Everything About My First (Part II)

Kamu...
Itulah nama yang selalu kusebut dalam diam,
sesering aku bernafas, di sanalah namamu akan selalu ada.

Kamu...

Sesosok yang tak kan bisa kusentuh,
karena menyentuhmu sama saja dengan menyentuh sesuatu yang kasat mata.

Kamu...

Tahukah betapa tersiksanya diriku memikirkanmu?
Aku frustasi asal kau tahu! Tapi, kau malah terdiam begitu saja.

Kamu...

Pernahkah kamu menyadari bahwa aku ada di sini?
Iya, di sini lah aku memperhatikanmu, cintaku.




Gerald menghembuskan nafasnya dengan kasar, mengacak-acak rambutnya yang kecokelatan dengan frustasi. Wanita itu bahkan belum hilang dari otaknya, sama sekali! Kejadian dua bulan yang lalu masih terpatri jelas di otaknya. Kejadian itu, kesalahan terbesarnya karena ia membiarkan dirinya dan wanita itu hilang kendali. Andai saja, andai saja ia dapat mengulang waktu dan tidak melakukan kesalahan bodoh itu. Gerald tak henti-hentinya mengutuk dirinya sendiri. Karena dia lah masa depan wanita itu hancur, karena dia lah yang telah mengambil kesuciannya. Gerald masih ingat benar noda darah di seprai kamarnya, noda yang berhasil mencabik-cabik hatinya, membuat hatinya remuk redam.


Di sisi lain, Reyna masih menatap suatu benda di hadapannya dengan tidak percaya. Dua garis merah terlihat jelas di benda itu, artinya dia benar-benar positif hamil meningat testpack itu memiliki nilai sembilanpuluh delapan persen pada keakuratannya. Ya Tuhan, bahkan ia belum menyiapkan ini semua, bagaimana nanti ketika semua orang akan menghindarinya dan menatapnya dengan tatapan mencemooh? Bagaimana dengan kedua orang tuanya jika mereka tahu bahwa anaknya telah hamil di luar nikah? Bagaimana jika keluarga besarnya tahu, akankah ia dikucilkan dan ditendang dari keluarga besarnya? Ia belum siap, belum siap keluar dari keluarga Hartawan, tidak! Reyna pun menggeleng-gelengkan kepalanya, mencoba mengusir pikiran buruknya. Tapi ternyata semuanya percuma, bebannya terlalu berat dan berhasil menghantui pikirannya. Ia menangis sejadi-jadinya di sisi kamarnya yang berhadapan langsung dengan jendela di kamar apartemennya yang besar, jendela yang selalu bisa menenangkan pikirannya ketika dihantui banyak pikiran. Tapi tidak untuk sekarang, beban itu rasanya terlalu berat untuk ditanggungnya sendirian.


"GERALD BRENGSEK, BAJINGAN!!! AKU BENCI KAMU! DASAR BODOH! REYNA, KAMU BODOH!!!" teriak Reyna histeris sambil memukul perutnya berulang kali.


Hingga pada akhirnya sosok itu datang, Elie sahabatnya.



"Reyna, kau baik-baik saja, kan? Rey, aku mohon buka pintunya." ucap sebuah suara dari depan pintu kamarnya yang masih tertutup rapat.

"Elie..." suara Rey terdengar menyebut sebuah nama dengan serak karena saat itu ia masih terisak, sibuk bergeming dengan pikirannya sendiri.

"Iya Rey, aku di sini. Biarkan aku masuk ya..."

"Pintunya ga dikunci, Li."

Sosok yang sedari tadi hanya menunggu di depan pintu kamar pun akhirnya melangkah masuk dan menatapi sosok sahabatnya yang terlihat sangat berantakan sedang menangis di sisi jendela besar di kamar apartemennya. Wajahnya pucat dan matanya bengkak, sosok itu pun mulai berasumsi yang bukan-bukan soal sahabatnya. Apalagi ia tahu persis bahwa Reyna adalah sosok wanita dewasa yang periang, yang hampir tidak mungkin menangis seperti orang stress seperti apa yang sedang dilihatnya ketika itu.

