dengan dalih akan membicarakan tentang pernikahan kami. Ya, mungkin mereka sudah gila. Aku sama sekali belum pernah bertemu dengan gadis yang tempo hari selalu dibicarakan oleh kedua orang tuaku, lalu ketika kami baru bertemu untuk yang pertama kalinya, mereka langsung membahas rencana gila itu. Demi Tuhan, aku benci ketika mengingat momentum itu.
Setelah berkenalan, aku mengajak Alisa untuk menyingkir sebentar dari keluarga kami, dan menuju taman restaurant tersebut untuk berbicara empat mata saja, tentang ide gila mereka, tentang apa yang harus kami lakukan, dan bagaimana selanjutnya hubungan kami.
"Aku ga bisa menolak, Kak. Menolak keinginan kedua orang tuaku sama saja menciptakan kesedihan bagi mereka." itulah yang pertama kali Alisa ucapkan ketika aku mengajaknya duduk di sebuah ayunan yang berada di taman belakang restaurant tersebut. Ayunan tersebut terbuat dari rotan, dan diperuntukkan bagi dua orang. Kami pun duduk bersisian, sekalipun itu terasa sangat canggung bagiku, dan mungkin juga bagi Alisa.
"Hmm... I see. Tapi, bukankah kamu masih menyandang status sebagai mahasiswi? Bagaimana dengan kuliahmu nanti setelah menikah denganku?"
"Aku tetap akan melanjutkannya. Lagipula, aku yakin kakak tidak akan mengintervensiku ketika kita sudah menikah nanti, mengingat bahwa kita ga akan menjadi suami-istri seutuhnya. Aku tahu kakak sudah punya kehidupan sendiri, begitu pula aku. Kita akan tetap melanjutkan hidup masing-masing, tanpa ada intervensi satu sama lain. Pernikahan kita kan hanya status, ga lebih."
"Ya, hanya status. Tapi... apakah kamu sudah yakin dengan keputusanmu yang setuju untuk dijodohkan denganku? Kita masih punya kesempatan untuk membatalkannya jika kamu mau. Setidaknya kita berdua yang harus melakukannya,karena jika hanya ada satu pihak yang menolak perjodohan ini, akan sangat sulit bagi mereka untuk mempertimbangkannya."
"Aku ga punya kekuatan untuk itu, Kak. Kedua orang tuaku terlalu keras kepala."
"Ya, orang tuaku pun sama. Tapi setidaknya..." belum sempat aku menyelesaikan kata-kataku, mamanya Alisa, Tante Aini pun menghampiri kami dengan senyum yang merekah di bibirnya. Dan, dari sanalah segala kerumitan itu terjadi.
***
Hari demi hari pun silih berganti, sang waktu sepertinya enggan untuk berhenti. Semenjak hari pernikahan itu, hidupku telah sepenuhnya berubah, dan kurasa begitu juga dengan kehidupan Alisa. Dia tak seriang seperti pertama kali bertemu, meski aku tahu, dia sedang berusaha untuk tetap menerima keputusan orang tua kami dengan dalih demi kebahagiaan mereka. Bagiku, Alisa bukannya lemah dan tidak bisa mengambil sikap, hanya saja dia bukanlah tipe orang yang akan dengan mudahnya menyakiti perasaan orang lain demi mewujudkan kebahagiaannya sendiri, apalagi orang itu adalah kedua orang tua yang sangat dikasihinya.
Sejak awal, aku tahu untuk mencintainya bukanlah suatu perkara yang sulit. Alisa adalah sesosok perempuan yang unik, cerdas, berbakat, dan... sangat perasa. Aku bisa saja melakukannya, menyerahkan hatiku sepenuhnya kepada Alisa. Akan tetapi, semua tak semudah yang orang lain lihat. Alisa telah memiliki kehidupannya sendiri, dan aku tidak akan mengusiknya. Maka dari itu, terhitung sejak minggu pertama pernikahan kami, aku berusaha untuk menjauhinya, sekalipun kami tinggal di rumah yang sama, dan itu sangat menyiksa. Bukan, bukan karena aku harus menahan untuk tidak mencintainya. Hanya saja, untuk seorang pria dewasa sepertiku, rasanya tidak mudah untuk menahan hasrat ingin memiliki dirinya seutuhnya. Aku tidak ingin dipandang sebagai laki-laki yang egois, sekalipun caraku dengan menjauhinya juga akan menyakiti hatinya.
