Everything About My First (Part I)
Kamu tidak perlu mengingatku, tidak...
Akulah yang akan mengingatmu,
menjadikanmu sosok yang kuukir dalam uraian kisahku.
Lalu, bagaimana dengan cinta?
Ah, dia selalu rumit untuk dijelaskan.
Biarkan saja, biarkan sampai dia mengerti
betapa rumitnya kisah kita ini...
Wanita itu masih duduk di salah satu sisi kamarnya, air matanya masih mengalir deras di pipi polosnya tanpa make up. Ia masih mengenakan piyamanya ketika itu, ia sangat urung ke kantor dengan keadaan seperti itu. Moodnya sangat kacau, dia menyadari bahwa hidupnya benar-benar telah berubah setelah kejadian malam itu.
"Reyna, kau baik-baik saja, kan? Rey, aku mohon buka pintunya." ucap sebuah suara dari depan pintu kamarnya yang masih tertutup rapat.
"Elie..." suara Rey terdengar menyebut sebuah nama dengan serak karena saat itu ia masih terisak, sibuk bergeming dengan pikirannya sendiri.
"Iya Rey, aku di sini. Biarkan aku masuk ya..."
"Pintunya ga dikunci, Li."
Sosok yang sedari tadi hanya menunggu di depan pintu kamar pun akhirnya melangkah masuk dan menatapi sosok sahabatnya yang terlihat sangat berantakan sedang menangis di sisi jendela besar di kamar apartemennya. Wajahnya pucat dan matanya bengkak, sosok itu pun mulai berasumsi yang bukan-bukan soal sahabatnya. Apalagi ia tahu persis bahwa Reyna adalah sosok wanita dewasa yang periang, yang hampir tidak mungkin menangis seperti orang stress seperti apa yang sedang dilihatnya ketika itu.
Sosok itu pun melangkah mendekati Reyna yang masih duduk memeluk kedua lututnya sambil menangis. Ia prihatin, sungguh. Langkahnya yang terdengar seperti mengetuk lantai karena high-heels yang ia kenakan membuat Reyna semakin terisak. Wanita itu, sahabatnya, Elie, pasti akan marah dan meninggalkannya.
"Oh, Ya Tuhan, Rey. Ada apa, sayang?" ucap Elie sambil memeluk Rey dari belakang.
"Elie.... A-a-ku... Aku tidak kuat, Elie. Aku ingin mati saja." ucap Rey dengan suara isakan.
"Rey, tenang dulu. Kau kenapa, Rey?"
"A-a-aku... Elie, aku mohon tampar pipiku dan sadarkan aku bahwa aku sedang mimpi buruk."
"Rey, tolong jelaskan. Jangan buat aku bingung seperti ini. Ada apa?"
"Elie, aku hamil." ucap Rey dengan tangisan yang semakin pecah.
***
Sore itu Reyna memang sedang tidak enak badan, ia merasa sangat lemas dan enggan untuk menghadiri pesta ulang tahun rekan kerjanya, Yudha, yang ke duapuluh lima tahun. Tapi perasaan tidak enak selalu menyusup ke dalam hatinya di saat-saat seperti itu, apalagi sejak sore tadi Yudha sudah memperingatinya untuk datang dan ikut memeriahkan pestanya. Reyna semakin tidak enak hati jika ia memang benar-benar tidak datang, ia tidak tahu akan bagaimana rekannya itu nanti. Ya, meskipun mungkin rekannya akan memaklumi alasan Reyna, tapi tetap saja Reyna tidak bisa. Dia memang selalu seperti itu.
Malam itu Reyna bersiap dengan dress hitam berbahan satin sebatas lutut miliknya, dan juga sebuah clutch berwarna senada dengan hiasan permata berwarna silver di sekitarnya. Rambutnya yang berwarna kecokelatan ia biarkan terurai hingga sebahu dan dibuat lebih bervolume, sangat pas dengan tubuhnya yang ramping bak supermodel. Ia terlihat sangat cantik dengan tampilannya saat ini, dengan make up yang natural dan tidak berlebihan membuatnya sangat menawan, pas untuk dirinya.
Ia berjalan masuk ke dalam club itu sendirian. Kebetulan saat itu Elie tidak bisa hadir dan menemaninya karena ada urusan keluarga. Ya, Elie memang sudah berkeluarga dan sedang direpotkan oleh urusan anaknya yang masih balita, Kevin yang sedang lincah-lincahnya dan tidak bisa diam, membuat Elie sangat kewalahan.
Setelah menyalami sang empunya pesta, Reyna pun memilih untuk duduk di salah satu sudut ruangan yang agak jauh dari hiruk pikuk para tamu yang jumlahnya sangat banyak, mungkin mencapai ribuan.
