Broken Heart

Kalau kau bilang aku terlalu baik dan pengertian sehingga kau terlalu takut menyakitiku, lalu perempuan seperti apa yang engkau cari?
Bukankah seharusnya kau sudah tahu konsekuensinya? Cinta tak selamanya bahagia, sayang.
Terkadang kita harus menyakiti satu sama lain, bersedih, menangis, dan kemudian tersenyum lagi untuk meraih apa yang seharusnya kita raih.
Cinta itu demokratis, bukan hanya tentang kau ataupun aku, tapi kita.
Cinta itu bagaimana kamu bisa mencintaiku dengan caramu, dan bagaimana aku mencintaimu dengan caraku.
Masing-masing kita punya cara, meski pada akhirnya justru caraku lah yang membuatmu enggan untuk bertahan,
Meski pada akhirnya caraku untuk mencintaimu ini lah yang membuatku harus menanggung luka, sendirian.

***

Malam itu tak seperti biasanya, bintang-bintang enggan menampakkan dirinya di langit. Awan semakin menghitam, bersamaan dengan angin yang bertiup sepoi-sepoi, meruntuhkan dedaunan kering yang kemudian berserakan menghiasi halaman parkir sebuah kampus yang terletak di bilangan Jakarta Selatan. Malam itu jam telah menunjukkan pukul duapuluh lewat tigapuluh menit, akan tetapi  di sana masih terlihat sebuah mobil SUV berwarna hitam metalic yang sedang terparkir, menunggu sang empunya menjalankan mobilnya. Sang empunya mobil adalah seorang mahasiswi di kampus itu, dan meskipun kini dia telah masuk ke dalam mobil dan kemudian menyalakan mesinnya, nampaknya ia masih enggan untuk menerobos jalanan malam yang pada saat itu masih cukup ramai. Dia lebih memilih menundukkan kepalanya di atas kemudi mobil dan kemudian menangis. Nampaknya perempuan itu memang sedang patah hati.

Perempuan itu terlihat mengepalkan tangannya kuat-kuat, dan kemudian beberapa kali memukul kemudi mobilnya, sekalipun dia tahu bahwa hal itu tak akan mengurangi rasa sakitnya sedikitpun. Tapi tak apa, mungkin dia sudah terlalu kecewa dan marah hingga hanya itulah satu-satunya cara yang ia tahu untuk melampiaskan segala rasa sakit hatinya. Kemudian tak lama ponselnya berdering sekali, tanda ada sebuah pesan masuk.


From: Ben

Maafin aku, Key. Aku tahu ini akan sangat menyakitimu, tapi aku takut kalau kita pertahanin hubungan ini, kamu akan semakin terluka karena sifatku. Udah cukup semua yang kamu korbanin ke aku, Key. Kamu terlalu baik dan terlalu pengertian, aku ga pantes buat kamu.


Kau tahu, bagian apa yang paling sakit dari mencintai? Ya, ketika orang yang selama ini kau perjuangkan setengah mati justru lebih memilih pergi meninggalkanmu sendiri, meninggalkan luka dari kenangan yang sempat kalian lewati bersama.


To: Ben

Kenapa kamu terlalu egois, Ben? Kenapa kamu ga mau mikirin perasaanku? Apa kata keluargaku nanti setelah mereka tahu bahwa aku gagal mempertahankan hubungan kita? Kenapa sih kamu lakuin ini semua? Kalau memang dari awal kamu ragu, kenapa kamu harus datang ke orangtuaku, bahkan kamu telah memasuki ranah keluarga besarku? Tega kamu, Ben!


Keysha nama perempuan itu. Kini rambut panjang sebahunya yang berwarna hitam kecokelatan, yang sedari tadi ia biarkan terurai, sudah terlihat berantakan. Matanya pun bengkak, masih terlihat dengan jelas ada banyak air mata yang mengalir dari sana. Air mata kekecewaan yang sudah tidak dapat ia bendung lagi. Ia pasrah, sekalipun mungkin ia berharap bahwa Tuhan akan mencabut nyawanya saat itu juga. Kehilangan seseorang yang sangat kita cintai bukanlah perkara yang mudah memang, hal itu sungguh memakan banyak tenaga, apalagi ketika kau semakin berusaha untuk melupakannya.

