Jatuh Cinta dalam Diam

Kamu, seseorang yang selalu mengisi pikiranku, tak perduli siang atau malam.
Kamu, seseorang yang selalu kuperhatikan dari jauh meski tak mungkin kugenggam erat dalam dekat.
Kamu, tak mudah kumendeskripsikan dirimu. Bagiku, kau hanyalah sosok sederhana yang mampu membuat hidupku berwarna.
Aku tahu, mungkin kamu akan menganggapku gila hanya karena mencintaimu.
Aku tahu, mungkin kamu akan bertanya-tanya mengapa bisa, mengapa bisa aku jatuh cinta kepadamu.
Tapi, inilah cinta. Bahkan cinta hadir di saat yang tidak tepat, bukan?
Bahkan ketika aku harus menangisimu saat malam tiba, sekalipun aku takkan pernah ada di dalam hatimu.


***

Siang itu mentari bersinar begitu terik, terasa sangat menyengat tubuh. Mungkin, jemuran yang basah pun akan kering seketika itu juga. Aku menarik nafasku dalam-dalam, sambil berusaha untuk meyakinkan diriku bahwa aku bisa berjalan melewatinya yang saat itu juga sedang duduk-duduk di salah satu lorong kampus bersama beberapa orang temannya. Mungkin, ia bahkan tak akan pernah tahu ketika jantung ini berdetak sangat kencang hanya karenanya. Mungkin, ia bahkan tak akan pernah tahu ketika pipi ini merona merah hanya karena melihatnya. Inikah rasanya jatuh cinta dalam diam?

"Aninditaaaa..." teriak seorang perempuan tiba-tiba dari arah yang berlawanan denganku. Seperti biasa, dia lah Meyriska, teman akrabku yang juga mengambil jurusan yang sama denganku. Dia memang mempunyai kebiasaan buruk yang tak pernah bisa ia hilangkan, yaitu memanggil namaku  keras-keras dengan suara cemprengnya yang bisa membuat orang-orang di dekat kami seketika itu juga menoleh dan menatap tajam ke arah kami.

"Apaan sih? Pelanin dong suara lo. Suara lo ga semerdu Celine Dion, Ka." ucapku sambil melotot, sedangkan yang kuajak bicara malah terkekeh tanpa merasa bersalah.

"Maaf deh maaf. Hmm... Ada matkul ya?" tanyanya. Aku pun mengangguk. "Siapa dosennya?" tanyanya lagi.

"Pak Nata. Tahu?"

"Oh... Yang tua, botak, terus genit gitu ya? Ih, dia kan terkenal nyebelin haha..." ucapnya lagi sambil terkekeh.

"Hmm... Iya, udah terkenal di kalangan senior."

"By the way, kakak ganteng lo lagi duduk di ujung tuh." ucapnya lagi sambil menatap ke arah seseorang yang sedang duduk di salah satu bangku paling ujung yang terletak di koridor kampus.

"Ssssttt... jangan berisik! Iya, gue udah tahu."

"Belum ada kemajuan?" tanyanya. Aku pun hanya menggeleng lesu. Bagaimana bisa ada kemajuan jika aku saja tidak pernah berani mendekatinya? Meskipun kami berdua sudah saling kenal, tapi hubungan kami hanyalah sebatas antara junior dan seniornya, tidak lebih.

"Ah, payah." ucapnya sambil terkekeh.

Ya, mungkin Meyriska benar. Aku mungkin memang payah karena tidak pernah bisa untuk mengutarakan isi hatiku, atau mungkin mendekatinya secara perlahan. Tetapi, apa lah yang bisa dilakukan seorang perempuan ketika ia harus jatuh cinta duluan, selain mencintai secara diam-diam? Aku bukannya takut akan penolakan, akan tetapi aku lebih takut ketika membayangkan dia akan menjauh secara perlahan. Aku lebih takut ketika diabaikan daripada takut karena cinta bertepuk sebelah tangan. Lagipula bukankah menyatukan dua hati yang berbeda itu sulit? Dan, bukankah mencintai tak harus egois, tidak harus memaksakan ketika ingin memiliki sebuah hati? Ya, mungkin aku memang payah ketika harus menangis sendirian untuk seseorang yang mungkin tak pernah benar-benar menganggapku ada.

*

Comments

Popular Posts