Everything About My First (Part III)
Pernahkah kau merasakan beban berat yang membelenggu hidupmu?
Beban berat yang menyita banyak waktu, tenaga, dan pikiranmu?
Pernahkah kau merasa sendirian dan terluka?
Hanya kamu yang tahu, semua luka yang tergurat begitu saja.
Pernahkah kau menangis ketika kau sadari bahwa hanya ada kau seorang diri?
Menatap kesepian serta kesedihan yang tergambar jelas di depan mata.
Sudah sekitar dua minggu lamanya Reyna membiasakan diri dengan keadaannya sekarang yang sedang dalam kondisi mengandung. Meski ia tahu bahwa ini akan sulit, Reyna tidak akan menyerah. Dia tahu masa-masa kehamilan memang seharusnya dilalui seorang wanita bersama dengan prianya, tapi apa yang menimpanya ini sangatlah berbanding terbalik dengan apa yang ia harapkan. Dia sendiri, kecuali Elie, sahabatnya yang selalu menemaninya kapanpun Reyna membutuhkannya.
Reyna sama sekali belum memikirkan cara untuk memberitahu perihal dirinya kepada keluarganya; kedua orangtuanya dan kakak perempuannya, Sherlina. Ia masih takut. Takut kalau keluarganya tidak akan menerima kondisinya sekarang, dan mengusirnya, atau bahkan tidak mengakuinya sebagai anggota keluarga lagi. Reyna takut akan hal itu. Belum lagi morning sickness yang selalu melanda dirinya di pagi hari dan sukses membuatnya pusing setengah mati. Bukan hanya Reyna yang repot mengurus kehamilannya, tetapi Elie juga. Elie juga sibuk membantu Reyna, bahkan pernah ketika itu Elie harus repot datang pagi-pagi ke apartemen Reyna hanya untuk membantu sahabatnya itu melewati morning sickness--nya. Dan soal pria itu, Reyna tidak ingin mengingatnya apalagi membahasnya lagi. Baginya, pria itu adalah kesalahan dari masa lalu. Reyna tidak ingin menambah bebannya karena memikirkan pria itu. Baginya sekarang yang terpenting adalah janinnya. Tekad Reyna sudah bulat bahwa ia akan menjadi seorang single parent dan menetap di Jakarta. Apapun yang terjadi, dia harus tetap berada di kota ini. Ia tidak ingin sendirian tanpa adanya Elie di sisinya.
***
"Mungkin saja dia hamil mengingat akhir-akhir ini wanita itu selalu pergi ke dokter dalam tempo waktu tertentu. Bukan cuma itu, wanita itu juga sering membeli beberapa vitamin dan susu ibu hamil untuk dirinya sendiri, Tuan." ucap seorang pria paruh baya sambil duduk di depan meja kerja Gerald di ruangannya.
"A--a--apa?! Jadi, dia hamil, Ben? Anakku?" tanya Gerald terkejut.
"Mengingat Tuan adalah pria pertama dari wanita itu, dan juga gerak-gerik wanita itu selama beberapa minggu ini, dapat dipastikan bahwa kemungkinan wanita itu mengandung anak Tuan lebih dari sembilanpuluh persen. Wanita itu tergolong seorang yang homebody, Tuan. Dia tidak pernah macam-macam dan hanya keluar apartemen hanya untuk ke rumah sakit, supermarket, dan butik miliknya. Mengenai kariernya di perusahaan property itu, dia sudah resign."
"Resign? Kenapa? Kenapa dia resign?"
"Menurut info yang saya dapat, alasan wanita itu resign adalah karena wanita itu ingin fokus dalam mengembangkan usahanya. Tidak akan lama lagi wanita itu juga akan membuka cabang butiknya di daerah BSD."
"Sherlina?"
"She stays in Paris. Bahkan sepertinya mereka berdua tidak pernah berkomunikasi secara serius, membicarakan persoalan antara wanita itu dengan Anda contohnya, Tuan. Wanita itu, Reyna tetap bungkam."
"Bagaimana kamu tahu?"
