Menanti dalam Kerinduan
Kinanti, seorang mahasiswi jurusan ilmu politik di salah satu universitas negeri ternama di Jakarta. Seorang perempuan berusia 20 tahun yang punya banyak mimpi, yang sedang berusaha keras untuk meraih impiannya. Kinanti memang bukan anak dari orang kaya. Ibunya hanyalah seorang ibu rumah tangga, sedangkan ayahnya hanyalah seorang buruh serabutan. Hidupnya penuh dengan kekurangan, namun Kinanti tetap bersyukur karena dengan kekurangan itu lah dia bisa termotivasi untuk maju. Cita-citanya sangat mulia, menjadi seorang aktivis dan membantu rakyat kecil, memajukan Indonesia lebih tepatnya. Namun hidup memang tak pernah semudah yang dibayangkan. Kinanti harus belajar ekstra keras untuk mempertahankan beasiswanya dan dengan bekerja sambilan untuk membiayai kehidupannya di Jakarta. Kinanti bekerja sebagai seorang penjaga kasir di sebuah kafe milik orangtua salah seorang teman kuliahnya. Setelah pulang kuliah hingga malam menjelang ia harus bekerja keras untuk membiayai hidupnya, setelah itu ia pun masih harus belajar hingga pagi menjelang demi mempertahankan beasiswa yang telah berhasil diraihnya. Kinanti sadar ia tak memiliki banyak pilihan, kehidupan dan masa depannya sangat bergantung pada usahanya, bahkan kehidupan kedua orangtua dan seorang adiknya sekalipun. Itu lah yang membuat Kinanti bersemangat meski tubuhnya kini semakin kurus karena kurang terurus.
Kinanti adalah gadis yang pendiam dan tidak banyak bersuara, sangat berlawanan dengan anak politik kebanyakan. Namun yang mengejutkan adalah statement-statement yang ia kemukakan sangat menyita perhatian teman-temannya, statement yang apik. Maka tak jarang laki-laki yang mengaguminya, bahkan senior-seniornya di kampus. Meski banyak lelaki yang berusaha untuk mendekatinya, Kinanti tetap memilih diam, ia tidak ingin usahanya selama ini menjadi sia-sia hanya karena masalah cinta. Tapi bukan berarti Kinanti tak pernah jatuh cinta. Ia bahkan masih menyimpan perasaannya dalam-dalam kepada seorang pemuda di desanya, di sebuah desa bernama Tambaksari yang terletak di sebuah kabupaten di Jawa Tengah. Nama pemuda itu adalah Hadi, seorang anak pengusaha ternak yang juga teman sejak kecilnya. Dulu mereka sering bermain bersama hingga SMA, dan kemudian harus terpisahkan jarak antara dua kota, Jakarta dan Jogjakarta. Hadi memilih untuk melanjutkan studi ke salah satu perguruan tinggi negeri di Jogjakarta, berusaha meraih cita-citanya sebagai seorang sarjana kedokteran. Ya, impian mereka sama, yaitu menolong orang banyak. Hanya saja pemikiran mereka dalam hal cara sangat berbeda.
"Kamu kapan pulang toh, nduk? Ibu sama bapak kangen." ucap ibunya dari seberang dengan logat bahasa jawa yang kental.
"Ya nanti Bu, kalau Kinan sudah ada rezeki, Kinan pasti pulang. Tapi ya ndak sekarang-sekarang ini. Apalagi kan tugas Kinan numpuk, Bu." jawab Kinan sambil tersenyum meski di hatinya, ia menahan lara akibat beban berat yang dipikulnya.
"Oh ya nduk, kemarin ibunya nak Hadi bilang ke ibu, katanya nak Hadi titip salam untuk kamu. Salam rindu katanya."
"Ah ibu ini ada-ada saja, Bu." kali ini wajah Kinanti mulai memerah.
"Ah ndak usah malu-malu toh, nduk. Ibu kan sudah pernah muda juga, sudah pernah merasakan manis dan pahitnya percintaan hehe."
"Ibu nih bisa aja deh. Kinan bukannya ndak suka sama Hadi, tapi Kinan ndak mau pacaran dulu. Kan Kinan sudah pernah bilang sama ibu kalau Kinan mau fokus kuliah dulu supaya bisa banggain Ibu."
"Oalah ibu ngerti. Kamu suka juga kan sama nak Hadi, nduk?"
