Am I Really Married? (2)

Sisa hujan semalam masih terlihat jelas pagi ini. Bau tanah yang basah menyeruak ke dalam indra penciuman, begitu juga dengan beberapa air yang menggenang di jalanan komplek, dedaunan basah masih meneteskan air dari setiap tepinya. Tak ada yang berubah, semuanya masih sama, persis seperti hari-hari sebelumnya. Mentari masih terbit dari ufuk timur, dan kemudian akan tenggelam di ufuk barat pada saatnya, begitu dan akan terus begitu. Sama seperti rasa sepi yang akan selalu menemani hari-hariku di rumah ini, di sebuah rumah yang meskipun terlihat indah, akan tetapi menimbulkan rasa asing di benakku sendiri. Mungkin aku rindu untuk kembali hidup seperti dulu, dimana aku masih tinggal bersama kedua orangtuaku, masih bisa bermimpi banyak, termasuk sebuah pernikahan bahagia yang akan kujalani nantinya. Ah, seandainya saja waktu dapat kuputar kembali.
Pagi itu, setelah bangun tidur, aku sama sekali tidak bergeming. Aku tetap duduk di tepian ranjang sambil menatap jendela kamarku yang langsung berhadapan dengan jalanan kecil di samping rumah yang digunakan untuk menanam beberapa pohon sekaligus jalan untuk menghubungkan halaman depan ke area jemuran di belakang rumah. Tak banyak pemandangan yang dapat kulihat dari sana, tak seperti kamar utama yang langsung berhadapan dengan halaman depan. Tak lama, pintu kamarku pun terbuka. Ferdian berdiri di sana dengan mimik wajah yang tak dapat ditebak. Dia sudah rapih pagi ini dengan setelan kebesarannya, celana hitam dan atasan berwarna putih yang dibalut jas berwarna hitam. Tak lupa pula ia sematkan sebuah dasi berwarna hitam putih yang terlihat begitu pas dengan setelennya ketika itu. Rambutnya ia tata dengan rapih, begitu pula dengan parfum beraroma maskulin yang begitu menyeruak dari tubuhnya.

"Hari ini saya ada rapat dengan beberapa pimpinan perusahaan di daerah Bandung, mungkin akan pulang larut malam, atau ya itu pun kalau masih bisa pulang. Kalau engga, saya mungkin akan menginap saja. Jadi, kamu ga usah nunggu saya pulang apalagi sampe masak untuk makan malam. Jangan seperti tadi malam, kamu ga perlu melakukan hal itu. Saya tahu kamu sudah kelelahan dengan tugas kuliahmu yang akhir-akhir ini sudah berhasil buat kamu keteteran." ucapnya tanpa basa-basi.

"Semalam aku ga nungguin kamu pulang ke rumah. Kebetulan aku memang lagi menyelesaikan beberapa tugas di ruang tamu." jawabku sedikit berbohong. Ya, memang semalam aku mengerjakan beberapa tugas kuliahku yang mulai membludak, akan tetapi di dalam lubuk hatiku, aku ingin menemuinya saat pulang ke rumah dengan harapan dapat memperbaiki hubungan kami. Tapi aku rasa hal itu akan percuma dan hanya menyita tenagaku saja. Faktanya, mungkin hubungan kami akan tetap begini, sampai pada saatnya di antara kami akan ada yang lelah dan mau tak mau perceraian lah jalan satu-satunya yang harus ditempuh.

"Jangan berpikiran yang macam-macam, Alisa. Jangan kacaukan segalanya dengan pemikiran anak kecilmu itu." ucapnya lagi, dan kali ini ucapannya benar-benar membuatku tertegun.

"Maksudmu apa?"

"Saya tahu ini semua ga mudah, ga sama seperti apa yang kamu harapkan. Begitu pun dengan saya, ini bukanlah hal yang mudah bagi saya. Tapi mau tidak mau, suka atau tidak suka, kamu dan saya harus menerima semuanya, demi kebahagiaan orangtua kita. Saya hanya minta kamu untuk jalani saja, buat segalanya terlihat normal, begitu akan lebih mudah. Kalaupun kamu ataupun saya pada akhirnya sudah tidak mampu lagi untuk menjalani ini semua, semoga semuanya bisa diselesaikan dengan baik-baik. Hidup tak selamanya berjalan lurus seperti apa yang kita impikan, Alisa. Jangan banyak menuntut, kamu harus bisa menerima dan menjalani kenyataan." ucapnya lagi, masih tanpa ekspresi. Kali ini kata-katanya benar-benar menyayat hatiku. Bagaimana bisa ia berbicara seperti demikian kalau kenyataan yang harus aku jalani adalah kenyataan yang terberat dalam hidupku? Aku tak pernah berpikir untuk bercerai saat usia muda, apalagi menjadi seorang janda. Dan bagaimana dengan kehidupanku selanjutnya? Orang-orang di sekitarku pasti akan berfikir negatif tentang diriku kalau sampai aku gagal membina rumah tangga bersama dirinya, sekalipun ia orang asing yang tak pernah aku harapkan.

