Cinta di Senja Malam

Suasana di kafe itu malam ini masih sama seperti malam - malam sebelumnya. Masih banyak terlihat muda mudi yang mengunjungi kafe itu, dan tentu saja musik - musik klasik masih dilantunkan. 
Dan selain itu, masih terlihat sosok perempuan yang berusia sekitar 25 tahun yang setia duduk di meja pojokan kafe itu. 

Nama perempuan itu adalah Marina, perempuan yang memang selalu mengunjungi kafe itu setiap malam. Entah untuk apa, tetapi selama ia mengunjungi kafe itu, ia hanya terlihat dengan sebuah laptop dan segelas orange blend float di mejanya. Mungkin hanya sesekali ada lasagna atau sandwich tuna yang ia pesan. Ia selalu datang dengan sebuah mobil honda jazz warna merah yang hanya mengantarnya sampai di loby, lalu pergi dan hanya akan datang lagi ketika Marina memutuskan untuk pergi dari kafe itu. 

Malam ini ada yang berbeda dengan Marina. Malam ini ia datang bersama seorang teman perempuannya. Seorang teman perempuan yang tak kalah cantik dengannya. Namun, seperti biasa ia tetap memilih untuk duduk di meja yang berada di pojokan, dekat jendela yang mengarah ke jalan raya kafe itu. Setelah duduk dan memesan makanan, seperti biasanya Marina kembali mengeluarkan sebuah laptop dari tas nya. 

"Sampai kapan kamu akan begini Meri ?" tanya teman Marina yang sedang duduk di hadapannya. 

"Maksud kamu apa Tita ? Aku ga ngerti." Marina justru balik bertanya kepada teman perempuannya itu yang ternyata namanya adalah Tita. 

"Gini ya Mer, sampai kapan kamu akan terus mencari Bagas ? Sampai kapan kamu akan terus menantinya di sini ? Dia sudah pergi sejak tiga tahun yang lalu Mer. Sudah saatnya kamu mencari pengganti sosoknya yang baru." ucap Tita. 

"Kamu ga ngerti, Ta." jawan Marina. 

"Meri, aku rasa kamu sudah cukup lama menanti Bagas di tempat ini. Tiga tahun bukanlah waktu yang singkat. Sekarang sudah saatnya kamu bangkit dan merelakan semua. Cobalah kamu mencari sosok penggantinya, lalu menikah dengannya." ucap Tita panjang lebar. 

"Tidak semudah itu Tita. Aku masih sangat amat mencintai Bagas. Sulit untukku melupakan semua kenangan ketika bersama dulu." 

"Begini Meri, apakah kamu yakin Bagas masih mengingatmu dan akan datang kembali menemuimu disini ? Apakah kamu yakin dia belum menikahi gadis lain di luar sana ?" 

Marina pun hanya menundukan kepalanya dan memikirkan kembali semua perkataan sahabatnya barusan. Saat itu wajah Marina terlihat sangat tidak bersemangat, matanya pun berkaca - kaca. 

"Lalu apa yang harus aku lakukan Tita ?" tanya Marina dengan wajah yang memerah dan matanya masih terlihat berkaca - kaca. 

"Lupakan dia, Mer. Sekarang sudah berbeda dengan dulu. Kamu harus tetap melanjutkan hidup meski tanpa dia." jawab Tita sambil memberikan sebuah senyuman penyemangat untuk Marina.

Seminggu setelah kejadian malam itu di kafe, sekarang Marina lebih suka menyendiri di dalam kamarnya setelah menghabiskan seharian waktunya di kantor. Ia jadi jarang ke kafe itu lagi, bahkan sudah seminggu ini ia tidak ke kafe. Hal ini menimbulkan tanda tanya di benak kedua orangtuanya, terutama ibunya. 

"Tumben sekali kamu tidak pergi ke kafe selama seminggu ini." ucap ibunya ketika menemukan Marina sedang duduk termenung di halaman belakang rumah. 

"Sedang tidak mood, ibu. Pekerjaanku sedang banyak banyaknya. Daripada aku membuang waktu di kafe itu, jadi lebih baik aku bersantai di rumah." jawab Marina, lalu tersenyum pada ibunya. 

