Someone Else

Malam ini bintang sedang bersinar terang, begitu pun dengan bulan yang sedang tampak cantik-cantiknya, pemandangan yang sangat kontras dengan gedung kosong yang sudah lama ditinggalkan oleh para penyewanya karena kontrak yang bermasalah. Meski dari luar gedung tersebut terlihat sangat angker, tapi rooftop di gedung itu adalah salah satu spot terbaik untuk memandangi langit malam yang menaungi kota Jakarta yang hampir tidak pernah tertidur.

Perempuan itu duduk sambil memeluk kedua kakinya, sedangkan rambutnya yang terurai panjang, ia biarkan berantakan karena sedari tadi ikut menari bersama hembusan angin. Ia menatap langit lekat-lekat dari atas rooftop sebuah gedung kosong, menikmati bulan dan bintang hanya untuk dirinya sendiri. Ia sudah terlalu muak untuk berbagi, terlebih setelah cinta yang ia bangun dengan begitu mudahnya dicampakkan oleh sang kekasih.

Sebelum-sebelumnya, malamnya adalah milik berdua. Lebih tepatnya, ketika kekasihnya belum melibatkan perempuan lain ke dalam hubungan mereka, perempuan lain yang telah membuat hatinya remuk godam. Ia pun menarik nafas panjang sambil menahan dadanya yang terasa begitu sesak. Ia ingin menangis sekali lagi, tapi bahkan air matanya pun sudah habis mengering tersapu angin dengan seiring berjalannya waktu.

***

"Dimas, pernah ga sih kamu berpikir kalau saat-saat berdua kayak gini, antara kamu dan aku, adalah saat-saat di mana aku merasa sangat nyaman? Kamu tahu kan, aku paling bisa tersenyum saat bersama kamu?" ucap perempuan itu sambil tersenyum dan menggenggam tangan seorang lelaki yang duduk di seberangnya. Saat itu mereka sedang menikmati malam Minggu berdua di sebuah kedai kopi yang terletak di pinggiran kota Jakarta.

Kedai kopi itu menggabungkan antara gaya klasik dengan gaya modern, di mana dindingnya dicat berwarna putih gading, dan digabungkan dengan furniture bernuansa modern. Tak lupa juga, terdapat banyak foto hitam putih yang menjelaskan tentang asal muasal kopi di daerahnya masing-masing, yang dipajang dengan figura bergaya klasik di hampir setiap sudut ruangan. Alunan musik klasik pun membuat suasana semakin syahdu. Tak heran apabila kedai kopi ini menjadi salah satu spot favorite kalangan muda. Selain rasa kopinya memang enak, ditambah dengan suasana tempat yang begitu cozy.

"Hmm... Def, I wanna tell you something." ucap lelaki itu sambil melepaskan genggaman tangan Def.

"Apa? Kenapa, Dimas?" tanya perempuan itu sambil menatap kedua mata lelakinya dengan sangat lekat.

"Kita udah ga bisa sama-sama lagi, Def. I love somebody else. Sorry."

Hanya dalam hitungan detik saja, kata-kata itu telah membuat dada Def terasa sangat sesak. Jantungnya terasa ditikam oleh benda tajam, dan mungkin saja sebentar lagi ia akan mati di tengah keputusasaan. Ia ingin menangis saat itu juga, tetapi ditahannya. Ia tidak ingin terlihat lemah di hadapan laki-laki yang telah menyakitinya. Ia tidak ingin menangis di hadapan laki-laki yang telah meluluh lantahkan cintanya dengan mencintai perempuan lain.

"Apakah dia perempuan yang buat kamu bahagia?" tanya Def sambil memaksakan dirinya untuk tersenyum, meskipun air mata sudah menggenangi kedua matanya.

"Iya, dia adalah perempuan yang buat aku bahagia selama ini, Def. Setelah enam bulan belakangan hubungan kita sudah semakin memburuk."

"Memburuk? Sebelah mananya yang memburuk? Bukankah itu hanya berdasarkan persepsimu saja, Dimas?"

"No, Def. Kamu hanya terlalu naif untuk menyadari ini semua. Kamu selalu sibuk dengan pekerjaanmu, dan begitu pun aku. Lalu perempuan itu hadir sebagai angin segar, yang selalu meluangkan waktunya untuk bersamaku."

"Oh, begitukah? Baiklah. Terimakasih, Dimas." ucap Def, lalu ia bangkit dari duduknya dan berjalan meninggalkan kedai kopi itu. Pahitnya kopi yang ia nikmati tadi, tidak sepahit kisah cintanya yang kandas karena adanya orang ketiga.

***

Di sinilah Def sekarang, di atas rooftop sebuah gedung yang telah lama kosong, sendirian. Selepas kandasnya hubungannya dan Dimas, ia memutuskan untuk pergi ke tempat ini setiap malam, membiarkan kesedihannya menguap bersama udara di malam hari. Ia terlalu malas untuk pulang ke rumah, dan terlalu lelah untuk sekadar menghabiskan waktu di kantor. Kedua tempat itu sudah terlalu banyak menyimpan cerita antara dia dan Dimas. Bahkan ketika untuk pertama kalinya Dimas memberi kecupan di bibirnya dulu. Saat itu Dimas sedang menjemputnya di rumah, untuk diajak ke sebuah konser musik. Ataupun ketika dulu Dimas masih sering menjemputnya ke kantor untuk diantarkan pulang, setelah sebelumnya ia mengajak Def untuk pergi makan terlebih dahulu. Dan kini, hal tersebut pun hanya tinggal kenangan yang tidak mungkin akan terulang kembali. Kenangan setelah lima tahun hubungan mereka. Bahkan dulu Def sempat berpikir bahwa Dimas lah yang akan menjadi suaminya. Tapi kini semuanya sudah terjawab, mimpinya bersama Dimas tinggalah angan-angan.

Def menarik nafas dalam-dalam, kemudian dihembuskannya kasar. Ia sudah berjanji tidak ingin menangis lagi, tapi kali ini air matanya kembali mengalir di pipi mulusnya secara tidak sengaja. Dan tak lama, ia kembali terisak. Lagi-lagi ia larut ke dalam dukanya yang mendalam. Hingga seseorang menepuk pundaknya...

"Hai." ucap seorang laki-laki sambil menepuk pundak Def.

"Bulan dan bintang sedang bersinar terang, sedangkan kedua matamu malah menghadirkan hujan." lanjutnya, kemudian laki-laki itu ikut duduk di samping Def.

Dan saat itu, meskipun Def telah menghentikan tangisannya, ia masih tetap diam tak bergeming. Ia masih menundukkan wajahnya karena malu telah didapati sedang menangis oleh orang asing. Laki-laki pula.

"Sekarang kamu sudah sadar ya kalau malam ini begitu indah untuk ditangisi? By the way, ga usah malu begitu. Setiap orang berhak menangis kok. Menangis itu adalah suatu hal yang wajar, Nona." ucap laki-laki itu lagi.

Def pun menghapus bekas-bekas air matanya dan kemudian menoleh ke arah laki-laki yang sedari tadi mengajaknya bicara.

"Halo. Saya Jonathan, hmm... Joe lebih tepatnya." ucap laki-laki itu sambil tersenyum, dan kemudian mengulurkan tangannya yang langsung disambut oleh Def meskipun dengan agak kikuk.

"Saya Defani. Panggil saya Def."

Dan saat itu juga, hubungan mereka pun dimulai.

Comments

Popular Posts