Aku terdiam, rasanya sudah serat sekali untuk berbicara.

"Saya rasa kamu sudah paham dengan apa yang saya katakan. Kalau begitu saya pergi dulu, Alisa." ucapnya sambil kemudian menutup kembali pintu kamarku.

Di saat seperti ini, rasanya ingin sekali aku berlari dan bersimpuh untuk memeluk ibuku seperti dulu. Ia akan selalu ada di sisiku saat aku membutuhkannya, memeluk dan menghapus air mataku, meyakinkanku bahwa segalanya akan berjalan dengan baik. Tapi, rasanya hal itu terlalu mustahil saat ini. Aku tidak mungkin pulang ke rumah, memeluk ibuku sambil menangis dan menceritakan segala hal yang aku alami dalam berumah tangga dengan laki-laki pilihannya. Aku tidak mungkin membuatnya khawatir, apalagi menggoreskan sebuah penyesalan di hatinya karena telah membiarkan anak gadisnya menikah dengan laki-laki yang salah. Tidak. Kini biarlah aku yang menanggung segalanya seorang diri. Biarkan kesedihan ini aku yang tahu, sendirian...

***

Saat ini jam sudah menunjukkan pukul empat sore, perkuliahan pun sudah selesai sejak satu jam yang lalu. Akan tetapi, aku lebih memilih untuk berlama-lama di perpustakaan pusat kampus, mencari beberapa buku baru hingga akhirnya pilihanku jatuh pada satu pilihan, sebuah karya fiksi romance best seller yang baru-baru ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Sejak remaja, aku telah jatuh cinta pada sastra. Dan sejak saat itu pula aku memutuskan untuk mengkoleksi beberapa buku dari berbagai pengarang yang berbeda dan dengan genre yang berbeda pula. Di kamarku dulu, buku-buku itu begitu menggunung hingga pada akhirnya di hari ulangtahunku yang ke tujuhbelas, ayahku menghadiahkanku sebuah ruangan baru dan dua buah lemari besar untuk dijadikan sebagai ruang khusus koleksi buku-bukuku. Dulu, hampir setiap hari teman-teman dekatku akan mampir ke rumah untuk membaca ataupun meminjam buku. Sebuah kesenangan sendiri bagiku apabila sudah berhubungan dengan buku-buku sastra. Hanya saja, ketika aku lulus SMA, aku lebih memilih untuk memilih psikologi sebagai jurusan di perkuliahanku. Aku pikir, tak ada salahnya menjadi seorang mahasiswi psikologi yang mencintai sastra sekaligus.

"Kemana aja? Kok baru kelihatan?" ucap seseorang sambil menepuk bahuku saat aku sedang asik menikmati alur cerita dari buku pilihanku.

"Eh?" aku pun langsung menoleh, dan terlihatlah sosok itu lagi. Dia, Azka, seorang laki-laki yang juga pengagum sastra, teman diskusiku selama aku kuliah di universitas ini. Dia sama sepertiku, sama-sama mahasiswa semester 6. Hanya saja, kami berbeda fakultas. Dia adalah mahasiswa di fakultas kedokteran gigi, sedangkan aku adalah mahasiswi di fakultas psikologi. Mungkin, jika dilihat sekilas dari penampilannya, tak akan ada yang bisa menebak bahwa laki-laki tampan dan berkharisma seperti Azka adalah pecinta sekaligus penikmat sastra. Tingginya sekitar 180 cm dengan kulit putih dan wajah bulenya. Matanya yang berwarna abu-abu berhiaskan kaca mata rayban berbingkai hitam. Dia adalah keturunan Indonesia-Italia. Kakek dari Ibunya asli berkebangsaan Italia. Dan darah Eropa itu begitu terlihat jelas di wajah Azka.

"Kemana aja? Udah lama ga kelihatan." ucapnya lagi sambil tersenyum, kemudian duduk di sebuah kursi yang berhadapan langsung denganku.