"Apakah kamu sudah bertemu lagi dengan Bagas, Rin ?" tanya ibunya yang membuat dada Marina terasa sesak mendengar nama itu. Nama seorang laki - laki yang dulu dikenalnya saat baru duduk di bangku perguruan tinggi, laki - laki yang sempat menghiasi hari - harinya selama lebih dari empat tahun, dan tentu laki - laki yang sudah seenaknya pergi begitu saja sehingga membuat hatinya terasa sangat sakit. 

"Belum bu. Aku sudah tidak mengharapkannya lagi." jawab Marina sambil menundukan kepalanya. Ia merasa mendustai hati nuraninya. 

"Ibu tau bagaimana sakitnya perasaanmu. Tapi kamu harus tau bahwa waktu takkan pernah berhenti sampai di sini. Ibu yakin kamu bisa menjadi pribadi yang kuat dan tegar. Rin, carilah laki - laki lain di luar sana yang bisa menyayangimu dengan tulus." 

Mendengar perkataan ibunya barusan, perasaan Marina semakin tidak menentu. Dalam hatinya menjerit, bergejolak, sangat kacau. Apalagi ketika tiba - tiba bayangan Bagas kembali menghantui pikirannya saat itu.

Ah Bagas lagi - lagi kamu datang. Aduh Marina, bukannya setiap saat memang begitu ya ? Bukannya memang hanya dia laki - laki yang ada di pikiranmu saat ini ? Bukankah cintamu memang hanya untuk dia ? Bukankah memang hanya dia yang sedang kamu harapkan kehadirannya ? 
Kali ini lain daripada biasanya, perasaan Marina semakin berkecamuk. Namun ketika saat itu terjadi, tiba - tiba ponselnya berdering. Ternyata sebuah panggilan masuk dari sahabatnya, Tita. 

"Ibu, aku angkat telefon dari Tita dulu." ucap Marina, lalu beranjak pergi ke kamarnya.

Setelah memasuki sebuah kamar yang seluruh dindingnya berwarna biru muda dan dihiasi dengan wallpaper bergambar bunga dandelion, Marina kembali melihat layar ponselnya dan menekan tombol 'ANSWER' 

"Halo Tita. Ada apa ?" tanya Marina sambil beranjak ke atas tempat tidurnya dan duduk di sana. 

"Apakah ada yang mengirimkan undangan untukmu hari ini, Mer ?" Tita balik bertanya. 

"Engga. Memangnya undangan apa, Ta ?" Jawab Marina dan kembali menanyakan soal undangan yang Tita tanyakan barusan. 

"Bagas akan menikah, Mer. Dia akan menikah dengan seorang perempuan pilihan orangtuanya." jawab Tita singkat, tanpa basa basi terlebih dahulu. 

Mendengar apa yang barusan Tita katakan, mata Marina terbelalak dan langsung berkaca - kaca, jantungnya berdegup kencang, perasaannya amat sangat sakit. Rasanya seperti ada suatu benda yang sangat tajam yang sedang menusuk - nusuk jantungnya, sehingga dadanya terasa sangat sakit dan perih. Tanpa ia sadari, air matanya pun terjatuh. 

"Benarkah ? Darimana kamu tau tentang perempuan itu ? Bukankah selama ini kamu juga sudah berhenti berkomunikasi dengannya ?" tanya Marina dengan suara yang terdengar serak dan lemah. 

"Ada surat yang ia sertakan dalam amplop itu Mer. Ia sangat menyesal telah menyakitimu dan ia juga sangat mengharapkan maaf dari kamu, orang yang pernah ada dan sangat berarti di hidupnya." 

"Tapi kenapa dia harus pergi tanpa berkata sepatah katapun, Tita ?" 

"Untuk yang itu, aku ga mungkin menjelaskannya di telepon. Sebaiknya besok, saat jam makan siang kita ketemu di kafe biasa." 

"Kenapa harus besok ? Aku butuh jawaban itu sekarang, Ta. Aku mau ketemu kamu sekarang !" 

"Hey, are you crazy ? It's 10 PM." 

