Sihir

Empat bulan lebih aku sudah terbiasa denganmu, sikapmu yang selalu membuatku merasa kau adalah aku, kita adalah satu. Kamu selalu ada di sini, di sampingku, meski nyatanya aku masih terlalu dini untuk berkata seperti itu. Kita belum pernah saling menyapa, bertatap muka, apalagi saling mendekap satu sama lain. Namun, aku merasa kamu telah berhasil memeluk hatiku, hatiku yang sebelumnya sangat kosong dan hampa. Seperti krayon, kamu telah berhasil melukis di atas kanvasku dan mengisinya dengan segenap rasa yang kau miliki. Aku mencintaimu, sungguh sangat mencintaimu.

Pagi itu aku terbangun dari tidurku, menatap layar ponselku dan berharap akan ada namamu terpajang di sana. Dan syukurlah, ternyata namamu ada. Kamu mengirimiku sebuah pesan singkat, dan aku bahagia. Aku bahagia karena ternyata kamu telah bersedia untuk menyempatkan waktumu untukku, atau setidaknya kamu masih mengingatku.

"I can't wait to meet you!" ucapku, kemudian aku mulai bergegas ke kamar mandi dan bersiap ke sebuah acara.

Aku harap kamu akan menemuiku di acara itu, berharap kamu akan ada dan menyapaku. Ya, aku berharap. Bukankah berharap itu tidak ada salahnya selagi masih di dalam batas kewajaran? Lagipula bukankah aku masih pantas untuk mengharapkanmu, seseorang yang begitu aku cintai? Dan, aku pun berharap kamu akan merasakan hal yang sama sehingga harapanku ini tak berujung sia-sia.

Pukul 7 dan aku pun telah siap untuk berangkat. Aku tidak sendirian, tetapi dengan ketiga temanku yang lain, dan juga yang pasti dengan segenap rasa yang telah lama berkobar di dalam dada. Aku menantimu.

***

Hari itu berakhir, dengan rasa kecewa aku melepaskan penat di atas tempat tidurku. Aku terluka. Tahukah kamu betapa dalamnya perasaan ini? Dan kamu justru menggoreskan luka itu di sini, di hatiku. Bukankah sangat tidak berperasaan jika pengorbanan yang telah kuberikan selama ini hanya kau balas dengan segelintir janji manis yang tak kunjung nyata? Bukan main rasanya, miris.

Keesokan harinya kamu bilang bahwa kamu melihatku, kamu berada di sampingku, tapi kamu masih butuh waktu untuk menyapaku. Semudah itukah kamu katakan? Lalu, waktu yang telah terbuang selama ini apa? Aku marah, aku sedih, aku hancur, aku galau, aku kecewa. Ingin rasanya aku teriak, ingin rasanya aku lari, tapi tidak bisa. Aku tidak bisa tegas pada diriku sendiri, sebuah pembodohan yang disebabkan oleh rasa cintaku padamu, tapi sayang kamu bahkan tak menyadari itu. 

Telah lama aku menantimu, tapi kamu tak pernah ingin untuk mengerti, sedikit pun tidak. Yang kamu bilang hanya jikalau kamu butuh waktu, waktu, dan lagi-lagi waktu. Aku coba untuk mengerti dirimu, sedalam apapun itu, meski tidak dengan sebaliknya. Tidak sebaliknya dengan kamu, kamu yang bahkan tidak tahu betapa inginnya aku berada di sampingmu, merasakan bahwa kamu adalah nyata, mencintaimu secara utuh, memilikimu, merasakan hangatnya tanganmu, atau mungkin hanya sesederhana merasakan setiap hembusan nafasmu, itu saja tetapi sulit. Ah, mengapa sulit sekali menggapaimu? Aku tersiksa!

Jika saja kamu tahu bahwa di sini aku menangis tersedu karenamu, andai saja kamu tahu bahwa di sini aku sangat menginginkanmu, ah andai saja. Tapi rasanya setiap air mata yang kuteteskan karena dirimu, semakin hari semakin tidak ada gunanya lagi. Kamu mungkin tak ingin peduli.

Kenapa rasanya cintaku ini semakin sulit? Seperti peluang dalam matematika, mungkin semakin lama, peluang bagiku semakin kecil untuk mencintaimu. Mencintaimu sebagai sosok yang nyata dalam hidupku, bukan seperti sekarang. Semoga kamu sadar dan mengerti akan hadirnya aku saat sekarang. Aku harap kamu tidak terlambat untuk membacakan mantra pada setiap sihir cinta yang telah berhasil mengubah hidupku, bahkan mungkin hidup kita.

My love for you as deep as yesterday, never change like the sun which always appear on the sky everyday. You're the true happiness until God separate us, until the end of my life. I hope you'll be the last, love you :')

Comments

Popular Posts