Promise
Lagi, malam kembali hadir bersama dengan rintikan hujan yang tak kunjung berhenti, membawa kesedihanku mengalir ke tempat yang paling sempurna untuk merayakan sebuah arti kehilangan. Malam ini tak ubahnya dengan malam-malamku kemarin: monoton, abu-abu, dan gelap. Aku tak pernah berhenti berkabung semenjak hari itu, hari di mana kau pergi bersama dengan sejuta tawa dan kegilaanmu yang selalu aku rindukan sampai dengan detik ini. Kini aku tinggalah sendiri dengan bayangan masa lalu yang telah kau tinggalkan, merana dan kesepian.
"Kamu tahu mengapa mentari tak pernah berhenti bersinar?" tanyamu kepadaku waktu itu, tepat di hari itu.
Aku pun menggelengkan kepala tanda tidak tahu. "Memangnya apa?"
Di balik seragam putih abu-abumu, sambil tersenyum pun kamu menjawab, "Karena ia dibutuhkan. Bahkan ketika malam tiba, mentari lah yang memantulkan cahayanya kepada rembulan. Dengan begitu, setidakya bumi tidak akan pernah terlalu gelap."
Aku pun hanya mengangguk sambil sesekali menatap matamu.
"Mangkannya aku mau kamu berjanji sama aku untuk terus bersinar, meskipun hidup memang tidak selamanya bahagia. Kamu harus menjadi sosok seperti namamu, Mentari." ucapmu sambil mengecup keningku meski hanya sekilas. Satu hal yang paling tidak ingin kulupakan seumur hidup.
"Aku janji, Bintang." jawabku sambil tersenyum.
***
Enam tahun berlalu setelah kepergianmu di hari itu, aku tidak pernah benar-benar bisa berhenti untuk mencintaimu, tidak pernah benar-benar bisa lupa akan segala hal tentangmu. Berkali-kali aku mencoba pergi, dan berkali-kali itu pula aku gagal dan kembali terjatuh.
Semua orang, bahkan sahabat-sahabat kita pun pernah bilang bahwa sudah saatnya aku harus melangkah dan meninggalkan masa lalu karena memang tempatku bukan di sana lagi. Aku harus belajar untuk menerima kenyataan tentangmu yang sudah lama mati. Mereka bilang bahwa kamu sudah bahagia, dan sudah saatnya aku harus membuat bahagiaku sendiri. Tapi tidak, rasanya duniaku terlalu gelap tanpamu. Sampai ketika aku menyayat leherku sendiri dengan sebilah pisau dapur, kurasa harapan itu muncul lagi karena pada akhirnya aku bisa melihat kedua mata indahmu. Meski kali ini kulihat kedua matamu basah karena menangis. Maaf karena telah melanggar janjiku.
Comments
Post a Comment