"Aku mohon, Tita. Aku sangat memohon untuk kali ini. Aku butuh penjelasan, aku sangat buth itu !" ucap Mariana dengan nada setengah berteriak di telepon. 

"Ok, aku akan ke sana sekarang." jawab Tita, lalu menutup teleponnya. 

Tanpa berbasa basi lagi, Marina langsung mengambil kunci mobilnya dan pergi ke kafe tempat dimana ia biasa menghabiskan waktunya bersama Bagas dulu. Marina pun mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi sehingga hanya dengan waktu 15 menit, ia sudah tiba di kafe itu. 

Kafe itu memang buka 24 jam setiap hari. Hal itulah yang membuat Marina betah untuk berlama - lama di sana. Ia sangat bahagia mengingat semua kenangan lalunya bersama Bagas di kafe itu. Dapat dikatakan kafe itu adalah saksi bisu perjalan cintanya bersama Bagas dulu, bahkan mungkin kafe itu adalah satu - satunya saksi kesetiaan Marina terhadap Bagas. Dengan setianya Marina datang ke kafe itu setiap malam, menunggu berjam - jam, berharap pujaan hatinya akan datang. Namun ternyata setelah Marina lakukan itu semua, hasilnya nihil. Kini kenyataannya Bagas akan segera menikah dengan perempuan lain, perempuan yang sama sekali tidak dapat ia bayangkan rupanya. 

Setelah duduk dan memesan minuman, Marina kembali menatap layar ponselnya. Anehnya tak ada satu pun sms dari Tita. Meskipun begitu, ia tetap bersih keras menunggu sahabatnya itu. 

Semenit, dua menit, sepuluh menit, satu jam, hingga kemudian Marina ketiduran di sana. Namun, tiba - tiba ada sesosok laki - laki yang membangunkannya.

"Bangun, Mer. Kamu ga boleh tertidur di sini." ucap laki - laki itu sambil membelai pipi Marina lembut, lalu kemudian mencium kepalanya hangat. 

"Hah ?! Tita, akhirnya kamu datang ju..." ucap Marina yang tiba - tiba terbangun, namun kata - katanya terpotong setelah melihat sosok laki - laki itu. Seketika itu juga matanya terbelalak, wajahnya memerah, tubuhnya pun berkeringat padahal udara malam itu terasa sangat dingin. 

"Marina, aku sudah lama merindukanmu." ucap laki - laki itu, lalu mendekap tubuh Marina erat. 

Seketika itu juga Marina merasakan kehangatan dan kenyamanan yang sempat ia rasakan dulu. Perasaannya pun belum berubah, masih sama seperti 3 tahun yang lalu. Namun dengan cepat Marina tersadar bahwa keadaan sudah tak sama lagi seperti dulu. Dengan segera ia lepaskan tubuhnya dari dekapan laki - laki itu. 

"Kita sudah tidak bersama lagi, kita sudah tidak seperti dulu Bagas. Dan kamu akan menikahi perempuan itu." ucap Marina dengan mata yang berkaca - berkaca. 

"Tapi aku masih mencintaimu, sama seperti dulu Mer." ucap Bagas sambil menatap wajah Marina dalam dalam. 

"Engga Bagas. Kamu sudah memilih untuk meninggalkanku." ucap Marina berusaha tegar. 

"Justru itu, aku kesini untuk kembali sama kamu dan mengulang semuanya. Maafkan aku." 

"Semuanya sudah terlambat, Bagas. Kembalilah dan nikahi perempuan itu. Percayalah, aku akan baik - baik saja." 

"Tapi, Mer..." 

"Meskipun kamu sudah menikah nanti, percayalah aku akan tetap mencintai kamu. Aku pun sama sekali ga membayangkan untuk menemukan laki laki lain yang sama seperti kamu. Kalau kamu memang mencintaiku, lupakan aku Bagas. Ini bukanlah akhir dari cerita cinta kita. Justru ini adalah awal dari segalanya meskipun ini sangat menyakitkan." ucap Marina lalu tersenyum, dan kemudian pergi meninggalkan Bagas. 

*END*

Comments

Post a Comment

Popular Posts