Senja, Malam, dan Sang Rembulan
Senja sudah siap datang menyapa, bersama mentari yang hendak tenggelam di ufuk barat.
Namun apa yang didapatkan senja?
Ia tahu malamnya tak pernah mencintainya,
Malamnya hanya menjadikannya pelarian ketika dicampakkan oleh sang rembulan.
Senja tak pernah menangis, Sayang.
Meskipun hatinya harus hancur lebur karena berkali-kali diluluh lantahkan,
Melihat sang pujaan hati asyik bercinta dengan wanita lain.
Sejak awal senja sudah tahu bagian pahit dari mencintai,
Bahwa mencintai hanyalah soal memberi, bukan soal memiliki.
Senja memang bukanlah wanita yang suci, Sayang.
Dia sama seperti kita, yang ingin mencintai dan dicintai.
Namun senja tidak egois,
Bahkan ketika ia menyerahkan seluruh jiwa raganya kepada malamnya meskipun malam tak pernah tahu diri.
Sesungguhnya senja sama seperti kita, Sayang.
Dia ingin, ingin sekali mendekap sang pujaan hati untuk dijadikannya milik sendiri.
Dia ingin setiap saat berada dipelukan malam, sekedar bercakap atau bahkan bercinta sampai lelah.
Namun senja tahu bahwa keegoisan tak kan membuat cintanya bahagia.
Senja tahu bahwa rembulan lah yang membuat malamnya bahagia, bukan dirinya.
Maka, yang senja lakukan hanyalah merelakan.
Wew
ReplyDelete