Sosok itu pun melangkah mendekati Reyna yang masih duduk memeluk kedua lututnya sambil menangis. Ia prihatin, sungguh. Langkahnya yang terdengar seperti mengetuk lantai karena high-heels yang ia kenakan membuat Reyna semakin terisak. Wanita itu, sahabatnya, Elie, pasti akan marah dan meninggalkannya.

"Oh, Ya Tuhan, Rey. Ada apa, Sayang?" ucap Elie sambil memeluk Rey dari belakang.

"Elie.... A-a-ku... Aku tidak kuat, Elie. Aku ingin mati saja." ucap Rey dengan suara isakan.

"Rey, tenang dulu. Kau kenapa, Rey?"

"A-a-aku... Elie, aku mohon tampar pipiku dan sadarkan aku bahwa aku sedang mimpi buruk."

"Rey, tolong jelaskan. Jangan buat aku bingung seperti ini. Ada apa?"

"Elie, aku hamil." ucap Rey dengan tangisan yang semakin pecah.

"Hah?! Kau bercanda, Rey? Kau bahkan belum menikah, dan seingatku kau tidak pernah melakukan itu dengan laki-laki manapun." ucap Elie sambil mencoba mencerna kata-kata yang barusan terlontar dari mulut sahabatnya.

"Elie, maafkan aku. Aku tidak pernah bercerita padamu, Li. Aku melakukan itu setelah pesta ulangtahun Yudha. Aku mabuk Li, aku mabuk dan tidak sadar ketika itu." ucap Reyna sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, kemudian terisak. Air matanya sulit untuk berhenti, ia terlalu kalut.

Elie pun semakin mengeratkan pelukannya kepada Reyna dan menatap sahabatnya itu iba. Ia bahkan tidak menyangka bahwa gadis seperti Reyna pada akhirnya akan melakukan kesalahan fatal seperti itu, dan kemudian tenggelam ke dalam jurang yang sangat dalam.

"Rey, jangan menangis terus. Kasihani dia, kasihani bayi yang kini sedang kau kandung. Dia butuh ibunya, Rey. Kau harus kuat, Sayang." ucap Elie menenangkan.

"Li, apa... apakah lebih baik aku menggugurkannya?" tanya Reyna sambil mencoba melepaskan pelukan Elie.

Elie pun terperangah, "Ya Tuhan, Reyna! Kau mau berbuat dosa besar sampai dua kali? Kau gila, hah?! Siapa sih laki-laki yang telah menghancurkanmu sampai kau berpikiran gila seperti ini? Siapa, Rey?!" ucap Elie sambil berteriak.

Reyna pun terdiam, ia benar-benar ragu untuk mengatakannya kepada Elie, sekalipun wanita itu adalah sahabatnya sendiri.

"Rey, aku mohon. Jangan sembunyikan ini dariku, kita harus saling berbagi. Kita ini sahabat, kau ingat?"

"Gerald, Li. Dia teman Yudha semasa kuliah." ucap Reyna sambil tertunduk malu. Ia bahkan sangat malu untuk mengingat nama itu, nama laki-laki itu.

"Yudha?!" pekik Elie tak percaya.

***

"Gerald? Setahuku, aku tidak punya teman seangkatan yang bernama Gerald sewaktu kuliah dulu." jawab Yudha sambil mencoba mengingat-ingat beberapa teman kuliahnya ketika Elie menanyakan soal siapa Gerald yang sebenarnya.

"Ah, mungkin kau lupa. Jelas-jelas dia datang ke pesta ulang tahunmu waktu itu. Coba ingat-ingat lagi, barangkali kau tahu. Ya, seharusnya kau tahu mengingat dia adalah salah satu tamu-mu." ucap Elie sambil menatap Yudha dengan tatapan menyelidik.

"Ah, jika yang kau maksud itu adalah Geraldi Pratama Wijaya, aku ingat. Dia itu bukan temanku, melainkan seniorku. Sewaktu aku baru semester satu, dia sudah lulus."

