Dia yang Terbaring Di Dalam Tanah
Malam itu aku lelah sekali, tidak biasanya aku begini, merasa tidurku tidak nyenyak karena ada sesuatu yang mengganjal. Entahlah, aku sama sekali tidak tahu mengapa, sungguh.
Tiba-tiba saja dia, Ibuku berteriak memanggil namaku, tak lama kemudian erangan itu yang tak mungkin kulupakan terdengar begitu saja memekikan telinga.
"Lulu, tolong ayahmu! Ya Tuhan, Ayah tolong sadar." teriak Ibu seketika memompa jantungku yang sepertinya akan keluar dari tempat yang semestinya.
"LULU, BANGUN!!! Ayahmu sekarat, dia harus dilarikan ke rumah sakit sekarang juga." teriak Bi Darmi, seorang wanita paruh baya yang usianya terpaut 5 tahun lebih tua di atas ibuku--yang sudah rela mengabdikan hampir separuh usianya kepada keluarga besar Ibu--Keluarga Indrajaya. Dia mengguncangkan badanku begitu saja, membuatku berhasil melototinya.
"Ada apa sih, Bi?"
"Ayahmu, Lu. Ayahmu sekarat, sepertinya terkena serangan jantung. Beliau diam saja dari tadi, badannya dingin dan terus mengeluarkan keringat." ucapnya dengan wajah yang tak kalah pucatnya seperti mayat sambil menangis.
Jelas saja aku langsung berlari ke kamar Ayah, menerjang pintu yang kebetulan ketika itu hanya terbuka sedikit, hampir tak ada celah meski badanku tidak bisa dikatakan besar. Deg! Wajah itu, wajah itu begitu terpampang jelas di sana. Wajah pucat Ayah dan tangisan Ibu yang memecahkan keheningan seketika. Dan lagi-lagi aku hanya terdiam meski otakku menuntut penjelasan lebih kepada seorang Dokter yang sudah berdiri di hadapan Ibu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Maaf, Bu. Tapi Bapak sudah pergi, tak lama setelah saya tiba di sini. Sepertinya penanganan medis yang saya berikan pun sudah percuma, tubuh Bapak tidak dapat menerimanya." ucap Dokter muda itu sambil menggenggam kedua tangan Ibu yang masih saja menangis.
"Dok, tapi kenapa semuanya begitu tiba-tiba? Bahkan tadi pagi saja Bapak masih sempat ke kantor, kemudian beberapa jam yang lalu Bapak masih ngajakin saya ngobrol soal Lulu. Ini ga mungkin, Dok. Ya Allah, Bapak." ucap Ibu sambil terus menangis.
Bagaimana, bagaimana jika kamu adalah aku?
Menatap rupa ayahmu yang pucat pasi dan telah menjadi mayat.
Bagaimana, bagaimana jika kamu adalah aku?
Menatap wajah ibumu yang sedang bersedih dihinggapi sejuta gundah dan penyesalan.
Bagaimana, bagaimana jika kamu adalah aku?
Ditinggal oleh ayah, orang yang sangat kau kasihi di dalam hidupmu.
Bagaimana, bagaimana jika kamu adalah aku?
Kehilangan bukanlah persoalan yang mudah, kawan, tidak seperti apa yang ada di dalampikiranmu.
Aku mematung begitu saja, entah untuk berapa lama. Semuanya, tiba-tiba saja semua kenangan bersama Ayah muncul begitu saja di hadapanku, membuatku menatap nanar pada nasib dan kenyataan.
Aku ingat saat dulu Ayah menggendongku saat kami sedang berlibur ke salah satu villa Ayah yang berada di Puncak. Kira-kira dulu usiaku baru menginjak 5 tahun.
Aku ingat saat Ayah mengecup lututku yang berdarah karena terjatuh dari sepeda untuk yang pertama kalinya, saat aku sedang giat-giatnya berlatih sepeda. Kira-kira dulu usiaku baru menginjak 7 tahun.
Aku ingat saat Ayah merayakan ulang tahunku yang ke sepuluh tahun dan pada saat itu Ayah memberiku sebuah Al-Qur'an dengan harapan aku bisa menjadi seorang anak yang shalehah seperti harapannya dan Ibu.
