Bagas, Rin, dan Kekasihnya yang Lain
Cinta itu seperti apa
yang pernah dikatakan oleh Plato kepada salah seorang muridnya yang bernama
Aristoteles. Suatu ketika, Aristoteles bertanya kepada Plato tentang arti cinta
sejati, kemudian Plato menunjukkannya dengan cara meminta Aristoteles untuk
memetik bunga yang menurut muridnya itu sebagai bunga yang paling indah di
suatu taman bunga di Athena. Plato berkata, “Berjalan luruslah di taman bunga
yang luas, petiklah satu bunga yang terindah menurutmu. Dan ingat, jangan
kembali ke belakang!”
Aristoteles pun mengindahkan
perintah gurunya itu. Akan tetapi, Aristoteles kembali dengan tangan hampa,
tanpa membawa setangkai bunga pun. Kemudian Plato bertanya kepada muridnya itu,
mengapa ia tidak membawa setangkai bunga pun, dan Aristoteles menjawab, “Aku
tidak menemukannya. Sebenarnya aku telah menemukannya, tapi aku berpikir bahwa pasti akan ada bunga yang lebih bagus lagi di
depan. Akan tetapi, setibanya aku di ujung taman, aku baru menyadari bahwa
bunga yang kutemui pertama kali tadi adalah yang terbaik. Tapi, aku tidak bisa
kembali lagi ke belakang.”
Plato pun berkata, “Wahai
muridku, itulah yang dinamakan cinta sejati. Semakin kamu mencari yang terbaik,
maka kamu tidak akan pernah menemukannya.”
***
Kamu
mungkin adalah orang lain yang paling tahu tentang diriku. Kamu begitu tahu apa
yang kusukai, dan begitu pun sebaliknya dengan hal-hal yang tidak kusukai. Kamu
tahu benar bagaimana cara memperlakukanku, dari mulai hal kecil seperti
memesankanku minuman favoritku: ice lemon
tea, atau mungkin ice chocolate dengan
whipped cream dan caramel sauce, mengajakku ke bioskop
untuk menyaksikan film-film action terbaru
̶ karena kamu tahu ̶ aku paling tidak
suka drama romantis, atau mungkin film fantasy
yang akan membuatku tertidur di tengah pertunjukkan. Kamu tahu itu, setiap
perempuan pasti mendambakan seorang laki-laki yang mengerti tentang dirinya,
bahkan dimulai dengan hal terkecil sekalipun. Karena, cinta itu tak selamanya
tentang materi ataupun fisik yang bagus. Cinta itu tentang bagaimana kalian
memperlakukan satu sama lain dengan layak, tentang percaya, tentang menjaga,
dan mungkin tentang tatapan hangat yang selalu diberikan. Dan kamu, kamu paling
tahu tentang itu.
“Aku
maunya menikah sama kamu, tinggal serumah sama kamu, terus punya anaknya juga
sama kamu.” ucapmu waktu itu, sedang aku hanya tertawa. Kamu mungkin pun tahu,
aku adalah perempuan paling naif yang pernah kamu temui. Mungkin, ada satu hal
yang belum kamu tahu tentang aku, bahwa aku takut dengan komitmen. Aku terlalu
berambisi, bahkan waktuku habis untuk merencanakan masa depan sempurna ̶ yang
mungkin tanpa kamu.
“Sayang,
kok kamu cuma ketawa sih? Ga mau ya? Ga mau kalau suami kamu itu aku?” tanyamu,
kali ini matamu menunjukkan keseriusan, aku tahu itu.
“Bagas,
listen! Kita terlalu muda untuk
merencanakan ini semua. Oh, come on! Kita
baru duapuluh tahun, dan mungkin masih banyak hal di depan sana yang belum kita
lalui.” jawabku. Kali ini aku mencoba tersenyum, setidaknya aku ingin kamu
tidak tahu bahwa aku tidak sepenuhnya mencintai kamu.
“Tapi
aku sayang sama kamu, Rin.” ucapmu lagi dengan senyuman‒yang kutahu‒tanpa
dibuat-buat.
“I know.” Jawabku singkat, kemudian aku
menyesap segelas ice chocolate yang
barusan kamu bawakan, sambil melihat hujan yang sedang turun dari balik kaca
besar yang terdapat di Starbucks ketika itu.
Lalu,
kita sama-sama terdiam. Aku asik dengan segelas ice chocolate-ku, sedang kamu sendiri pun asik dengan segelas ice cappucino‒yang
sebelumnya sempat kamu tawarkan kepadaku, meski aku menolaknya karena mungkin
waktu itu kamu belum tahu bahwa aku tidak begitu suka kopi.
Mungkin
selama yang kamu tahu, aku adalah perempuan yang bisa dikatakan‒attractive. Tapi, tahukah kamu bahwa
sesungguhnya aku adalah perempuan yang paling menyakitimu secara mendalam? Ya,
aku selingkuh, aku berusaha mencari kebahagiaanku yang lain, selain kamu. Bagiku,
kamu hanya ada di dalam daftar pemain cadangan yang bisa kapan saja aku buang
ketika aku bosan. Kamu tak lebih layaknya mainanku.
Suatu
ketika, aku pun bertemu dia, seorang laki-laki yang memang sebenarnya tak lebih
baik dari kamu, tapi kamu pun pasti sudah tahu‒aku terlalu suka bermain-main
dengan perasaan‒meski aku tahu pasti akhirnya tak akan pernah baik. Tapi,
bukankah kamu selalu tahu aku, kan?
Aku
sungguh menikmatinya ketika itu, menjadi seorang perempuan di antara dua
laki-laki sekaligus. Bisa kau bayangkan indahnya bukan? Merasa diperebutkan
adalah kenikmatan tersendiri bagiku, seperti orgasme mungkin‒seperti apa yang
dikatakan orang. Tapi, bukan berarti aku tak pernah menyesal. Aku menyesal,
sama seperti ketika aku tahu kamu telah berlalu pergi dariku.
Comments
Post a Comment