The Rain

Jangan pernah bertanya padaku mengapa aku mencintai hujan, karena aku pun tak tahu.
Sama seperti ketika aku mencintaimu, aku tidak tahu. Bahkan ketika hujan mengingatkanku padamu, menerobos masuk ke semua kenangan masa lalu kita. Ya, kita. Hanya aku dan kamu, tanpa dia.

Tampaknya siang itu hujan akan turun sebentar lagi. Tak ada lagi sinar matahari yang mampu menerobos masuk ruang melalui jendela-jendela di dalam kelas. Kini sinar itu digantikan dengan semilir angin yang berhembus dan menyejukkan jiwaku. Langit pun menghitam, debu-debu berterbangan, mencari-cari ruangan kosong untuk dihinggapi. Bel jam pelajaran terakhir pun berbunyi, tanda pelajaran ekonomi telah usai. Aku pun memasukkan buku-bukuku ke dalam tas dengan segera, berharap aku akan tiba di rumah saat hujan belum turun. Tapi ternyata usahaku sia-sia. Baru saja aku akan berlari keluar kelas, hujan turun dengan derasnya. Suara gemericik air pun terdengar dari atap dan halaman sekolah, rasanya indah sekali setiap aku mendengarkan tetesan demi tetesan air yang turun.

"Ga pulang?" tanya teman sekelasku, Aida.

"Ga deh, nungguin hujannya berhenti dulu." jawabku.

"Emangnya ga dijemput?" tanyanya lagi, aku pun hanya menggelengkan kepala.

"Oh, yaudah gue duluan. Gue diajak bareng sama Aldi, lumayan lah dapet tebengan hehe. Hati-hati ya, Bil." ucapnya, kemudian berlari keluar kelas dan menghampiri Aldi yang sedang menunggunya sejak tadi.

Tiba-tiba ponselku pun bergetar, tanda ada sms masuk.

From: Danang

Kamu udh pulang?

Ya, ternyata sms itu datangnya dari Danang, pacarku. Dia memang seperti itu, sangat perhatian. Meski terkadang sikap perhatiannya yang terlalu berlebihan membuatku sedikit kesal dan enggan membalas smsnya.

To: Danang

Udh bel sih. Tapi, aku msh di sekolah nungguin hujannya reda. Kamu udh pulang emangnya?

Sms pun terkirim.

Tanpa aku sadari, ternyata kini hanya ada aku sendiri yang tinggal di kelas. Ya, sendirian. Sekolah pun tampaknya sudah mulai sepi karena banyak orang yang nekat menembus hujan hanya untuk segera tiba di rumah. Tetapi aku, aku lebih memilih menunggu sampai hujan reda. Ulangan tengah semester akan dilaksanakan minggu depan, sangat konyol apabila aku harus sakit hanya karena nekat menembus hujan. Lagipula jarak  menuju jalan raya dari sekolahku cukup jauh dengan berjalan kaki, sehingga sudah dapat pasti aku akan basah kuyup jika tetap nekat menembusnya.

"Nabilaaaa..." teriak Syafa, sahabatku sejak SMP dengan suara cemprengnya sambil berlari menuju mejaku, tempat dimana aku berdiri sekarang.

"Eh, belum pulang, Fa?" tanyaku sambil tersenyum dan menggendong ranselku.

"Sama kayak kamu. Pasti nunggu hujannya reda, kan?"

Tiba-tiba ponselku berdering. Lagi-lagi sebuah sms masuk dari Danang.

From: Danang

Yaudah kamu tunggu sampe hujannya reda dulu, nanti aku jemput.

"Sms dari siapa?" tanya Syafa sambil memperhatikanku dengan saksama,

"Danang..." ucapku dengan setenah berbisik.

"Oh."

To: Danang

Yakin kamu mau jemput? Aku ga mau ngerepotin kamu.

Sms pun terkirim.

"Enak ya yang punya pacar." ucap Syafa sambil menggodaku. Aku pun tersenyum.

"Ya gitu deh, Fa. Tapi kadang kalau lagi posessif, duh bikin kesel pake ba-nget!"

"Itu tandanya dia sayang sama kamu, Nabila."

Aku pun hanya mengangkat kedua bahuku.

From: Danang

Ga kok, gapapa. Sekalian aku mau ketemu kamu. Tunggu ya, nanti aku jemput.

"Dia mau jemput aku, Fa."

"Yaudah, mau aja."

To: Danang

Oke deh.

Setelah menunggu hampir dua jam, akhirnya hujan pun mereda. Saat itu hanya tersisa mendung yang masih menghiasi langit, matahari pun sepertinya enggan untuk kembali. Saat itu pukul empat sore, dan aku masih bersama seorang Syafa menunggu Danang.

Tiba-tiba hpku pun berdering, sebuah sms masuk dari pengirim yang sama, Danang.

From: Danang

Aku udh di depan sekolahmu, Bil.

"Danang udah di depan sekolah, Fa. Aku pulang duluan ya."

"Yaudah, aku juga mau pulang kok. Kenalin aku sama Danang ya, Bil."

Aku pun mengangguk.

Benar saja, ternyata Danang sudah menunggu didepan gerbang sekolahku dengan motor kesayangannya. Dengan sweater abu-abunya dan celana jeans, seperti biasa penampilannya selalu memberi kesan rapih dan dewasa. Sepertinya dia memang sangat teliti  pada setiap pakaian yang ia kenakan. Bisa dibilang ia terlalu perfect untuk anak seumuran kami, ya untuk anak kelas dua SMA.

"Danaaanggg..." teriakku sambil setengah berlari ke arahnya, sedangkan Syafa masih mengekor di belakangku.

"Nang, kenalin ini Syafa, temanku." ucapku sambil memperkenalkan Syafa pada Danang.

"Hai. Pacarnya Nabila ya? Aku Syafa, teman dekat Nabila sejak SMP." ucap Syafa sambil tersenyum lebar.

Syafa memang anak yang supel. Dia akan memberikan kesan ceria pada semua orang yang baru saja ia kenal, termasuk Danang ketika itu.

"Bil, kamu pake ini ya buat nutupin kepala kamu. Masih gerimis nih." ucap Danang setelah melepaskan sweater abu-abunya dan memberikannya padaku. Dan saat itu hanya tinggal kaos putihnya yang ia kenakan, serta celana jeans warna hitam dan sepatu sandalnya. Biasanya ia sangat suka menyatu-padankan kaos putih polos, celana jeans, dan sneackers. Tapi kali itu, rasanya terlalu sayang untuk memakai sneackers, pasti akan basah karena hujan yang masih turun rintik-rintik.

Aku pun naik ke atas motornya, dan ia dengan segera melajukan motornya. Sedang Syafa, ia masih tersenyum memperhatikan kami dari jauh sambil melambaikan tangannya. Aku hanya tersenyum.

                                                                                       ***

Dua bulan berlalu, sejak hari itu, sejak tanggal itu di tahun 2012. Ya, aku masih mengingatnya, ketika pertama kali ia mengatakan kata-kata itu, "Kamu mau jadi pacarku?" bahkan masih terlalu singkat untuk dilupakan. Dan tepat sore itu, hari kedua bulan, ia lagi-lagi datang ke sekolahku untuk yang kesekian kalinya. Dia memang sudah biasa datang untuk menjemputku, sekadar mengantarkanku pulang ke rumah. Tapi kali ini berbeda, dia datang untuk menjemputku sekaligus ikut bergabung pada project klub jurnalistik yang aku ikuti. Kebetulan ketika itu murid-murid dipulangkan lebih cepat karena guru-guru akan mengadakan rapat, dan ketika ia datang pun sekolah sudah sepi. Hanya tinggal kedua temanku dan seorang adik kelasku yang ikut lembur untuk mengerjakan tugas mingguan klub jurnalistik, dan beberapa anak futsal yang sedang berkumpul di lapangan.

"Nang, kamu tungguin aku dulu ya, lagi ada project nih. Gapapa kan?" tanyaku.

"Lama?" ucapnya balik bertanya.

"Ga tau deh. Atau ga, aku izin dulu deh sama ketuanya. Sebentar aja kok." ucapku sambil berjalan dengan Danang menuju ruangan khusus klub jurnalistik.

"Yaudah aku tungguin aja."

Aku dan Danang pun tiba di ruangan klub jurnalistik, kemudian aku mengenalkan Danang kepada ketiga anggota klub yang lain, Rahma, Yasmin, dan Arkha. Mereka semua pun menyambut Danang dengan hangat, bahkan sudah seperti teman lama. Seringkali mereka berceloteh dan menggodaku sehingga aku pun menjadi salah tingkah di hadapan Danang.

"Udah sih, Bil, biasa aja. Ga usah salah tingkah gitu. Sini sini." ucapnya sambil setengah tertawa. Sepertinya Danang sudah terbiasa dengan tingkah teman-temanku ketika itu. Wajar sih, sebenarnya Danang memang tipe anak yang mudah bergaul, bukan homebody dan mudah canggung sepertiku.

"Kenapa?" tanyaku datar sambil menatap wajahnya.

"Ga usah salting, Bil." ucapnya lagi, tapi itu dari jarak yang lebih dekat.

Aku pun hanya mengangguk dan berharap situasi ini akan segera berlalu. Dan, Thanks God! Doaku terkabuli. Aku pun mengekor di belakang Danang menuju halaman parkir. Sedang teman-temanku yang lain malah mengikuti kami dari belakang sambil tertawa jahil.

"Gue pulang duluan yaaa..." ucapku saat motor Danang mulai melaju menembus jalanan di dekat sekolahku ketika itu.

 ***


TO BE CONTINUED



Comments

Popular Posts