"Saya mencari informasi itu sedetail mungkin, bahkan saya mengenal beberapa orang yang berhubungan dengan mereka berdua."
"Baiklah, kamu boleh keluar." kemudian seorang pria paruh baya yang diketahui namanya Ben, orang suruhan Gerald pun mengundurkan diri. Sekarang Gerald benar-benar pusing setengah mati setelah menerima laporan dari hasil anak buahnya memata-matai wanita itu, Reyna.
***
FLASHBACK
You'll never know until you lost
You'll never know until you find
Both are the simple things, but you'll never know until you understand
Sore itu hujan turun dengan derasnya, merembas ke dalam tanah yang kering akibat kemarau. Jalanan aspal pun tak luput dari perhatiannya, semuanya basah dan menimbulkan bau khas yang menyeruak hingga ke dalam indera penciuman.
"Kau tahu, Rald? Cita-citaku ini sederhana, tapi cukup rumit." ucap wanita itu, yang sedang berhadapan dengan Gerald sambil menatap sebuah kaca besar yang langsung berhadapan dengan pemandangan kota Jakarta saat sore hari dari dalam sebuah coffee shop. Kaca yang juga tak luput dari hujan, karena saat itu pun air hujan sudah mengalir di permukaan kaca itu.
"Aku tahu. Kau ingin jadi seorang designer terkenal, kan?" tanya Gerald sambil tersenyum, kemudian menyesap hot tiramisu latte miliknya perlahan.
"Bukan, bukan cuma itu. Aku juga ingin bahagia, sebahagia kedua orang tuaku yang saling mencintai. Aku hanya ingin bahagia bersama cinta sejatiku, cinta sejati yang mau memperjuangkanku." ucap wanita itu lagi. Kali ini kedua mata cokelatnya beralih dan menatap Gerald dengan saksama.
"Kau meragukanku, Sher?"
Wanita itu menggeleng, "Tidak, Rald. Hanya saja kau terlalu baik untuk itu. Kau ini terlalu sabar, dan aku berani bertaruh bahwa menungguku hingga puluhan tahun pun kau akan rela." ucap wanita itu sambil tertawa kecil.
"Sherlina, aku mohon jangan bahas itu. Yang penting sekarang kita berdua sama-sama ada di sini. Kau ada di sisiku, dan aku pun ada di sisimu."
"Tidak lama lagi aku akan pergi ke Paris, Rald. Ternyata tekad--ku sudah bulat. Aku akan mengembangkan bakatku ke sana." ucap Sherlina sambil tersenyum. Kedua tangannya pun menggenggam tangan Gerald yang sedang berada di atas meja di hadapan mereka.
"Aku ikut, Sher. Aku bisa mengembangkan bisnisku ke sana. Aku ingin terus berada di sisimu, yang terpenting adalah kamu, hubungan kita."
"Are you crazy, dude? How can? Aku tidak akan membiarkanmu ikut, Rald. Kehidupanmu di sini, bukan di sana bersamaku, kita berbeda."
"Aku akan tetap mempertahankanmu, Sherlina Thalia Hartawan. Mengapa kau keras kepala sekali sih? Apapun alasanmu, fine aku akan tetap tinggal di sini dan menantimu. Lagian zaman kan sudah canggih, Babe." ucap Gerald sambil terkekeh. Mata kebiruannya, hidung mancungnya, rahangnya yang kokoh, dan rambut kecokelatannya yang berantakan membuat Sherlina tak pernah berhenti memperhatikan seorang pria di hadapannya, pria yang telah berhasil membuat hatinya merasakan hangatnya cinta, membuat otaknya gila dan mabuk kepayang.
"Mon amour..." ucap Sherlina. Seperti biasa, itulah panggilan kesayangan Sherlina untuk Gerald.
"Ya, Babe?"
"Je te aime..." Gerald pun tersenyum kemudian mengecup punggung tangan wanita itu sekilas.
"You know it, Babe. You're the only one who makes me fallin' in love." ucap Gerald sambil tersenyum.
*TO BE CONTINUED*
Beban berat yang menyita banyak waktu, tenaga, dan pikiranmu?
Pernahkah kau merasa sendirian dan terluka?
Hanya kamu yang tahu, semua luka yang tergurat begitu saja.
Pernahkah kau menangis ketika kau sadari bahwa hanya ada kau seorang diri?
Menatap kesepian serta kesedihan yang tergambar jelas di depan mata.
Sudah sekitar dua minggu lamanya Reyna membiasakan diri dengan keadaannya sekarang yang sedang dalam kondisi mengandung. Meski ia tahu bahwa ini akan sulit, Reyna tidak akan menyerah. Dia tahu masa-masa kehamilan memang seharusnya dilalui seorang wanita bersama dengan prianya, tapi apa yang menimpanya ini sangatlah berbanding terbalik dengan apa yang ia harapkan. Dia sendiri, kecuali Elie, sahabatnya yang selalu menemaninya kapanpun Reyna membutuhkannya.
Reyna sama sekali belum memikirkan cara untuk memberitahu perihal dirinya kepada keluarganya; kedua orangtuanya dan kakak perempuannya, Sherlina. Ia masih takut. Takut kalau keluarganya tidak akan menerima kondisinya sekarang, dan mengusirnya, atau bahkan tidak mengakuinya sebagai anggota keluarga lagi. Reyna takut akan hal itu. Belum lagi morning sickness yang selalu melanda dirinya di pagi hari dan sukses membuatnya pusing setengah mati. Bukan hanya Reyna yang repot mengurus kehamilannya, tetapi Elie juga. Elie juga sibuk membantu Reyna, bahkan pernah ketika itu Elie harus repot datang pagi-pagi ke apartemen Reyna hanya untuk membantu sahabatnya itu melewati morning sickness--nya. Dan soal pria itu, Reyna tidak ingin mengingatnya apalagi membahasnya lagi. Baginya, pria itu adalah kesalahan dari masa lalu. Reyna tidak ingin menambah bebannya karena memikirkan pria itu. Baginya sekarang yang terpenting adalah janinnya. Tekad Reyna sudah bulat bahwa ia akan menjadi seorang single parent dan menetap di Jakarta. Apapun yang terjadi, dia harus tetap berada di kota ini. Ia tidak ingin sendirian tanpa adanya Elie di sisinya.
***
"Mungkin saja dia hamil mengingat akhir-akhir ini wanita itu selalu pergi ke dokter dalam tempo waktu tertentu. Bukan cuma itu, wanita itu juga sering membeli beberapa vitamin dan susu ibu hamil untuk dirinya sendiri, Tuan." ucap seorang pria paruh baya sambil duduk di depan meja kerja Gerald di ruangannya.
"A--a--apa?! Jadi, dia hamil, Ben? Anakku?" tanya Gerald terkejut.
"Mengingat Tuan adalah pria pertama dari wanita itu, dan juga gerak-gerik wanita itu selama beberapa minggu ini, dapat dipastikan bahwa kemungkinan wanita itu mengandung anak Tuan lebih dari sembilanpuluh persen. Wanita itu tergolong seorang yang homebody, Tuan. Dia tidak pernah macam-macam dan hanya keluar apartemen hanya untuk ke rumah sakit, supermarket, dan butik miliknya. Mengenai kariernya di perusahaan property itu, dia sudah resign."
"Resign? Kenapa? Kenapa dia resign?"
"Menurut info yang saya dapat, alasan wanita itu resign adalah karena wanita itu ingin fokus dalam mengembangkan usahanya. Tidak akan lama lagi wanita itu juga akan membuka cabang butiknya di daerah BSD."
"Sherlina?"
"She stays in Paris. Bahkan sepertinya mereka berdua tidak pernah berkomunikasi secara serius, membicarakan persoalan antara wanita itu dengan Anda contohnya, Tuan. Wanita itu, Reyna tetap bungkam."
"Bagaimana kamu tahu?"
"Saya mencari informasi itu sedetail mungkin, bahkan saya mengenal beberapa orang yang berhubungan dengan mereka berdua."
"Baiklah, kamu boleh keluar." kemudian seorang pria paruh baya yang diketahui namanya Ben, orang suruhan Gerald pun mengundurkan diri. Sekarang Gerald benar-benar pusing setengah mati setelah menerima laporan dari hasil anak buahnya memata-matai wanita itu, Reyna.
***
FLASHBACK
You'll never know until you lost
You'll never know until you find
Both are the simple things, but you'll never know until you understand
Sore itu hujan turun dengan derasnya, merembas ke dalam tanah yang kering akibat kemarau. Jalanan aspal pun tak luput dari perhatiannya, semuanya basah dan menimbulkan bau khas yang menyeruak hingga ke dalam indera penciuman.
"Kau tahu, Rald? Cita-citaku ini sederhana, tapi cukup rumit." ucap wanita itu, yang sedang berhadapan dengan Gerald sambil menatap sebuah kaca besar yang langsung berhadapan dengan pemandangan kota Jakarta saat sore hari dari dalam sebuah coffee shop. Kaca yang juga tak luput dari hujan, karena saat itu pun air hujan sudah mengalir di permukaan kaca itu.
"Aku tahu. Kau ingin jadi seorang designer terkenal, kan?" tanya Gerald sambil tersenyum, kemudian menyesap hot tiramisu latte miliknya perlahan.
"Bukan, bukan cuma itu. Aku juga ingin bahagia, sebahagia kedua orang tuaku yang saling mencintai. Aku hanya ingin bahagia bersama cinta sejatiku, cinta sejati yang mau memperjuangkanku." ucap wanita itu lagi. Kali ini kedua mata cokelatnya beralih dan menatap Gerald dengan saksama.
"Kau meragukanku, Sher?"
Wanita itu menggeleng, "Tidak, Rald. Hanya saja kau terlalu baik untuk itu. Kau ini terlalu sabar, dan aku berani bertaruh bahwa menungguku hingga puluhan tahun pun kau akan rela." ucap wanita itu sambil tertawa kecil.
"Sherlina, aku mohon jangan bahas itu. Yang penting sekarang kita berdua sama-sama ada di sini. Kau ada di sisiku, dan aku pun ada di sisimu."
"Tidak lama lagi aku akan pergi ke Paris, Rald. Ternyata tekad--ku sudah bulat. Aku akan mengembangkan bakatku ke sana." ucap Sherlina sambil tersenyum. Kedua tangannya pun menggenggam tangan Gerald yang sedang berada di atas meja di hadapan mereka.
"Aku ikut, Sher. Aku bisa mengembangkan bisnisku ke sana. Aku ingin terus berada di sisimu, yang terpenting adalah kamu, hubungan kita."
"Are you crazy, dude? How can? Aku tidak akan membiarkanmu ikut, Rald. Kehidupanmu di sini, bukan di sana bersamaku, kita berbeda."
"Aku akan tetap mempertahankanmu, Sherlina Thalia Hartawan. Mengapa kau keras kepala sekali sih? Apapun alasanmu, fine aku akan tetap tinggal di sini dan menantimu. Lagian zaman kan sudah canggih, Babe." ucap Gerald sambil terkekeh. Mata kebiruannya, hidung mancungnya, rahangnya yang kokoh, dan rambut kecokelatannya yang berantakan membuat Sherlina tak pernah berhenti memperhatikan seorang pria di hadapannya, pria yang telah berhasil membuat hatinya merasakan hangatnya cinta, membuat otaknya gila dan mabuk kepayang.
"Mon amour..." ucap Sherlina. Seperti biasa, itulah panggilan kesayangan Sherlina untuk Gerald.
"Ya, Babe?"
"Je te aime..." Gerald pun tersenyum kemudian mengecup punggung tangan wanita itu sekilas.
"You know it, Babe. You're the only one who makes me fallin' in love." ucap Gerald sambil tersenyum.
*TO BE CONTINUED*
Comments
Post a Comment