Malam Bersama Tuan
Tuan, kini malam telah datang,
Menyapa bumi yang seharian diguyur hujan.
Datang bersama cahaya sang rembulan dan bintang-bintang,
Karena mendung baru saja usai, Tuan.
Memang mendung baru saja usai,
Bersama hujan yang menguap ke angkasa.
Tapi Tuan, rinduku pada cintamu tak kan pernah usai semudah itu.
Aku lah puan yang telah lama mendambakanmu.
Maka biarkanlah malam ini saja aku mencumbumu, Tuan.
Aku ingin sekali membelai rambutmu, menyelusupkan jari-jari kecilku di antara helainya,
Aku ingin sekali merasakan nafasmu di atas wajahku,
Mengecup bibirmu dengan penuh gairah hingga aku lupa caranya bernafas.
Biarlah untuk malam ini saja aku mengabaikan logikaku,
Menyelucuti rasa malu yang selalu datang membayang.
Aku terlalu menginginkanmu, Tuan.
Datanglah, biarkan kita bercumbu di bawah indahnya cahaya rembulan malam ini.
Menyapa bumi yang seharian diguyur hujan.
Datang bersama cahaya sang rembulan dan bintang-bintang,
Karena mendung baru saja usai, Tuan.
Memang mendung baru saja usai,
Bersama hujan yang menguap ke angkasa.
Tapi Tuan, rinduku pada cintamu tak kan pernah usai semudah itu.
Aku lah puan yang telah lama mendambakanmu.
Maka biarkanlah malam ini saja aku mencumbumu, Tuan.
Aku ingin sekali membelai rambutmu, menyelusupkan jari-jari kecilku di antara helainya,
Aku ingin sekali merasakan nafasmu di atas wajahku,
Mengecup bibirmu dengan penuh gairah hingga aku lupa caranya bernafas.
Biarlah untuk malam ini saja aku mengabaikan logikaku,
Menyelucuti rasa malu yang selalu datang membayang.
Aku terlalu menginginkanmu, Tuan.
Datanglah, biarkan kita bercumbu di bawah indahnya cahaya rembulan malam ini.
Comments
Post a Comment