17 Months

Bukan waktu yang singkat jika tujuh-belas bulan kalian harus bertahan demi sebuah cinta yang tak kunjung "berakhir". Tujuh-belas bulan adalah waktu yang sangat lama bagi hati yang menanti sebuah keajaiban yang tak kunjung datang. Dan Tujuh-belas bulan adalah waktu yang sangat berarti dibandingkan hanya sekedar menunggu cinta lama yang tak kunjung kembali.

Aku adalah Mentari. Bukan, bukan seperti yang kalian pikirkan. Aku hanya seorang gadis  yang sedang beranjak dewasa dan baru membuka mataku untuk melihat dunia. Usiaku baru saja beranjak 16 tahun dan aku masih duduk di bangku kelas 2 SMA. Di sini aku akan menceritakan sedikit dari  pengalaman pribadiku tentang cinta kepada kalian.

Namanya adalah Dira, seorang cowok yang usianya terpaut 8 tahun lebih tua dariku, dan aku mengaguminya. Dia adalah seorang drummer yang sudah pernah aku dengar salah satu lagunya dari sebuah situs di internet. Meskipun dia belum begitu eksis di dunianya, dia cukup menyita perhatianku.

Awalnya aku memang cuek dan tidak mau tau tentang dia, sampai akhirnya dia memintaku untuk mendengarkan sebuah lagu yang baru diunggahnya ke internet. Aku pun meng-iya-kannya dan permainan drum nya dalam lagu itu membuatku terkesima.

Jujur saja, aku adalah penggila musik meski pengetahuanku tentang musik masih sangat sedikit. Jadi mudah saja bagiku untuk meyukainya. Apalagi saat itu bagiku pemain band adalah orang yang keren. Bagiku mereka memiliki jiwa yang bebas sehingga mereka dapat berkarya melalui sebuah musik.

"Gimana ?" tanyanya.

"Bagus." jawabku singkat.

"Cuma bagus ?" tanyanya lagi, tapi nadanya sedikit berubah.

"Emangnya aku harus jawab apalagi ?" ucapku malah balik bertanya.

"Mentari, kamu sebenarnya niat ga sih untuk berteman sama aku ? Kok kayaknya kamu ga niat  gitu ya ? Yaudah, maafin aku udah ganggu kamu selama ini."

"Kenapa kamu marah ?"

"Tolong peka dong. Aku suka sama kamu, Tari."

"Oh kamu suka sama aku ya."

"Udahlah ya, emang cuma buang-buang waktu ngomong sama kamu."

"Loh, kok gitu ?"

"Yaudah gini, kamu mau ga jadi pacar aku ?"

Duarrr!!! Rasanya seperti ada yang jatuh tepat di atas kepalaku ketika dia bilang begitu. Aku senang, tapi aku takut. Aku senang karena akhirnya dia bilang bahwa dia menyukaiku, tapi aku takut kalau dia hanya akan mempermainkanku karena usianya yang terpaut lebih tua dariku.

Setelah berpikir berkali-kali, aku memutuskan untuk menerimanya dan berjanji untuk belajar mencintainya.

***
"Hah?! Kalian jadian, Tar ?" tanya Silvia, teman dekatku ketika aku menceritakan kejadian itu.

Aku pun hanya mengangguk sambil tersenyum.

"Kamu ga takut kalau dia cuma akan mainin kamu ? Dia kan...."

"Silvi, aku percaya dia kok. Aku yakin dia ga akan...."

"Tari, kamu tuh masih terlalu lugu dan polos untuk bersama sama dia. Jalan pikirannya tuh berbeda sama jalan pikiran kita, Tar."

Aku pun hanya terdiam sambil mencoba untuk mencerna baik-baik perkataan Silvia barusan. Mungkin perkataan Silvia barusan ada benarnya juga. Tapi, ah sudahlah mungkin aku hanya perlu sedikit mengerti tentang Dira.

***
Setelah sempat sembilan hari bersama-sama Dira, akhirnya hubungan kami berakhir. Namun ini bukanlah akhir yang benar - benar terjadi. Ini hanyalah sebuah permulaan dari ceritaku bersamanya.

Mungkin aku bodoh, amat sangat malah. Setelah dia menyakiti perasaanku dan bermain-main dengannya, aku masih saja terus mengharapkannya. Jujur saja, bagiku melupakan seseorang yang pernah hadir di hidupku tidaklah mudah, butuh perjuangan.

Dan yang lebih bodohnya lagi aku hanya membuang-buang waktuku selama tujuh-belas bulan untuk terus memikirkannya. Bahkan dalam waktu yang selama itu aku terus memberinya kesempatan dan kesempatan yang telah disia-siakannya.

Sekarang aku hanya bisa tertawa melihat "diriku" yang dulu. Di saat aku mengizinkan seseorang untuk menyakitiku begitu mudahnya dan bahkan membiarkan diriku sendiri jatuh ke dalam kesalahan yang sama.

Kali ini kesempatan itu sudah benar-benar habis, aku takkan memberikannya untuk yang kesekian kali :)

*

Comments

  1. Tragis banget ceritanya sabar yaah jodoh mah ga bakal kemana tp ga semua lelaki seperti itu masih banyak yg lebih baik :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts