Everything About My First (Part IV)

Saat itu hujan turun dengan deras, menghiasi pemandangan malam kota Jakarta yang tak berbintang. Seperti biasa, kemacetan pun tak terhindarkan lagi. Genangan air yang tercipta dimana-mana membuat setiap pengendara jalan harus mengendarai kendaraannya dengan sangat hati-hati.

Wanita itu tak bergeming, ia tetap pada posisinya menatap ke arah bangunan apartemen yang menjulang tinggi dari dalam mobilnya yang berada di seberang jalan apartemen tersebut. Sebenarnya ia sudah sangat lelah dengan semua ini, seluruh penantiannya akan prianya itu seperti tak berujung. Tekadnya sudah bulat, ia harus sesegera mungkin pergi dari pria itu. Harus! Dia sudah tak ingin lagi menjadi beban bagi pria itu. Ia tidak ingin menjadi penghambat bagi pria yang sudah bertahun-tahun dicintainya itu. Meski ia tahu pada akhirnya akan sesakit ini, tapi dia yakin bahwa melepaskannya merupakan jalan yang terbaik.


I can see the pain living in your eyes

And I know how hard you try

You deserve to have so much more


I can feel your heart and I sympathize


And I'll never criticize


All you've ever meant to my life


I don't want to let you down


I don't want to lead you on


I don't want to hold you back


From where you might belong


You would never ask me why


My heart is so disguised


I just can't live a lie anymore


I would rather hurt myself

Than to ever make you cry


There's nothing left to say but goodbye


*Air Supply - Goodbye*


***


"Apa?! Kakak meninggalkannya begitu saja setelah kemarin dia berjanji akan setia menanti kakak? Apa kakak sudah tidak waras meninggalkan pria sebaik dia?" ucap seorang gadis berseragam SMA dengan setengah berteriak kepada wanita yang sedang duduk di hadapannya. Wanita itu terlihat sendu sambil menyesap hot chocolate miliknya, berusaha menenangkan hatinya dan membenarkan bahwa keputusan yang telah ia buat adalah yang terbaik.

"Kau tidak akan tahu, Nay. Kau ini belum dewasa." jawab wanita itu santai.


"Apa?! Usiaku ini sudah delapan belas tahun, DELAPAN BELAS dan kau masih menganggapku sebagai adik kecilmu? Ya Tuhan, Kak, yang benar saja!" ucap gadis itu lagi sambil melotot. Mata bulatnya terlihat lebih bulat ketika itu, menampakkan kedua mata yang berwarna kecokelatan dengan sangat jelas.


"Hahaha... sampai kapanpun kau akan tetap menjadi adik kecilku, mengerti?" pada akhirnya tawa wanita itu pecah karena melihat tingkah adiknya yang kesal karena merasa dianggap sebagai anak kecil di usianya yang sudah menginjak delapan belas tahun.


"Tidak akan! Dan aku pun jelas tidak sudi kak."


"Ah, Nay, kau tahu? Dia itu tampan sekali, hatinya pun seputih salju. Aku tidak akan pernah pantas untuk bersanding dengannya."


"Kau tahu, Kak? Kau ini lucu sekali sih. Kalian berdua sangat cocok, kau tahu? Kau seorang designer muda berbakat, dan dia seorang pengusaha muda yang sukses. Ah, kalau aku jadi kau, aku akan mempertahankannya sekuat yang aku bisa! Aku janji."


"Cinta itu tidak egois, Nay. Dan aku tidak cukup egois untuk tetap mempertahankannya. Ngomong-ngomong, lusa aku akan pergi. Semuanya sudah beres, aku hanya tinggal berangkat ke Paris."


"Dan meninggalkanku? Sendirian?"


"Come on, Nay. Bibi Arista akan menjagamu dengan baik, percayalah. Dan aku akan merawat mama papa di sana dengan sangat baik."


"Dan aku akan kesepian tanpamu. Bodoh sekali kakakku ini!"


"Aku jani, setelah kau lulus SMA nanti, aku akan menyiapkan pendidikan lanjutan untukmu di sana. Tenang saja, aku yang akan membiayai kuliahmu nanti." ucap wanita itu sambil terkekeh.


"Kau janji?"


"Iya, Nay. Pegang janjiku ini adik manis."


***


Laki-laki itu menegang sambil menggenggam gelasnya yang berisikan vodka dengan sangat kuat. Dia marah, sungguh sangat marah. Tapi rasa kekecewaannya jauh melebihi dari amarahnya yang masih dapat ia kendalikan. Hatinya sakit bagai ditusuk sembilu, kini harapannya hancur sudah bersama dengan kepergian wanitanya. Entah mengapa, dia tidak pernah merasakan kehancuran yang semenyakitkan ini sebelumnya selain karena kepergian ibunya untuk selama-lamanya. Tapi sekarang dia mengerti. Inilah cinta, semuanya jauh dari kata logika, dan tentu saja menyakitkan. Dan ia pun mengerti mengapa selama ini ayahnya selalu uring-uringan setelah ibunya meninggal dunia sepuluh tahun yang lalu, saat ia masih duduk di bangku kelas 2 SMA. Saat itu usianya baru menginjak 17 tahun.


"Sudahlah Rald, sampai kapan lo akan seperti ini? Wanita itu jelas pembohong besar. Dan lihat diri lo sekarang, lo tertipu! Dan bodohnya lagi, sekarang penampilan lo tampak seperti seorang pecundang yang berhasil dipermainkan oleh seorang wanita." ucap laki-laki yang lain, yang berada di sisi kirinya. Mereka berdua sedang sama-sama berada di sebuah bar yang terletak di bilangan Jakarta Selatan.


"Hahaha... Don't you think that I'm really funny? I look stupid now, and... messy. Wanita itu sulit dimengerti, lo tahu?"


"Come on, Geraldi. Stop it now! Lo berhenti minum sekarang juga atau lo ga akan bisa menghadiri rapat dengan klien besok pagi?"


"Azka, lo mendingan pulang sekarang dan tinggalin gue. Gue masih mau di sini. Being here is better than going home, you know? Persetan dengan rapat dengan klien, gue ga peduli!"


"Hanya karena seorang Sherlina Thalia Hartawan? Dunia ini ga sempit, Gerald. Ayo pulang!"


***


Gadis itu duduk di tepi temapt tidurnya, memandangi pemandangan malam kota Jakarta dari balik jendela kamarnya yang berada di lantai 25 sebuah apartemen. Malam itu adalah kali pertamanya ia menghabiskan malamnya seorang diri setelah kakak perempuan satu-satunya memutuskan untuk pergi dan tinggal di Paris.


"Makan dulu, Sayang. Dari tadi pagi kan Nay belum makan." ucap seorang wanita paruh baya, Bibi Arista, dari balik pintu kamarnya yang ia biarkan terbuka hingga setengah.


"Nay belum lapar, Bi."


"Tapi Nay harus tetap makan. Ini Bibi bawain nasi goreng seafood plus omelette sosis kesukaan Nay. Makan dulu ya, Sayang." ucap Bi Arista sambil meletakan sebuah nampan berisi makanan dan minuman untuk Nay di sebuah nakas di sisi tempat tidurnya.


"Hmm... Bi, boleh minta tolong?"


"Minta tolong apa?"


"Nay mau keluar sebentar, mungkin ke coffe shop dekat-dekat sini. Kalau nanti ada pesan dari Mama atau Papa Nay, tolong bilang sama mereka kalau Nay udah tidur. Jangan bilang Nay keluar, nanti mereka marah." ucap Nay sambil tersenyum, kemudian pergi meninggalkan Bibi Arista yang sedang mematung memperhatikan tubuh Nay yang hilang di balik pintu.


***


*TO BE CONTINUED*

Comments

Popular Posts