Perlahan, Reyna pun menikmati suasana pesta sambil menyesap segelas martini yang sebelumnya ia pesan kepada si bartender, dan pada akhirnya ia memilih tempat ini. Reyna memang bukanlah tipe wanita yang suka ber-clubbing-ria dan terbiasa dengan kehidupan malam. Hanya saja, Reyna berpikir bahwa tak ada salahnya mencoba sesekali, apalagi dalam keadaan yang diperlukan seperti saat itu, di kala ia harus menghadiri pesta rekan kerjanya, yang bahkan layak dibilang sebagai sahabatnya.
"Temannya Yudha, ya?" ucap seorang laki-laki bertubuh tinggi tegap, warna mata yang biru, dan rahangnya yang kokoh seakan mengundang wanita mana saja untuk menatapnya, kemudian bertekuk lutut karena terjerat oleh pesona ketampanannya.
Reyna pun mengangguk.
"Oh ya, saya Gerald. Saya teman semasa kuliah Yudha dulu waktu masih sama-sama di Surabaya." ucap laki-laki itu dengan pesona senyumnya yang sangat rupawan, giginya yang putih berderet rapih, semakin lengkap dengan warna kulitnya yang terlihat eksotis. Bisa dibilang laki-laki itu lebih mirip Gil Ofarim di usianya yang mungkin sudah memasuki usia 30-an.
"Saya Reyna."
"Kalian kerja di divisi yang sama?"
Reyna pun kembali mengangguk.
"Yudha pernah bercerita banyak soal kamu, dan teman kalian, Elie."
"Oh ya? Kami memang sangat dekat, bisa dibilang kami sudah berteman cukup lama, kira-kira sejak dua tahun yang lalu, saat saya masih jadi anak baru di perusahaan." ucap Reyna sambil tersenyum.
Gerald pun duduk di hadapan wanita itu.
"Oh iya, kamu mau tambah minuman?" tanya Gerald setelah sekilas melihat gelas Reyna yang sudah hampir kosong.
"Boleh." ucap Reyna sambil mengangguk.
***
Reyna terbangun dari tidurnya pagi itu, ketika alarm di handphone-nya yang biasa ia setting agar tidak terlambat berangkat ke kantor berbunyi. Sekilas ia melihat layar itu, sudah pukul enam pagi. Tapi kali itu badannya terasa sangat pegal dan seolah menolak untuk beranjak dari ranjangnya. Tiba-tiba saja seseorang menggeliat di sampingnya, dan seketika itu juga Reyna menyadari bahwa tubuhnya benar-benar dalam keadaan polos, tanpa sehelai pakaian pun! Dan laki-laki itu... Reyna menatap laki-laki yang ada di sampingnya dengan saksama. Tiba-tiba seperti tersengat aliran listrik, pipinya pun memanas membayangkan apa yang telah ia lakukan semalam bersama laki-laki itu, sehingga pagi itu ia terbangun di sebuah kamar asing, bukan kamarnya sendiri. Mungkin saja lelaki dengan otot yang kokoh dan dada yang bidang, yang sedang tertidur damai di sampingnya adalah lelaki pertamanya, lelaki yang telah merenggut kesuciannya. Matanya pun memanas, bagaimana tidak, sesuatu hal yang telah ia pertahankan selama duapuluh empat tahun ini tiba-tiba saja direnggut oleh sosok yang bahkan baru dikenalnya. Reyna pun merutuki dirinya sendiri, semurahan itukah dirinya? Tapi, semalam ia memang benar-benar mabuk, ia sama sekali tidak mengingat apapun!
"BANGUN!!!" teriak Reyna sambil mengguncangkan sosok itu dengan kasar. Sekuatnya ia menahan air matanya yang sudah di ujung matanya agar tidak terjatuh.
Sosok itu pun terbangun, kemudian mengerjapkan matanya seolah tak percaya dengan pemandangan yang ada di hadapannya saat itu. Mata mereka saling bertemu, sama-sama mengisyaratkan kebingungan yang terjadi di antara mereka.
"Reyn... Reyna, apa yang kamu lakukan di dalam kamarku? Dan, oh ya Tuhan, Reyn, apa kita...."
"Aku tahu kamu pasti memikirkan hal yang sama dengan apa yang aku pikirkan. Tapi, semalam kita dalam keadaan mabuk dan lost control, Rald. Aku mohon jangan ceritakan ini kepada siapapun, termasuk Yudha. Anggap saja ini sebagai one night stand, dan aku ga ingin memperpanjang ini semua, apapun konsekuensinya nanti. Tolong..." ucap Reyna, kemudian bangkit dan memunguti pakaiannya yang berceceran di lantai. Setelah itu, ia berlari kecil ke kamar mandi.
"Reyna, what are you thinking about? Aku bahkan belum bisa mencerna seluruh kejadian ini, Reyn. You said that we just had one night stand and you asked me to keep it as our secret. Tahukah kamu bahwa kamu adalah wanita pertamaku? Bagaimana bisa aku melupakan ini? Aku bahkan sangat amat bersalah dengan semua yang terjadi, Reyn." ucap Gerald setengah berbisik sambil menatap punggung Reyna yang hilang di balik pintu kamar mandi. Dan dapat dipastikan bahwa Reyna tidak dapat mendengar suara itu, suara parau yang disertai dengan penuh penyesalan.