Kinan pun hanya terdiam malu-malu. Tak lama Kinan mengucapkan salam dan memutuskan sambungan teleponnya.
Malam itu adalah malam Minggu, malam dimana Kinan bisa menikmati waktu rehatnya meski hanya sebentar. Dari dalam jendela kamarnya, Kinan menatap langit, langit yang bertabur bintang dengan indahnya cahaya rembulan. Malam ini bukan kali pertama ia merasakan kesendirian, namun kali ini makna kesendiriannya jelas terasa berbeda.
Sudah hampir 3 tahun lamanya ia menetap di Jakarta seorang diri. Itu bukanlah hal yang mudah, setiap peluh yang menetes dari tubuhnya memiliki makna tersendiri. Perjuangan hidup yang tak mudah, namun justru hal ini lah yang ia yakini akan membawanya untuk menggapai semua mimpinya, menjadi seorang aktivis. Dia sadar akan status sosialnya, namun jiwa optimisnya lah yang membawanya sampai di titik ini. Cacian dan hinaan bukanlah jadi hal asing baginya. Namun pada akhirnya berkat cacian dan hinaan itu lah ia dapat membuktikan pada semua orang bahwa ia bisa. Seorang pelajar miskin yang tidak punya modal apa-apa pun akhirnya bisa kuliah dan hidup di Jakarta. Hanya modal tekad yang kuat yang dapat membawanya hingga ke tahap ini.
"Ya Allah, aku hanya ingin melakukan yang terbaik, terbaik bagiku dan kedua orangtuaku. Jagalah cintaku, biarkanlah kutitipkan cinta ini padaMu. Biarkanlah rindu yang menyapa hati tetap abadi, seperti hal nya malam yang selalu identik dengan bintang. Biarkanlah kunanti dia dalam kerinduan. Jagalah dia ya Allah, jagalah dia." ucapnya lirih.
***
Malam Minggu di Jogja, di sebuah kota pelajar membuat laki-laki itu merasa sedikit lebih damai dari malam-malam yang lainnya. Pasalnya hanya di malam Minggu ini lah ia bisa merasakan waktu istirahat yang lebih lama dari biasanya. Setidaknya ia bisa melupakan tugas kampusnya meski hanya sesaat.
Waktu telah menunjukkan pukul 7 malam, namun rasanya masih terlalu dini untuk pergi tidur. Laki-laki itu pun memutuskan untuk pergi ke Malioboro, ikut merasakan keramaian kota Jogja bersama kedua temannya; Agil dan Galih. Dengan mengendarai sepeda motor, mereka pun hanya menghabiskan waktu tempuh selama limabelas menit dari tempat kostnya. Dan seperti biasa, mereka memilih untuk memburu nasi kucing yang dijajakan di jalan-jalan kecil di sekitaran Malioboro.
"Bu, nasi kucing sama teh manis hangatnya tiga." ucap Agil, sedang laki-laki itu dan seorang temannya yang lain masih sibuk mengurusi helmet mereka.
"Ribet banget sih kamu ini. Ini baru masalah helmet, bukan cewek apalagi skripsi." celetuk Galih kepada laki-laki yang diboncengnya tadi, Hadi.
"Ya habis kamunya ndak bantuin aku sih, udah tau aku ndak tau mesti naruh helmet-nya dimana, bantuin kek."
"Duh kalian ini ribet banget sih kayak cewek." celetuk Agil.
"Ih yowess, helmet-nya aku bawa aja biar gampang. Beres, kan?" ucap Hadi.
Kemudian Hadi dan Galih pun ikut duduk di samping Agil yang sedang menikmati makanan dan minumannya.
"Tuh udah aku pesenin. Kalau satu masih kurang, pesen lagi aja." ucap Agil sambil terus menikmati hidangan yang berada di hadapannya, seporsi nasi kucing dan segelas teh manis hangat. Sedang kedua temannya hanya mengangguk.
Setelah mereka menghabiskan makanannya, mereka pun tak ingin cuma-cuma menghabiskan waktu rehat mereka. Dan malam ini mereka bertiga pun memilih untuk berbincang-bincang di sebuah kedai nasi kucing langganan mereka itu.
"Gimana Kinan? Ada kemajuan, ndak?" tanya Galih sambil menghisap rokoknya.
"Matiin dulu rokoknya, baru nanti aku jawab. Anak kedokteran kok ngerokok kamu ini."
"Yowess lah aku matiin ini. Yaudah, jawab lah."ucap Galih sambil mematikan batang rokoknya.