"Lalu, siapa dia? Bagaimana kalian bisa sedekat itu?"

"Geraldi Pratama Wijaya adalah putra sulung dari seorang pengusaha kaya raya, pewaris dari Pratama Group. Kau pasti sudah tidak asing dengan nama perusahaan itu. Baru-baru ini kita tidak sengaja bertemu di Changi saat kami sama-sama sedang memesan kopi di sebuah kafe yang ada di sana, kemudian kita berbincang dan pada akhirnya kami tahu bahwa kami adalah lulusan dari universitas yang sama. Ketika itu dia sedang mengurus bisnisnya di sana, dan aku sedang menyusul pacarku yang bekerja di sana, sekalian liburan." jawab Yudha.

"Kalau soal menceritakan kau dan Reyna, yaa... entahlah, kalian itu terlalu menarik memang bagiku, jadi aku suka keceplosan. Lagian dia adalah laki-laki yang baik, aku yakin dia tidak akan berbuat yang macam-macam kalau sampai dia tahu dan bertemu kalian." ucap Yudha lagi sambil tersenyum.

"Dia tidak baik, Yudh. Dia bahkan telah membuat Reyna terluka, terperosok ke dalam beban dan tanggung jawab yang amat sangat berat. Reyna hamil karenanya. Dia telah berhasil membuat sahabatku menangis..." bisik Elie dalam hati.

"Oh iya, Reyna kenapa tidak masuk hari ini?" tanya Yudha tiba-tiba sambil kembali menyesap kopinya yang baru saja tiba diantar oleh salah satu office boy di kantor itu.

"Dia sakit." ucap Reyna. "Sakit hati karena seniormu,  dia jadi sangat menderita..." lanjutnya dalam hati.

"Oh ya? Tumben sekali. Biasanya kan dia yang paling ga bisa diam di kantor. Datang pagi-pagi udah cengengesan sambil godain kita, terus kalau udah siang gini, dia selalu jadi yang paling bawel nyemangatin kita. Dan setahuku dia jarang sekali sakit. Apa sakitnya parah?"

Elie menggeleng.

"Lalu?"

"Cuma demam biasa. Kemarin aku ke apartemennya."

***


"Jadi, siapa nama wanita itu?" tanya Gerald kepada orang suruhannya yang ia perintahkan untuk mencari tahu tentang siapa Reyna sebenarnya.


"Reyna Thalia Hartawan, Tuan." jawab orang suruhannya sambil menyerahkan beberapa foto candid  Reyna yang ia ambil secara diam-diam saat mengikuti wanita itu kemanapun wanita itu pergi.


"Keturunan keluarga Hartawan? Reza Hartawan? Anaknya?" tanya Gerald sambil memijit pelipisnya yang tiba-tiba terasa sakit.


"Iya, Reyna Thalia Hartawan adalah anak bungsu dari keluarga Hartawan. Kakaknya adalah Sherlina Hartawan, seorang designer ternama dan tidak tinggal di Indonesia. Sherlina dan kedua orang tua mereka tinggal di Perancis. Sherlina tinggal di Paris, sedangkan kedua orang tua mereka di Lyon."


"Lalu Reyna, mengapa ia tetap tinggal di Indonesia sedangkan keluarganya tinggal di Perancis?"


"Dia sempat tinggal di sana untuk beberapa bulan, hampir setahun. Namun ketika tunangannya meninggal karena kecelakaan, dia kembali ke Indonesia dan membuka beberapa cabang butik hasil kerja samanya dengan kakaknya."


"Tunangan? Dia punya tunangan?"


"Ya, Tuan. Namanya Louvel Marceau."


"Apakah Louvel Marceau yang kau maksud adalah seorang penulis?"


Orang itu pun mengangguk, membuat pertahanan Gerald runtuh. Kepalanya semakin pening mendengar setiap nama yang berhubungan dengan wanita itu. Semuanya, masa lalunya terasa begitu menyakitkan.


*TO BE CONTINUED*

Comments

Popular Posts