Aku ingat saat Ayah sedang lelah karena baru pulang kerja, mencari nafkah untukku dan Ibu, tapi saat itu aku tetap saja merengek untuk minta dibelikan sesuatu saat usiaku baru menginjak 11 tahun.
Aku ingat saat aku mulai merasa tidak nyaman dengan perlakuan-perlakuan Ayah yang menurutku sedikit berlebihan, kemudian aku lebih memilih mendiami Ayah selama beberapa hari saat usiaku baru menginjak 13 tahun.
Aku ingat saat Ayah menegurku karena aku pulang larut malam, tapi aku malah tidak memedulikannya. Saat itu usiaku baru menginjak 16 tahun.
Aku ingat saat aku berselisih paham dengan Ayah, saat itu aku mati-matian pada pemikiranku bahwa aku sudah dewasa dan tidak butuh belas kasihan Ayah lagi. Saat itu usiaku baru menginjak 17 tahun.
Dan sekarang, semuanya tidak dapat kuubah lagi, tidak! Ayah sudah terlanjur pergi dengan sejuta kenangan pahit yang telah kuguratkan di dalam hatinya yang mungkin kini telah usang termakan oleh usia. Di usiaku yang baru menginjak 18 tahun, aku telah menjadi seorang yatim. Dia tidak akan kembali lagi, tidak! Dia benar-benar telah pergi dengan segala kesedihan yang telah kulukiskan di dalam kisah semasa hidupnya. Dia benar-benar membawa luka itu, sendirian.
Rasanya aku ingin berteriak sekarang juga, meneriakki kepergiannya agar dia tahu bahwa aku benar-benar mencintainya dan kembali. Rasanya aku ingin menggenggam erat tangannya dan menahannya untuk tetap berada di sisiku, setidaknya sampai aku dapat membahagiakannya. Aku ingin membisikannya bahwa aku menyesal, sangat!
***
Aku, Ibu, dan beberapa kerabat yang lain berdiri di sini, melihat proses pemakaman Ayah dengan saksama. Ibu sudah membisu sejak tadi, seperti tidak ingin membagi kesedihannya, bahkan kepadaku, anaknya sendiri. Sedangkan kerabat yang lain sudah mulai terisak, sukses menyayat hatiku dengan sembilu tak kasat mata milik mereka. Aku tak bergeming meski air mata yang sedari tadi kutahan selalu sukses mengalir di pipiku yang polos tanpa riasan make up.
Sampai proses pemakaman Ayah selesai, Ibu masih memilih diam sambil duduk di sisi makam Ayah sambil terus membelai tulisan yang bertuliskan nama Ayah di sana. Sedangkan aku, aku entah harus berbuat apa melihat tingkah Ibu yang seperti itu. Rasanya benar-benar sakit.
"Nak, Ibu punya sesuatu untukmu. Ayahmu menitipkan sesuatu untukmu, Lu." ucap Ibu sambil menyerahkan sebuah kotak berbentuk kubus yang cukup besar kepadaku setelah setibanya kami di rumah, kemudian Ibu langsung memintaku untuk masuk ke dalam kamar mengikutinya.
"Apa ini, Bu?" tanyaku penasaran.
"Buka saja."
Setelah kubuka kotak itu, aku benar-benar tercengang melihat isinya yang berupa sebuah mukenah berwarna merah muda dengan renda yang sangat indah di bagian bawahnya. Bersamaan dengan itu, aku pun melihat sebuah kertas bertuliskan nama Ayah di sana.
Tiba-tiba saja dia, Ibuku berteriak memanggil namaku, tak lama kemudian erangan itu yang tak mungkin kulupakan terdengar begitu saja memekikan telinga.
"Lulu, tolong ayahmu! Ya Tuhan, Ayah tolong sadar." teriak Ibu seketika memompa jantungku yang sepertinya akan keluar dari tempat yang semestinya.
"LULU, BANGUN!!! Ayahmu sekarat, dia harus dilarikan ke rumah sakit sekarang juga." teriak Bi Darmi, seorang wanita paruh baya yang usianya terpaut 5 tahun lebih tua di atas ibuku--yang sudah rela mengabdikan hampir separuh usianya kepada keluarga besar Ibu--Keluarga Indrajaya. Dia mengguncangkan badanku begitu saja, membuatku berhasil melototinya.
