Katamu

Malam sudah semakin larut, aku dan kamu pun sudah tak lagi bertaut.
Kita bukan seperti dulu lagi, kita sudah semakin menjauh, meski belum jadi sepasang orang asing.

"Teman lelakimu itu terlalu banyak." ucapmu kepadaku malam itu, di kala bintang dan bulan sedang bersinar terang. Tapi tidak dengan matamu, kutahu di sana ada sedih yang menjelma menjadi mendung.

Aku hanya diam seribu bahasa, takut kalau aku bersuara malah hanya membuat semua keadaan yang salah semakin menjadi salah.

"Kamu terlalu banyak membuka pintu. Dan sekarang kamu bingung kan bagaimana caranya membuat mereka pulang ketika mereka sudah terlalu lama menginap?" ucapmu lagi sambil tersenyum sarkas. Mungkin bagimu, saat itu juga adalah kemenangan bagi jiwamu yang sudah tanpa sengaja kulukai. Dan meskipun tak berdarah, ku tahu lukamu menjadikan dirimu hancur dan tak berbekas. Setidaknya aku tahu dari caramu berbicara dulu.

Aku masih diam. Aku enggan membela diri karena pada nyatanya, aku memang pantas untuk kau maki.

"Dan lucunya, kamu selalu kembali kepadaku, kan? Sebanyak apapun ceritamu, kau hanya akan bercerita kepadaku." ucapmu lagi. Dan kali ini, kau benar. Kaulah pemenangnya. Biarkan aku kalah sebagai seorang bedebah yang tak tahu diri, yang tak perlu kau kasihani.

Lalu kau tersenyum lagi dan berkata, "Apa yang kamu cari? Bukankah aku yang membuatmu selalu merasa nyaman? Bukankah nyaman itu artinya cinta?" kali ini, aku terdiam. Mungkin aku sudah gila.

Comments

Post a Comment

Popular Posts