Happiness In A Trouble
Malam itu aku menatap lurus langit-langit kamarku dan kuperhatikan setiap detailnya. Langit-langit itu berwarnakan langit, berlukiskan awan yang sering aku dapatkan ketika aku membidik pemandangan pada hamparan langit biru saat sore hari, di atas balkon rumahku. Cantik, sama seperti kisah kecilku yang selalu aku rindukan. Impian tanpa batas, kasih sayang, dan keagungan sebuah keluarga yang utuh dan harmonis.
Langit-langit berlukiskan awan itu adalah hasil desainku saat aku masih duduk di bangku kelas 5 SD, tujuh tahun yang lalu. Aku pernah bilang pada kedua orangtuaku bahwa aku sangat suka menatap langit yang biru dan dipenuhi awan, karena pada saat itu imajinasiku akan melayang jauh ke angkasa raya. Aku sering bilang pada mereka bahwa aku akan sangat senang terus menatap langit bersama mereka disela-sela waktu senggang ketika sore hari. Sambil mengimpikan masa depan, aku mengajak mereka bercengkerama, disertai dengan suara kicauan burung yang bertengger di atas pohon di seberang jalan rumahku.
Namun, kini tampaknya langit-langit itu berubah menjadi kelabu bersama jiwaku yang telah berubah menjadi sendu. Segala impian dan kebahagiaan itu seperti hilang terbawa hembusan angin yang juga telah berhasil menelan jasad ibuku ke dalam tanah. Aku telah kehilangan. Hidupku kini telah berubah, berubah menjadi kesedihan yang mungkin akan menjadi abadi. Aku rindu akan kehadiran ibu di sisiku bersama ayah, aku rindu senyuman ibu, dan juga dekapan hangatnya yang tak akan pernah aku dapatkan dari wanita manapun, kecuali ibu.
Kesedihanku pun rasanya bertambah lengkap dengan kehadiran wanita lain di rumah ini, kehadiran seorang istri baru ayah yang juga harus kupanggil dengan sebutan 'ibu'. Bagaimana mungkin aku memanggilnya ibu sedangkan masih ada ibu lain yang sangat kucintai di hati ini?
"Aku ga sanggup, ayah." jawabku ketika ayah memintaku untuk memanggilnya 'ibu', seorang wanita bernama Jelita yang telah dinikahi ayah seminggu yang lalu.
"Ayah yakin kamu pasti bisa, Alexa." ucap ayah sambil membelai rambutku, sama seperti ketika dulu aku menangis.
"Jangan paksa aku, yah. Aku belum siap untuk menerima tante Jelita."
"Sayang, sekarang dia adalah ibumu, panggil dia ibu."
"Aku kan sudah bilang, jangan paksa aku!" ucapku, kemudian aku membelakangi ayah yang masih duduk di pinggir tempat tidurku. Ia masih terus menatap lurus ke arahku.
"Baiklah jika ayah mengganggumu, maafkan ayah." ucapnya, kemudian pergi.
***
Berhari-hari harus kulewati sendiri, tanpa ibu. Meski aku masih memiliki kedua kaki untuk berjalan, kedua tangan untuk meraih jalanku, namun kini rasanya begitu sulit. Dunia seperti tak berwarna lagi, hanya ada hitam dan putih. Kini aku benar-benar kehilangan.
Rasanya sangat sulit, bahkan semakin sulit ketika ayah dan istri barunya memiliki seorang anak perempuan baru bernama Annette. Kini aku merasa sesuatu yang seharusnya jadi milikku sudah lenyap, segalanya yang berhubungan tentang ayah rasanya sudah berhasil mereka renggut dari hidupku. Rasanya aku ingin marah, namun pada nyatanya aku tak kuasa. Hanya air matalah yang selalu menemaniku, yang pada akhirnya akan mengalir di pipi, dan kemudian hilang.
"Aku merindukanmu, ibu." ucapku sambil menangis sendirian di atas balkon depan kamarku
"Aku tak tahu lagi apa yang harus lakukan. Rasanya berat sekali, bu. Tanpa ibu di sini rasanya sangat sulit. Aku merindukan ibu, aku ingin ibu ada di sini dan memelukku erat seperti dulu, bu. Aku sangat ingin."
Tiba-tiba seseorang menyentuh bahuku, rasanya sangat hangat.
"Saya tahu kamu pasti sangat merindukan ibumu. Tapi jangan khawatir, saya di sini juga untuk menemani kamu. Saya tahu kamu pasti marah sama saya karena kamu pikir saya berniat merebut ayahmu, tapi kenyataannya bukan begitu, Alexa. Saya pernah merasakan hal yang sama dengan apa yang kamu rasakan sekarang. Jadi, saya tidak mungkin menyakiti kamu karena itu sama saja menyakiti saya yang telah lalu." ucap orang itu yang ternyata adalah tante Jelita. Nadanya sangat lembut, namun terdengar seperti ada kesedihan yang mendalam juga di sana, di dalam kalimat yang berhasil ia utarakan di hadapanku.
"Maksud tante apa? Merasakan hal yang sama? Tante tahu apa dengan apa yang saya rasakan sekarang? Tante ga tahu apa-apa! Bahkan sekarang saja tante sudah berhasil mendapatkan kebahagiaan tante bersama ayah dan anak baru kalian!"
"Kamu tidak pernah tahu tentang kisah saya di masa lalu, Alexa. Saya juga pernah merasakan kehilangan seorang ibu yang sangat mengasihi saya, sama seperti apa yang kamu alami. Tapi saat itu saya sadar bahwa ibu saya tidak mungkin akan pernah kembali lagi. Saya tahu bahwa saya harus bangkit, Alexa. Meskipun sangat sulit, tapi pada kenyataannya saya berhasil. Saya tidak boleh bersedih terus menerus, saya harus ber-orientasi pada masa depan. Dan saya yakin kamu pasti bisa. Saya tidak ingin kamu terus-terusan bersedih seperti saat ini, Alexa." ucapnya sambil menangis, kemudian pergi.
Ya Tuhan, apakah perbuatanku telah menyakiti perasaannya? Maafkan aku jika begitu adanya.
***
Setelah sekian lamanya aku coba bangkit dari kesedihanku, mencoba untuk menerima segala yang telah Tuhan gariskan pada hidupku, akhirnya kini kesedihanku terasa berkurang. Setidaknya aku sadar bahwa kenyataannya aku masih memiliki seorang ayah dan 'ibu' baru yang menyayangiku. Dan kini aku pun semakin dekat dengan Annette, seorang adik yang sangat manis, yang biasa kupanggil dengan anak surga. Wajahnya yang cantik dan lucu, serta tingkahnya yang sangat menggemaskan membuatku mengerti akan indahnya memiliki seorang adik. Meski dia bukan adik kandungku, namun setidaknya aku sangat menyayanginya. Mereka semua mengajariku bahwa ternyata di balik kesedihanku selama ini, masih ada kebahagiaan yang Tuhan berikan padaku.
*
kayak orang yang malang banget lu bro
ReplyDeleteIt's only a fiction :)
ReplyDelete