"Jadi aku ini memang suka sama Kinan, dia anaknya baik dan pekerja keras, cantik pula. Tapi aku tau dia ini anaknya gimana. Dia ini bukan tipe perempuan sembarangan. Aku yakin dia ndak akan mau sembarangan memilih laki-laki untuk dijadikan sebagai pendampingnya."
"Ya terus gimana, Di?" sekarang giliran Agil yang bertanya.
"Aku mau selesaiin kuliahku dulu di sini, dan dia pun sama. Aku tahu kami ini sama-sama berambisi untuk meraih impian kami. Dan aku yakin kalau dia jodohku, pasti ndak akan kemana, Insya Allah. Sama seperti kisahnya Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra, putri Baginda Rasulullah saw." ucap Hadi mantap.
Kinanti adalah gadis yang pendiam dan tidak banyak bersuara, sangat berlawanan dengan anak politik kebanyakan. Namun yang mengejutkan adalah statement-statement yang ia kemukakan sangat menyita perhatian teman-temannya, statement yang apik. Maka tak jarang laki-laki yang mengaguminya, bahkan senior-seniornya di kampus. Meski banyak lelaki yang berusaha untuk mendekatinya, Kinanti tetap memilih diam, ia tidak ingin usahanya selama ini menjadi sia-sia hanya karena masalah cinta. Tapi bukan berarti Kinanti tak pernah jatuh cinta. Ia bahkan masih menyimpan perasaannya dalam-dalam kepada seorang pemuda di desanya, di sebuah desa bernama Tambaksari yang terletak di sebuah kabupaten di Jawa Tengah. Nama pemuda itu adalah Hadi, seorang anak pengusaha ternak yang juga teman sejak kecilnya. Dulu mereka sering bermain bersama hingga SMA, dan kemudian harus terpisahkan jarak antara dua kota, Jakarta dan Jogjakarta. Hadi memilih untuk melanjutkan studi ke salah satu perguruan tinggi negeri di Jogjakarta, berusaha meraih cita-citanya sebagai seorang sarjana kedokteran. Ya, impian mereka sama, yaitu menolong orang banyak. Hanya saja pemikiran mereka dalam hal cara sangat berbeda.
"Kamu kapan pulang toh, nduk? Ibu sama bapak kangen." ucap ibunya dari seberang dengan logat bahasa jawa yang kental.
"Ya nanti Bu, kalau Kinan sudah ada rezeki, Kinan pasti pulang. Tapi ya ndak sekarang-sekarang ini. Apalagi kan tugas Kinan numpuk, Bu." jawab Kinan sambil tersenyum meski di hatinya, ia menahan lara akibat beban berat yang dipikulnya.
"Oh ya nduk, kemarin ibunya nak Hadi bilang ke ibu, katanya nak Hadi titip salam untuk kamu. Salam rindu katanya."
"Ah ibu ini ada-ada saja, Bu." kali ini wajah Kinanti mulai memerah.
"Ah ndak usah malu-malu toh, nduk. Ibu kan sudah pernah muda juga, sudah pernah merasakan manis dan pahitnya percintaan hehe."
"Ibu nih bisa aja deh. Kinan bukannya ndak suka sama Hadi, tapi Kinan ndak mau pacaran dulu. Kan Kinan sudah pernah bilang sama ibu kalau Kinan mau fokus kuliah dulu supaya bisa banggain Ibu."
"Oalah ibu ngerti. Kamu suka juga kan sama nak Hadi, nduk?"
Kinan pun hanya terdiam malu-malu. Tak lama Kinan mengucapkan salam dan memutuskan sambungan teleponnya.
Malam itu adalah malam Minggu, malam dimana Kinan bisa menikmati waktu rehatnya meski hanya sebentar. Dari dalam jendela kamarnya, Kinan menatap langit, langit yang bertabur bintang dengan indahnya cahaya rembulan. Malam ini bukan kali pertama ia merasakan kesendirian, namun kali ini makna kesendiriannya jelas terasa berbeda.