Dan semalam, aku tahu aku sudah tidak bisa menahan perasaanku. Semuanya terlalu lama, sangat lama, hingga pada akhirnya membuncah begitu saja. Aku benar-benar ingin memilikinya, seutuhnya. Dan setelah ini, aku sangat yakin Alisa akan semakin membenci diriku, terlebih karena selama ini caraku untuk menghindarinya sudah terlampau salah.
Aku tahu, sejak awal pernikahanku dengan Alisa memang sudah salah. Tidak ada sedikit pun cinta di antara kami. Aku tahu Alisa telah mencintai orang lain, sedangkan aku sendiri masih terpuruk akibat luka di masa lalu. Oh, haruskah aku ceritakan masa laluku?
***
Namanya Cassandra, seorang wanita Indonesia bersuku Jawa keturunan Italia. Dia terlihat anggun dan sangat cantik dengan kedua matanya yang berwarna biru kehijauan. Dia adalah teman sekampusku dulu, sama-sama berkuliah di universitas bergengsi dan mengambil jurusan yang sama, akuntansi, sekalipun dulu kita memang hampir tidak pernah mengambil kelas yang sama. Gadis cantik nan cerdas selalu dapat menyita perhatian laki-laki di sekitarnya dengan mudah, begitu pula aku yang dengan mudahnya dapat mencintai Cassandra. Dan seperti yang kalian kira, ya aku pun bersaha mendekatinya, sama seperti laki-laki lain yang ada di kampusku. Cassandra juga gadis yang ramah, sekaligus sulit untuk ditebak. Meski banyak laki-laki tampan nan populer yang mendekatinya, pada akhirnya dia justru memilihku, si Mahasiswa kutu buku yang lebih sering berkunjung ke perpustakaan dibanding bergaul atau nongkrong-nongkrong di kafe.
Seiring dengan berjalannya waktu, dapat dikatakan bahwa hubungan kami pun semakin serius, apalagi setelah kami sama-sama bekerja dan memiliki karier yang bagus. Aku pun sempat akan melamarnya sebelum malam itu, ketika pada akhirnya aku sadar akan posisiku di dalam hatinya. Aku pikir, Cassandra adalah wanita yang berbeda. Tetapi, ternyata aku pun salah. Entah mengapa, semakin lama sikapnya berubah 180 derajat dari pertama kali kukenal. Dan ternyata, malam itu semuanya jelas sudah. Sejak awal, dia tidak benar-benar mencintaiku. Dia lebih memilih untuk menerima lamaran Gilang, sahabat kami semasa kuliah, yang notabenenya adalah anak dari salah satu pengusaha kaya raya di Indonesia.
Hatiku remuk godam saat itu juga. Bagaimanapun, aku hanyalah manusia biasa yang akan terluka bila disakiti. Dan sejak saat itu, hidupku benar-benar berubah. Entah mengapa, aku lebih memilih untuk sulit percaya terhadap wanita manapun, dan juga bersikap dingin. Aku lebih fokus terhadap karierku, dan mengambil setiap kesempatan emas yang ada di depan mata, termasuk mendapat beasiswa untuk melanjutkan studi magister ke luar negeri. Dan lagi, sekalipun pada akhirnya aku banyak mengenal wanita, tak ada satu pun dari mereka yang dapat mengambil celah di dalam hatiku. Tidak, sampai pada akhirnya aku bertemu seorang Alisa.
*
Comments
Post a Comment