"Hmm... dua bulan kemarin aku sibuk kuliah, tugasku banyak banget, jadi ga punya waktu buat ke sini." jawabku sekenanya sambil tersenyum menatap mimik wajahnya yang selalu ramah jika berhadapan dengan orang yang ia kenal.

"Oh, kirain cuti nikah." ucapnya lagi sambil tertawa kecil.

"Huss... ngaco kamu!"

"Aku kangen sama kamu."

"Eh?"

"Hmm... maksudnya baca bareng lagi sama kamu, ngomongin sastra yang ga akan ada habis-habisnya, berburu buku-buku lagi. By the way, beneran orangtua kamu sekarang pindah ke Australia?"

"Hmm... iya, ikut kakak tinggal di sana."
"Kakakmu kerja di sana? Dimana?"

"Iya, di Sydney."

"Oh gitu. Eh, sekarang kamu kurusan. Banyak beban ya? Tugas kuliahmu segitu beratnya?"

"Eh? Hmm... engga kok. Emang lagi diet aja nih, mangkannya kurusan hehe..."

"Sa, lagi ga sibuk kan? Temenin aku makan yuk. Ga jauh dari sini ada kedai makanan Jepang yang baru buka gitu, katanya ramennya enak banget. Aku yang traktir deh."

"Okay. Tapi aku mau ngurus administrasi buat minjem buku ini dulu ya."

"Sip. Aku tungguin." ucapnya sambil tersenyum.

***

Hanya memakan waktu sekitar sepuluh menit perjalanan dengan kendaraan pribadi, akhirnya kami sampai di kedai makanan Jepang yang Azka maksud. Tempatnya cukup nyaman dan memang dihias benar-benar ala Jepang. Temboknya yang terbuat dari kayu, dan juga pintu geser yang digunakan untuk masuk ke dalamnya. Di dalam ruangan dihias dengan beberapa kipas dan lukisan ala Jepang yang terpampang di dinding. Para pelayan pun mengenakan pakaian tradisional Jepang, kimono, dan menggunakan bahasa Jepang dalam mengucapkan salam kepada para pembeli.

"Konnichiwa!" sapa seorang pelayan perempuan yang mengenakan kimono berwarna merah muda dan rambutnya yang panjangnya yang berwarna hitam sebahu dibiarkannya tergerai begitu saja.

"Mau pesan apa?" tanyanya sambil tersenyum dan menyerahkan buku menunya kepada kami.

"Aku mau ebi ramen aja, Ka." ucapku.

"Minumnya?"

"Hmm... lemon squash."

"Okay. Ebi ramennya dua, lemon squash satu, sama lemon tea satu."

"Baik, ditunggu pesanannya ya Mas, Mba."

Setelah pelayan tadi pergi, aku pun mengeluarkan telepon seluler ku dan berharap ada ibu atau ayah akan mengirimkan message untukku. Dan ternyata ada dari ibu dan beberapa dari yang lain. Tanpa peduli dengan message dari yang lain, aku langsung membaca message dari ibu.



From: Ibu

Halo anak ibu tersayang. Apa kabar, nak? Semoga sehat dan baik-baik saja.
Ibu kangen banget sama kamu. Minggu depan Ibu mau ke Jakarta ya, sekalian mau mengakrabkan diri sama menantu. See ya there, sweety.



Aku pun langsung tersenyum membaca message dari Ibu. Aku tidak peduli, besok atau lusa aku pasti akan memberi tahu laki-laki yang Ibu anggap sebagai menantunya tentang hal ini. Mau tidak mau, suka atau tidak suka, ia harus bisa bersandiwara di depan Ibu bahwa rumah tangga kami baik-baik saja. Sekalipun itu akan menyakitkan, aku berharap Ibu akan senang selama tinggal di Jakarta.

"Ada apa, Alisa? Kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Azka sambil menatapku lekat-lekat. Sorot matanya yang tajam membuat jantungku seperti berhenti berdetak seketika itu juga. Entah bagaimana, tapi aku selalu menyukai mata itu, bahkan sejak pertama kali aku bertemu dengannya.

"Ibu mau ke Jakarta." jawabku sambil tersenyum.

"Oh sukurlah. Kenalin aku sama Ibumu ya, Sa. Aku mau kenal sama Beliau." ucapnya yang membuatka seperti ingin mati. Saat itu juga.


*To be Continued*

Comments

Post a Comment

Popular Posts