Sebuah Kenangan

Kamu yang dulu pernah aku cintai, ternyata kini telah bersama dia. Secepat itukah kamu melupakan aku yang sempat ada di dalam pikiranmu, lalu kamu berpaling dengan dia? Semudah itukah kamu menghapus segala kenangan yang telah kita lalui bersama?

Ingatkah kamu pada hujan yang selalu menyatukan kita? Ingatkah kamu pada bunga yang pernah kau berikan? Ingatkah kamu pada sebuah pesan suara yang beriringan dengan lagu? Ingatkah kamu pada setiap gambar yang berhasil kau lukiskan untukku? Ingatkah kamu pada setiap tetes air mata kita di saat kita saling merindu? Lalu, apakah semua itu sama sekali tidak berarti bagimu sehingga kini dengan bahagianya kamu bersama dia?

Aku sering bertanya pada waktu, menanyakan sesuatu yang sampai detik ini sama sekali belum aku dapatkan jawabannya. Aku pun masih sering merindu pada hujan, karena bau hujan dan tanah yang basah dapat mengingatkanku pada sosok hangat dirimu. Aku rindu semua itu, merindu pada dirimu, pada segala yang telah kau berikan. Aku sangat merindu pada dekap hangatnya tanganmu, canda itu, tawa riang itu, segala yang sempat aku miliki darimu.

Tahukah kamu betapa sakitnya hatiku saat merindu? Tahukah kamu betapa pahitnya ketika aku melihatmu dengan dia? Aku ingin merasa bahagia atas bahagiamu kini, ingin sekali, tetapi pada nyatanya aku tak sanggup melihat kamu bahagia bersama dia, bukan diriku. Rasanya aku tak bisa menerima kenyataan bahwa dialah bahagiamu, bukan aku.

Kini aku sadar, aku memang bukan lagi alasan dirimu untuk mencinta. Aku tahu aku hanya bagian dari masa lalumu, hanya serpihan sebuah kenangan pahit yang dulu sempat kita jalani. Kegagalan cinta yang sesungguhnya sangat ingin aku ulang kembali karena hanya denganmu aku merasakan bahagia itu. Aku tak pernah merasa sebahagia dulu ketika memilikimu, aku pun tak pernah merasa sehangat dulu ketika aku masih berada di dekatmu. Kamu adalah titik kenyamananku, hanya bersamamu aku merasakan segala perasaan itu, perasaan yang tak pernah dapat kujelaskan lewat seuntaian kata, karena perasaanku padamu memang lebih dari semua itu.

Bukannya aku munafik, bukannya aku tak mau menerima kenyataan yang ada, tetapi hatiku memang berkata lain. Perasaanku merasakan sesuatu yang berbeda saat dirimu tak ada. Sepi, sedih, dan sendiri, kini sepertinya semua perasaan itu telah berkawan baik denganku setelah kamu pergi. Meski banyak cinta yang kujalani, semua itu tak sebanding dengan kisahku padamu. Sebuah kisah cinta singkat yang sangat aku rindukan.

Terima kasih atas segala yang telah kau berikan, segala kenangan yang tak mungkin akan aku lupakan. Terima kasih atas cerita cinta yang telah berhasil kau ukir dalam kehidupanku; kencan pertama, bunga pertama, sekaligus cinta yang begitu tulus yang pernah kau berikan. Sejujurnya aku masih merindukan itu, aku masih menginginkan kisah itu hingga saat ini. Tak peduli kekuranganmu, karena aku mencintaimu secara utuh. I love you :')

Comments

Post a Comment

Popular Posts