May I Kiss You, Again?
Malam itu seperti biasa, setelah Adelia pergi seharian bersama temannya untuk menghadiri salah satu acara musik yang diadakan di sebuah kafe yang terletak di bilangan Jakarta Selatan, akhirnya mobil sedan yang mereka tumpangi tiba di depan gerbang rumahnya. Baru saja ketika akan membuka pintunya, sebuah tangan kokoh milik seorang lelaki yang berada di balik kemudi justru menahannya., dan Adelia pun berbalik ke arah sang empunya. Adelia bisa mencium aroma tubuh lelaki itu dengan sangat jelas, parfum beraroma musk yang biasanya bisa membuat tubuhnya merinding disko, bahkan ketika siang bolong, kini benar-benar dekat dengan indera penciumannya. Entah mengapa, tiba-tiba tubuh lelaki itu bisa berada begitu dekat dengannya, dan kemudian Adelia benar-benar dapat merasakan nafas lelaki itu di wajahnya. Oh God!
"I know you want me." ucap lelaki itu, kemudian bibirnya menyentuh bibir Adelia dengan lembut dan menyecapnya secara perlahan, hingga lidahnya menelusuri mulut Adelia, menunggu dibalas oleh sang empunya. Namun hal itu tidak berlangsung lama karena pada akhirnya kesadaran Adelia pun kembali dan menyuruhnya untuk segera menyudahinya.
"Stop, you can't do this to me! " ucap Adelia sambil mendorong tubuh lelaki itu perlahan.
"What's wrong, Del? I think, you want me too."
"No, Vero. This is wrong, we shouldn't feel this way. I need to go, sorry." ucapnya, kemudian pergi.
Sejak malam itu, Adelia tahu bahwa meskipun logikanya menolak Vero namun hatinya justru sebaliknya, ia tahu hatinya tidak bisa menolak. Adelia menginginkan Vero lebih dari seorang teman, Adelia mencintainya sebagai seorang lelaki.
***
Dua bulan telah berlalu sejak kejadian malam itu, namun hingga saat ini Adelia masih belum sanggup untuk bertemu dengan Vero, bahkan hanya untuk sekadar bertukar kabar seperti biasa; berkirim pesan melalui WhatsApp, atau mungkin meneleponnya. Adelia masih belum sanggup untuk menatap wajah lelaki itu, yang mungkin, secara tidak sengaja telah ia sakiti dengan menolaknya mentah-mentah malam itu. Entahlah, mungkin Adelia terlalu egois, ia terlalu takut untuk membiarkan lelaki itu memiliki hatinya.
Tapi, bukankah kini bahkan dirinya sudah seperti candu? Oh c'mon, Adelia! Don't you want his lips? Bahkan kamu tahu persis bahwa tidak ada satu pun pria yang sanggup membuatmu merasa sangat bahagia hanya dengan sebuah ciuman singkat. Adelia pun menggelengkan kepalanya, ia harus segera menyingkirkan pikiran-pikiran semacam itu dari dirinya, atau mungkin nanti malam ia akan kembali sulit tidur, yang berakhir dengan menyeruput teh manis hangat seorang diri di kitchen island di apartemennya, dan baru akan tertidur ketika jam menunjukkan pukul 2 pagi, yang berarti bahwa ia hanya akan memiliki waktu 3 jam untuk tidur.
"You look so pale, Adel. Lo kenapa sih? Begadang nonton film Step Up lagi, terus ngebayangin Ryan Guzman naked di depan lo secara live?" ucap seorang perempuan yang tiba-tiba saja sudah berdiri tepat di depan kubikelnya. Nama perempuan itu adalah Chris, teman dekat sekaligus teman se-divisinya di kantor.
"Do you think that I'm so desperate sampe-sampe gue ngebayangin Ryan Guzman naked di depan gue? Oh my God, Chris, yang bener aja." jawab Adelia sambil melotot, sedangkan lawan bicaranya justru terkekeh.
"Secara lo kan udah lama ngejomblo, Del. Dan seinget gue, lo tuh ngefans berat sama si ganteng Ryan Guzman, iya kan? Hahaha..."
"Tapi gue ga se-desperate yang ada di pikiran lo, Chris."
Tiba-tiba saja ponsel Adelia bergetar, tanda ada sebuah panggilan masuk.
"Siapa sih siang-siang gini telepon? Emangnya dia ga tau kalau sekarang lagi jam kerja ya?" ucap Chris sambil geleng-geleng kepala.
"Vero." jawab Adelia dengan suara yang nyaris tak terdengar, namun masih dapat tertangkap dengan jelas oleh Chris dengan gerakan bibir Adelia.
"Yaudah angkat aja. Gue balik ke meja gue dulu ya. Eh jangan lupa, nanti sore lo harus temenin gue makan spaghetti di kafe yang katanya hits banget itu loh, Del. See ya."
"See ya, Chris." ucap Adelia, kemudian ia pun kembali fokus kepada ponselnya yang sedang bergetar dan terdapat nama Vero di sana. Vero Abraham Samudra, lelaki yang paling dia hindari saat itu, namun entah mengapa harus meneleponnya di tengah siang bolong, bahkan ketika otaknya belum bisa berhenti untuk memikirkan kejadian malam itu, ketika bibir itu... Ah, sudahlah!
