K A M U
Kamu, entah seorang lelaki bodoh macam apa yang tak sengaja kutemui di ujung jalan.
Di bawah rintik hujan yang sedang menghiasi gelap malam, kau tersenyum di balik awan yang kelam.
Kau datang tiba-tiba, gegap langkahmu bagaikan pelangi setelah hujan,
Meski kau membuatku bahagia, semuanya hanyalah bersifat semu dan sementara.
Karenamu kini tawaku kembali ditelan oleh waktu, digantikan dengan rapuh yang tak kunjung menghilang.
Kamu, entah seorang lelaki bodoh macam apa yang tak sengaja kutemui di penghujung bulan.
Kamu yang katanya akan berjuang menaklukan ombak hingga dasar samudera,
Nyatanya, tak ubahnya lelaki pengecut yang mudah menyerah pada takdir kehidupan.
Tak sadarkah kamu bahwa semua yang kamu lakukan hanyalah merusak kehidupan yang telah kubangun susah payah?
Atau, kamu memang sengaja membuatku lemah dan tak berdaya?
Di bawah rintik hujan yang sedang menghiasi gelap malam, kau tersenyum di balik awan yang kelam.
Kau datang tiba-tiba, gegap langkahmu bagaikan pelangi setelah hujan,
Meski kau membuatku bahagia, semuanya hanyalah bersifat semu dan sementara.
Karenamu kini tawaku kembali ditelan oleh waktu, digantikan dengan rapuh yang tak kunjung menghilang.
Kamu, entah seorang lelaki bodoh macam apa yang tak sengaja kutemui di penghujung bulan.
Kamu yang katanya akan berjuang menaklukan ombak hingga dasar samudera,
Nyatanya, tak ubahnya lelaki pengecut yang mudah menyerah pada takdir kehidupan.
Tak sadarkah kamu bahwa semua yang kamu lakukan hanyalah merusak kehidupan yang telah kubangun susah payah?
Atau, kamu memang sengaja membuatku lemah dan tak berdaya?
Comments
Post a Comment