*TO BE CONTINUED*
"Temannya Yudha, ya?" ucap seorang laki-laki bertubuh tinggi tegap, warna mata yang biru, dan rahangnya yang kokoh seakan mengundang wanita mana saja untuk menatapnya, kemudian bertekuk lutut karena terjerat oleh pesona ketampanannya.
Reyna pun mengangguk.
"Oh ya, saya Gerald. Saya teman semasa kuliah Yudha dulu waktu masih sama-sama di Surabaya." ucap laki-laki itu dengan pesona senyumnya yang sangat rupawan, giginya yang putih berderet rapih, semakin lengkap dengan warna kulitnya yang terlihat eksotis. Bisa dibilang laki-laki itu lebih mirip Gil Ofarim di usianya yang mungkin sudah memasuki usia 30-an.
"Saya Reyna."
"Kalian kerja di divisi yang sama?"
Reyna pun kembali mengangguk.
"Yudha pernah bercerita banyak soal kamu, dan teman kalian, Elie."
"Oh ya? Kami memang sangat dekat, bisa dibilang kami sudah berteman cukup lama, kira-kira sejak dua tahun yang lalu, saat saya masih jadi anak baru di perusahaan." ucap Reyna sambil tersenyum.
Gerald pun duduk di hadapan wanita itu.
"Oh iya, kamu mau tambah minuman?" tanya Gerald setelah sekilas melihat gelas Reyna yang sudah hampir kosong.
"Boleh." ucap Reyna sambil mengangguk.
***
Reyna terbangun dari tidurnya pagi itu, ketika alarm di handphone-nya yang biasa ia setting agar tidak terlambat berangkat ke kantor berbunyi. Sekilas ia melihat layar itu, sudah pukul enam pagi. Tapi kali itu badannya terasa sangat pegal dan seolah menolak untuk beranjak dari ranjangnya. Tiba-tiba saja seseorang menggeliat di sampingnya, dan seketika itu juga Reyna menyadari bahwa tubuhnya benar-benar dalam keadaan polos, tanpa sehelai pakaian pun! Dan laki-laki itu... Reyna menatap laki-laki yang ada di sampingnya dengan saksama. Tiba-tiba seperti tersengat aliran listrik, pipinya pun memanas membayangkan apa yang telah ia lakukan semalam bersama laki-laki itu, sehingga pagi itu ia terbangun di sebuah kamar asing, bukan kamarnya sendiri. Mungkin saja lelaki dengan otot yang kokoh dan dada yang bidang, yang sedang tertidur damai di sampingnya adalah lelaki pertamanya, lelaki yang telah merenggut kesuciannya. Matanya pun memanas, bagaimana tidak, sesuatu hal yang telah ia pertahankan selama duapuluh empat tahun ini tiba-tiba saja direnggut oleh sosok yang bahkan baru dikenalnya. Reyna pun merutuki dirinya sendiri, semurahan itukah dirinya? Tapi, semalam ia memang benar-benar mabuk, ia sama sekali tidak mengingat apapun!
"BANGUN!!!" teriak Reyna sambil mengguncangkan sosok itu dengan kasar. Sekuatnya ia menahan air matanya yang sudah di ujung matanya agar tidak terjatuh.
Sosok itu pun terbangun, kemudian mengerjapkan matanya seolah tak percaya dengan pemandangan yang ada di hadapannya saat itu. Mata mereka saling bertemu, sama-sama mengisyaratkan kebingungan yang terjadi di antara mereka.
"Reyn... Reyna, apa yang kamu lakukan di dalam kamarku? Dan, oh ya Tuhan, Reyn, apa kita...."
"Aku tahu kamu pasti memikirkan hal yang sama dengan apa yang aku pikirkan. Tapi, semalam kita dalam keadaan mabuk dan lost control, Rald. Aku mohon jangan ceritakan ini kepada siapapun, termasuk Yudha. Anggap saja ini sebagai one night stand, dan aku ga ingin memperpanjang ini semua, apapun konsekuensinya nanti. Tolong..." ucap Reyna, kemudian bangkit dan memunguti pakaiannya yang berceceran di lantai. Setelah itu, ia berlari kecil ke kamar mandi.
"Reyna, what are you thinking about? Aku bahkan belum bisa mencerna seluruh kejadian ini, Reyn. You said that we just had one night stand and you asked me to keep it as our secret. Tahukah kamu bahwa kamu adalah wanita pertamaku? Bagaimana bisa aku melupakan ini? Aku bahkan sangat amat bersalah dengan semua yang terjadi, Reyn." ucap Gerald setengah berbisik sambil menatap punggung Reyna yang hilang di balik pintu kamar mandi. Dan dapat dipastikan bahwa Reyna tidak dapat mendengar suara itu, suara parau yang disertai dengan penuh penyesalan.
*TO BE CONTINUED*
Comments
Post a Comment