Sudah hampir 3 tahun lamanya ia menetap di Jakarta seorang diri. Itu bukanlah hal yang mudah, setiap peluh yang menetes dari tubuhnya memiliki makna tersendiri. Perjuangan hidup yang tak mudah, namun justru hal ini lah yang ia yakini akan membawanya untuk menggapai semua mimpinya, menjadi seorang aktivis. Dia sadar akan status sosialnya, namun jiwa optimisnya lah yang membawanya sampai di titik ini. Cacian dan hinaan bukanlah jadi hal asing baginya. Namun pada akhirnya berkat cacian dan hinaan itu lah ia dapat membuktikan pada semua orang bahwa ia bisa. Seorang pelajar miskin yang tidak punya modal apa-apa pun akhirnya bisa kuliah dan hidup di Jakarta. Hanya modal tekad yang kuat yang dapat membawanya hingga ke tahap ini.
"Ya Allah, aku hanya ingin melakukan yang terbaik, terbaik bagiku dan kedua orangtuaku. Jagalah cintaku, biarkanlah kutitipkan cinta ini padaMu. Biarkanlah rindu yang menyapa hati tetap abadi, seperti hal nya malam yang selalu identik dengan bintang. Biarkanlah kunanti dia dalam kerinduan. Jagalah dia ya Allah, jagalah dia." ucapnya lirih.
***
Malam Minggu di Jogja, di sebuah kota pelajar membuat laki-laki itu merasa sedikit lebih damai dari malam-malam yang lainnya. Pasalnya hanya di malam Minggu ini lah ia bisa merasakan waktu istirahat yang lebih lama dari biasanya. Setidaknya ia bisa melupakan tugas kampusnya meski hanya sesaat.
Waktu telah menunjukkan pukul 7 malam, namun rasanya masih terlalu dini untuk pergi tidur. Laki-laki itu pun memutuskan untuk pergi ke Malioboro, ikut merasakan keramaian kota Jogja bersama kedua temannya; Agil dan Galih. Dengan mengendarai sepeda motor, mereka pun hanya menghabiskan waktu tempuh selama limabelas menit dari tempat kostnya. Dan seperti biasa, mereka memilih untuk memburu nasi kucing yang dijajakan di jalan-jalan kecil di sekitaran Malioboro.
"Bu, nasi kucing sama teh manis hangatnya tiga." ucap Agil, sedang laki-laki itu dan seorang temannya yang lain masih sibuk mengurusi helmet mereka.
"Ribet banget sih kamu ini. Ini baru masalah helmet, bukan cewek apalagi skripsi." celetuk Galih kepada laki-laki yang diboncengnya tadi, Hadi.
"Ya habis kamunya ndak bantuin aku sih, udah tau aku ndak tau mesti naruh helmet-nya dimana, bantuin kek."
"Duh kalian ini ribet banget sih kayak cewek." celetuk Agil.
"Ih yowess, helmet-nya aku bawa aja biar gampang. Beres, kan?" ucap Hadi.
Kemudian Hadi dan Galih pun ikut duduk di samping Agil yang sedang menikmati makanan dan minumannya.
"Tuh udah aku pesenin. Kalau satu masih kurang, pesen lagi aja." ucap Agil sambil terus menikmati hidangan yang berada di hadapannya, seporsi nasi kucing dan segelas teh manis hangat. Sedang kedua temannya hanya mengangguk.
Setelah mereka menghabiskan makanannya, mereka pun tak ingin cuma-cuma menghabiskan waktu rehat mereka. Dan malam ini mereka bertiga pun memilih untuk berbincang-bincang di sebuah kedai nasi kucing langganan mereka itu.
"Gimana Kinan? Ada kemajuan, ndak?" tanya Galih sambil menghisap rokoknya.
"Matiin dulu rokoknya, baru nanti aku jawab. Anak kedokteran kok ngerokok kamu ini."
"Yowess lah aku matiin ini. Yaudah, jawab lah."ucap Galih sambil mematikan batang rokoknya.
"Jadi aku ini memang suka sama Kinan, dia anaknya baik dan pekerja keras, cantik pula. Tapi aku tau dia ini anaknya gimana. Dia ini bukan tipe perempuan sembarangan. Aku yakin dia ndak akan mau sembarangan memilih laki-laki untuk dijadikan sebagai pendampingnya."
"Ya terus gimana, Di?" sekarang giliran Agil yang bertanya.
"Aku mau selesaiin kuliahku dulu di sini, dan dia pun sama. Aku tahu kami ini sama-sama berambisi untuk meraih impian kami. Dan aku yakin kalau dia jodohku, pasti ndak akan kemana, Insya Allah. Sama seperti kisahnya Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra, putri Baginda Rasulullah saw." ucap Hadi mantap.
Comments
Post a Comment