***

"Kenapa makanannya ga dimakan, Key?" tanya seorang perempuan yang kini duduk di sebuah single sofa yang terletak berhadapan di seberang meja Keysha. Perempuan itu terlihat seumuran dengan Keysha. Dan kini mereka sedang berada di sebuah kafe yang terletak tak jauh dari tempat Keysha tinggal.

Kafe itu bernuansa putih, dan disana terdapat beberapa macam lukisan beraliran abstrak yang dipajang di setiap dindingnya. Kafe itu terdiri dari dua bagian, indoor dan outdoor, di mana suasana indoor akan terasa seperti suasana di rumah, sedangkan outdoor-nya akan langsung berhadapan dengan taman yang sengaja ditata sedemikian rupa agar terlihat rapih dan menarik. Di tengah taman tersebut terdapat air mancur minimalis yang menambah suasana sejuk, ditambah dengan beberapa ikan koi berwarna-warni dengan ukuran kecil yang sengaja dipelihara di sana sebagai pemanis.

Akan tetapi, kali ini mereka berdua lebih memilih untuk duduk di bagian dalam kafe itu sembari menikmati jus dan beberapa cemilan yang mereka pesan. Beberapa lagu jazz yang diputar di kafe itu pun mengalun dengan indah, melengkapi Sabtu siang mereka. Kebetulan memang langit sedang cerah, sekalipun tak begitu dengan hati Keysha yang sedang mendung.

"Aku ga nafsu, Lian. Kamu tahu kan, kalau udah kayak gini aku bakal nge-down banget. Lagian aku masih ga habis pikir, kenapa Ben bisa setega itu sama aku. Kamu tahu kan, mamaku udah suka banget sama dia. Terus, kalau mama nanya soal dia lagi, aku harus jawab apa?" ucap Keysha sambil menundukkan wajahnya. Kedua tangannya pun saling bertautan erat.

"Ceritain sama mamamu pelan-pelan, ok? Aku yakin kok Tante bakalan ngerti. Dan oh ya, kalau dia bisa cukup bodoh ninggalin kamu, kamu juga harus cukup pintar dong buat nyari lagi yang baru."

"I don't know, Lian. I'm not ready, yet."

"Key, aku tahu ini ga mudah buat kamu, aku tahu yang namanya putus cinta itu ga mudah, aku tahu ini menyakitkan. Tapi percaya deh sama aku, Key, mungkin Tuhan sedang berbicara dan menunjukkan ke kamu bahwa Ben bukanlah orang baik dan ga pantas kamu perjuangin. Key, cuma waktu yang bisa ngilangin semua rasa sakit yang sekarang kamu rasain. Dan aku yakin kok, pasti kamu kuat dan bisa hadapin semua ini. I'm here fore you, Babe."

***

Dunia memang tak kan pernah sama lagi ketika orang yang kau harapkan untuk tetap berada di sisimu dan bersedia memperjuangkanmu, justru lebih memilih pergi melanjutkan hidupnya sendiri.
Tapi, bukan berarti dengan begitu kamu tidak berhak untuk mendapatkan kebahagiaan yang lain.
Percayalah bahwa Tuhan tidak akan pernah tertidur dan meninggalkanmu sendiri.
Atau mungkin inilah cara Tuhan berbisik kepadamu, memintamu agar tetap tegar.
Karena suatu saat nanti akan tiba waktu yang paling tepat bagi Tuhan, untuk mempertemukanmu dengan pasangan hidup paling baik yang telah dipilihkan oleh-Nya.
Life must go on, and you need to move on.

Comments

Popular Posts