Luka Patah Hati

Sudah kubilang jangan lakukan, jangan lagi.
Tapi masih saja, kau lakukan sekali lagi.
Kau jatuh, dan kemudian patah hati pada orang yang salah.
Lalu kau bersedih, dan selanjutnya kehilangan arah.

Bukankah sudah kubilang jangan jatuh hati bila hanya untuk mengusir sepi?
Mungkin sepimu akan hilang, sesaat, dan kemudian kembali lagi saat dia pergi.
Selanjutnya, perlahan-lahan sepi itu mendatangkan nestapa,
Menimbulkan duka terdalam di dalam jiwa.

Bukankah sudah kuceritakan aku juga pernah jatuh hati? Dulu, sudah lama, lama sekali.
Dan kemudian akulah yang pada akhirnya harus menanggung sakitnya patah hati.
Sedangkan dia, dia justru berbahagia bersama cerita yang sedang diukirnya,
Tanpa ada aku, tanpa ada kami, dan tanpa ada rasa bahagia.

Bukankah sudah kujelaskan bahwa jatuh hati hanya akan menyesakkan?
Euforia, kebahagiaan, apapun itu sifatnya hanya sementara, yang abadi justru hanya kenangan.
Dia tak akan lagi bersamamu di saat kau duduk termenung berderai air mata.
Dia hanya akan melanjutkan cerita lainnya, mengukir segalanya dengan bahagia.

Bukankah sudah kutuliskan dengan jelas pada setiap halaman dari buku harianku?
Aku mohon, sangat mohon, jangan lakukan hal yang sama sekali lagi, itu hanya akan menyakitimu.
Meninggalkan kenestapaan dalam sebuah kisah hidup yang harus kau jalani.
Dan kau tahu, kau yang akan menanggungnya sendiri, benar-benar SENDIRI.

Comments

Post a Comment

Popular Posts