Marriage

Kau tidak akan pernah bisa memilih kepada siapa kau akan jatuh cinta,
Atau menunggu untuk jatuh cinta di waktu yang kau rasa tepat.
Cinta itu datang sendiri, menyelinap masuk ke dalam hati, dan kapan saja bisa pergi.


Aku mengamatinya sekali lagi, lelaki itu masih tertidur dengan damai di sampingku. Sosok itu, yang belakangan telah mengisi hari-hariku, sosok yang telah berhasil membuatku jatuh cinta setiap hari. Aku tersenyum menatapnya, merasakan sebuah perasaan yang terus bergejolak di dalam dadaku setiap kali kami bersama.

Dia, suamiku, orang yang telah berusaha sekuat tenaganya untuk menaklukan hatiku, meyakinkanku bahwa jarak usia kami yang terpaut hingga sepuluh tahun bukanlah masalah yang berarti. Nyatanya dia memang benar, selama cinta kami masih tetap hidup, selama itu pula kami akan bahagia, tak peduli seberapa banyak masalah yang akan menerpa kehidupan rumah tangga kami.

***

"Aku ingin menikahimu, secepatnya. Bagaimana menurutmu?" ucapnya ketika itu tanpa berbasa-basi, bahkan di saat kami sedang terjebak kemacetan lalu lintas sekalipun.

"Menikah? Kamu - aku?" tanyaku tak percaya. Jujur saja, bagiku itu terasa sangat mengejutkan bak petir di siang bolong.

"Iya, kita. Jujur saja, aku bahkan sudah lama mengamatimu. Aku tertarik kepadamu, dengan kepribadianmu yang pantang menyerah dan suka bekerja keras, sesederhana itu."

"Ta-tapi bahkan usia kita..."

"Karena usiaku yang sudah menginjak hampir tigapuluh lima tahun, dan kamu yang bahkan baru berulangtahun yang ke-duapuluh lima, begitu?"

Aku pun mengangguk sambil menatap jari-jariku yang saling bertautan dan meremas satu sama lainnya.

"Apakah kau pikir bahwa karena usiaku yang jauh lebih tua dari usiamu, maka aku tidak pantas untuk menjadi suamimu?"

"Bukan, bukan begitu... Aku justru takut akan tingkahku yang masih kekanak-kanakan, aku takut akan ambisiku. Aku belum siap, apalagi ketika harus menikahi seorang pebisnis besar seperti kamu. Di luar sana pasti masih banyak wanita yang berharap bisa menjadi istrimu, wanita yang bahkan mungkin jauh lebih baik dari aku."

"Tapi hanya ada satu orang wanita yang aku mau untuk mendampingiku seumur hidupku, yaitu kamu, Heliza Rahman. Dan bahkan demi wanita itu, aku rela mempertaruhkan harga diriku dengan melamar seorang gadis yang tidak pernah sekalipun aku lakukan sebelumnya. Kamu tahu kenapa? Karena aku mencintainya, apapun kelebihan dan kekurangannya."

Aku pun terdiam, lidahku terasa kelu untuk mengucapkan sesuatu. Statementnya benar-benar membuatku kalah telak! Ya, aku memang bukanlah seseorang yang pandai berbicara dalam urusan cinta dan pernikahan, kata-katanya tentu saja membuat perasaanku semakin berkecamuk. Aku juga bukan wanita yang naif, jujur aku pun juga menyukai sosoknya yang pekerja keras sehingga membawanya kepada kesuksesan yang ia dapatkan sekarang ini. Hanya saja, aku belum siap untuk menikah. Aku baru meniti karierku sebagai seorang pengacara di salah satu firma hukum, dan aku tidak mau pernikahan mengacaukan segalanya, termasuk impianku selama ini.

"Kenapa diam? Kamu mau kan, Za?"

"Nando, bukankah sebaiknya kamu pikirkan dulu secara matang soal pernikahan ini? Pernikahan bukan seperti orang pacaran, lho. Dengan menikah, itu artinya kamu hanya boleh memberikan cintamu kepada seorang wanita, menghabiskan sisa hidupmu bersamanya, apapun yang terjadi."

"Aku sudah sangat yakin, Za. Kalau kamu setuju, aku ingin segera bertemu dengan kedua orangtuamu dan meminta restu untuk menikahi gadis cantiknya."

***

Lagi-lagi aku tersenyum mengingat ucapannya ketika itu. Dia yang bersikeras untuk menikahiku meski dia tahu bahwa aku bukanlah tipe wanita yang diimpikannya selama ini. Aku pun tersenyum sambil kemudian mencium pipinya yang masih tertidur di sampingku.

"Mrs. Nando Harjaya, kenapa sih senyum-senyum, hm? Aku udah bangun dari tadi, lho." ucapnya sambil balik mencium pipiku yang mungkin sudah terlihat seperti tomat.

"Hmm... Engga, aku cuma lucu aja ngelihat kamu yang lagi tidur gitu. Lagian kebo banget sih, udah siang ga bangun-bangun juga. Ayo dong bangun, temenin aku belanja keperluan bulanan ya?"

"Masa sih? Bukan karena kamu tersenyum melihat ketampananku ini, hm? Oh iya, kenapa ga minta tolong Bibi aja buat belanja? Kamunya kan bisa sama aku berduaan di rumah."

"Apaan sih? Aku serius. Temenin aku ya? Pleasee..."

"Engga, sayang. Kamu pokoknya temenin aku di rumah, aku lagi banyak kerjaan. Biar Bibi aja yang kamu suruh buat belanja."

"Ta-tapi..."

"Pokoknya nurut. Lagian bukannya orangtua kamu sendiri yang nyuruh kita buat segera punya anak?"

"NANDOOOOOOOO...."

*


Comments

Popular Posts