***
Setelah memenuhi janjinya untuk menemani Chris mencoba rasa spaghetti di salah satu kafe di Jakarta yang terkenal dengan menu western-nya, kemudian Adelia berusaha sekuat tenaga untuk mengumpulkan keberanian bertemu dengan Vero di salah satu mall yang terletak di bilangan Jakarta Selatan. Mereka, Adelia dan Vero pun memutuskan untuk bertemu di sebuah coffee shop yang berada di dalam mall itu.
"Hai." ucap Adelia canggung sambil berusaha tersenyum kepada lelaki yang ada di hadapannya, Vero Abraham Samudra, dengan gaya casualnya: mengenakan polo shirt berwarna hitam, celana panjang khaki, dan aroma musk yang sama, yang mampu membuat Adelia harus menarik nafas panjang karenanya. Bahkan hanya dengan gayanya yang sederhana, bukan dengan setelan jasnya, Vero terlihat sangat tampan. Dengan tubuhnya yang berisi, serta dadanya yang bidang mampu membuatnya menjadi pusat perhatian para wanita. Apalagi kalau sampai mereka tahu bahwa Vero adalah seorang pebisnis muda di bidang properti yang dapat dikatakan sukses mengingat usianya baru saja menginjak 29 tahun, akan tetapi sudah banyak hal yang telah diraihnya.
"Hai, Del. You look different, I think. Sejak terakhir aku ketemu kamu, sekarang kamu kelihatan lebih kurus. Kamu diet?" ucap lelaki itu sambil tersenyum, menampilkan sederet gigi putih yang tersusun rapih, yang membuat Adelia berpikir untuk kabur saat itu juga karena tidak sanggup menahan pesonanya. Namun sedetik kemudian dia sadar bahwa kabur dari lelaki itu adalah tindakan yang sangat kekanakan. Loh, berarti selama ini dia kekanakan? Mungkin.
"Hmm... Iya nih, aku ga mau dibilang gendut sama Chris." jawab Adelia terpaksa berbohong.
"Chris?"
"Eh itu loh, Chris teman sekantorku yang waktu itu aku kenalin, waktu kita ga sengaja ketemu di Sency. Inget?"
"Oh iya iya. Hmm... by the way, kamu kemana aja?"
"Eh? Apa?"
"Iya kamu kemana aja, Del? Kamu masih marah karena malam itu? I know that I was wrong because I kissed you, but I think..."
"Aku sibuk, Ve. Kerjaanku banyak banget di kantor, lagi ada project baru gitu deh. Hehe..." jawab Adelia yang lagi-lagi harus berbohong untuk menghindari suasana awkward.
"We need to talk, Del. Seriously. Kita udah kenal hampir limabelas tahun, dan aku tahu kamu ga pandai berbohong."
"Hmm, Vero..."
"Aku tahu kamu belum terbiasa sama sikapku sejak malam itu. But seriously, Del, I need you to know that I really do love you. Ini bukan karena perasaan nyaman ke teman masa kecil, tapi aku sekarang itu memang jatuh cinta sama kamu. Kamu sebagai seorang wanita dewasa, bukan lagi teman masa kecil yang dulu selalu aku lindungi."
"Vero, aku belum siap. Aku butuh waktu."
***
Tak ada hal lain yang lebih membahagiakan selain menyecap setiap bagian dari bibirmu.
Bibirmu itu bagai candu yang terlalu mengasyikkan, sehingga aku tak akan sanggup untuk menolaknya.
Meski kau menolak dan menghindar dariku berkali-kali, tetap saja aku rela terjatuh lagi dan lagi.
Karena yang aku tahu, kamu dan cinta kita itu adalah hal berharga yang harus kuperjuangkan.
Adelia tersenyum sekali lagi ke arah kamera yang kini telah memotret dirinya entah yang keberapa kali. Ia terlalu asyik menikmati suasana pantai Kuta di senja hari, sambil menanti sunset bersama seseorang yang ia cintai.
"Fotomu bagus-bagus loh, Sayang, bahkan saat candid sekalipun. You look so beautiful, you know?"
"I know. Itu salah satu alasan kenapa kamu jatuh cinta dan menikah sama aku kan?" ucap Adelia tersenyum sambil merapihkan rambut panjang sebahunya yang terurai, yang sudah terlihat sedikit berantakan karena tertiup angin.
"I'm falling in love with you without any reason, Babe. I just did. Cinta ga butuh alasan untuk memihak."
"Diplomatis sekali jawabannya, Tuan." ucap Adelia sambil tertawa kecil, membuat sang lawan bicara gemas, kemudian mengecup bibirnya singkat.
"Don't you remember that we're in public place, hmm?"
"Del, aku cinta kamu. Bahkan rasa bibirmu ga pernah berubah sejak pertama kali aku..."
"Jangan mesum, Vero!"
"Seriously, it's so..." belum sempat Vero menyelesaikan pembicaraannya, kali ini Adelia lah yang mengecup bibir lelaki itu singkat.
"I love you too, hubby."
*
P.S: Even tho I was feeling sleepy when I wrote this in only 15 minutes, hope you like it guys :)
P.S: Even tho I was feeling sleepy when I wrote this in only 15 minutes, hope you like it guys :)
Comments
Post a Comment