"Ada apa sih, Bi?"
"Ayahmu, Lu. Ayahmu sekarat, sepertinya terkena serangan jantung. Beliau diam saja dari tadi, badannya dingin dan terus mengeluarkan keringat." ucapnya dengan wajah yang tak kalah pucatnya seperti mayat sambil menangis.
Jelas saja aku langsung berlari ke kamar Ayah, menerjang pintu yang kebetulan ketika itu hanya terbuka sedikit, hampir tak ada celah meski badanku tidak bisa dikatakan besar. Deg! Wajah itu, wajah itu begitu terpampang jelas di sana. Wajah pucat Ayah dan tangisan Ibu yang memecahkan keheningan seketika. Dan lagi-lagi aku hanya terdiam meski otakku menuntut penjelasan lebih kepada seorang Dokter yang sudah berdiri di hadapan Ibu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Maaf, Bu. Tapi Bapak sudah pergi, tak lama setelah saya tiba di sini. Sepertinya penanganan medis yang saya berikan pun sudah percuma, tubuh Bapak tidak dapat menerimanya." ucap Dokter muda itu sambil menggenggam kedua tangan Ibu yang masih saja menangis.
"Dok, tapi kenapa semuanya begitu tiba-tiba? Bahkan tadi pagi saja Bapak masih sempat ke kantor, kemudian beberapa jam yang lalu Bapak masih ngajakin saya ngobrol soal Lulu. Ini ga mungkin, Dok. Ya Allah, Bapak." ucap Ibu sambil terus menangis.
Bagaimana, bagaimana jika kamu adalah aku?
Menatap rupa ayahmu yang pucat pasi dan telah menjadi mayat.
Bagaimana, bagaimana jika kamu adalah aku?
Menatap wajah ibumu yang sedang bersedih dihinggapi sejuta gundah dan penyesalan.
Bagaimana, bagaimana jika kamu adalah aku?
Ditinggal oleh ayah, orang yang sangat kau kasihi di dalam hidupmu.
Bagaimana, bagaimana jika kamu adalah aku?
Kehilangan bukanlah persoalan yang mudah, kawan, tidak seperti apa yang ada di dalampikiranmu.
Aku mematung begitu saja, entah untuk berapa lama. Semuanya, tiba-tiba saja semua kenangan bersama Ayah muncul begitu saja di hadapanku, membuatku menatap nanar pada nasib dan kenyataan.
Aku ingat saat dulu Ayah menggendongku saat kami sedang berlibur ke salah satu villa Ayah yang berada di Puncak. Kira-kira dulu usiaku baru menginjak 5 tahun.
Aku ingat saat Ayah mengecup lututku yang berdarah karena terjatuh dari sepeda untuk yang pertama kalinya, saat aku sedang giat-giatnya berlatih sepeda. Kira-kira dulu usiaku baru menginjak 7 tahun.
Aku ingat saat Ayah merayakan ulang tahunku yang ke sepuluh tahun dan pada saat itu Ayah memberiku sebuah Al-Qur'an dengan harapan aku bisa menjadi seorang anak yang shalehah seperti harapannya dan Ibu.
Aku ingat saat Ayah sedang lelah karena baru pulang kerja, mencari nafkah untukku dan Ibu, tapi saat itu aku tetap saja merengek untuk minta dibelikan sesuatu saat usiaku baru menginjak 11 tahun.
Aku ingat saat aku mulai merasa tidak nyaman dengan perlakuan-perlakuan Ayah yang menurutku sedikit berlebihan, kemudian aku lebih memilih mendiami Ayah selama beberapa hari saat usiaku baru menginjak 13 tahun.
Aku ingat saat Ayah menegurku karena aku pulang larut malam, tapi aku malah tidak memedulikannya. Saat itu usiaku baru menginjak 16 tahun.
Aku ingat saat aku berselisih paham dengan Ayah, saat itu aku mati-matian pada pemikiranku bahwa aku sudah dewasa dan tidak butuh belas kasihan Ayah lagi. Saat itu usiaku baru menginjak 17 tahun.
Dan sekarang, semuanya tidak dapat kuubah lagi, tidak! Ayah sudah terlanjur pergi dengan sejuta kenangan pahit yang telah kuguratkan di dalam hatinya yang mungkin kini telah usang termakan oleh usia. Di usiaku yang baru menginjak 18 tahun, aku telah menjadi seorang yatim. Dia tidak akan kembali lagi, tidak! Dia benar-benar telah pergi dengan segala kesedihan yang telah kulukiskan di dalam kisah semasa hidupnya. Dia benar-benar membawa luka itu, sendirian.
Rasanya aku ingin berteriak sekarang juga, meneriakki kepergiannya agar dia tahu bahwa aku benar-benar mencintainya dan kembali. Rasanya aku ingin menggenggam erat tangannya dan menahannya untuk tetap berada di sisiku, setidaknya sampai aku dapat membahagiakannya. Aku ingin membisikannya bahwa aku menyesal, sangat!
***
Aku, Ibu, dan beberapa kerabat yang lain berdiri di sini, melihat proses pemakaman Ayah dengan saksama. Ibu sudah membisu sejak tadi, seperti tidak ingin membagi kesedihannya, bahkan kepadaku, anaknya sendiri. Sedangkan kerabat yang lain sudah mulai terisak, sukses menyayat hatiku dengan sembilu tak kasat mata milik mereka. Aku tak bergeming meski air mata yang sedari tadi kutahan selalu sukses mengalir di pipiku yang polos tanpa riasan make up.
Sampai proses pemakaman Ayah selesai, Ibu masih memilih diam sambil duduk di sisi makam Ayah sambil terus membelai tulisan yang bertuliskan nama Ayah di sana. Sedangkan aku, aku entah harus berbuat apa melihat tingkah Ibu yang seperti itu. Rasanya benar-benar sakit.
"Nak, Ibu punya sesuatu untukmu. Ayahmu menitipkan sesuatu untukmu, Lu." ucap Ibu sambil menyerahkan sebuah kotak berbentuk kubus yang cukup besar kepadaku setelah setibanya kami di rumah, kemudian Ibu langsung memintaku untuk masuk ke dalam kamar mengikutinya.
"Apa ini, Bu?" tanyaku penasaran.
"Buka saja."
Setelah kubuka kotak itu, aku benar-benar tercengang melihat isinya yang berupa sebuah mukenah berwarna merah muda dengan renda yang sangat indah di bagian bawahnya. Bersamaan dengan itu, aku pun melihat sebuah kertas bertuliskan nama Ayah di sana.
Jakarta, 24 Agustus 2014
Yang tersayang, anakku Lulu
Salam sayang,
Nak, pertama-tama Ayah hanya ingin mengucapkan bahwa Ayah sangat mencintaimu, melebihi apapun. Saat pertama kali Ayah tahu bahwa Ibumu mengandung buah cinta Ayah bersamanya, Ayah sangat senang mengingat bahwa Kau, seorang anak perempuan yang cantik akan terlahir ke dunia ini dan menghiasi hidup kami berdua. Ayah sangat senang karena pada akhirnya Ayah bisa menjadi seorang Ayah untuk anak perempuan secantik dan sehebat dirimu.
Nak, maafkan Ayah kalau seringkali Ayah membuatmu marah. Maafkan Ayah kalau seringkali berbeda pendapat denganmu. Jangan pernah berpikir bahwa Ayah membencimu, tidak. Ayah mana yang mampu membenci putrinya sendiri, seorang anak yang begitu ia kasihi?
Nak, maafkan Ayah juga kalau selama ini Ayah telah merahasiakan penyakit Ayah kepadamu dan Ibu. Ayah hanya tidak ingin membuat kalian berdua khwatir. Dan saat kamu buka hadiah ini, mungkin saat itu juga ayah sudah pergi dan terbaring di dalam tanah, suatu hal yang sangat Ayah benci tapi tidak mungkin untuk Ayah pungkiri.
Ayah sangat mencintaimu dan Ibu. Jaga Ibumu baik-baik, dan jadilah wanita yang shalehah agar disayangi Allah swt. Semoga suatu saat nanti kita dapat berkumpul kembali sebagai anggota keluarga yang bahagia.
Selamat ulang tahun yang ke-18, Lulu. Ayah mencintaimu.
Your beloved daddy,
Comments
Post a Comment