The Truth
Mungkin kamu telah berhasil menyakiti hatiku hingga beberapa kali, tapi percuma saja. Cintaku akan tetap mengalir untukmu.
Berkali-kali kamu hancurkan perasaanku, dan selama itu pula aku tak pernah berhenti mencintaimu.
Berkali-kali kamu menyembunyikanku dibalik kekosongan yang kau tunjukkan, tapi tetap saja aku berusaha untuk jadi sesuatu yang berarti bagimu meski rasanya begitu sulit.
Aku bahkan sangat sabar menantimu untuk menyadari bahwa aku ada di dalam hidupmu, aku sangat sabar untuk berusaha menjadi sesuatu yang dapat kau rindukan, yang dapat kau banggakan meski nyatanya kamu tak pernah melakukannya untukku.
Meskipun aku pun tak pernah tahu sampai kapan batas waktu yang Tuhan berikan padaku.
Jikalau waktuku telah habis, aku harap kamu tak akan menyesali bahwa aku PERNAH ada di dalam hidupmu, aku PERNAH memperjuangkanmu meski aku harus menangis beribu kali, aku PERNAH mencintaimu meskipun mungkin begitu mustahil rasanya untuk mendapat balas cintamu.
Aku PERNAH hadir, aku PERNAH bernafas, aku PERNAH hidup, itu semua aku lakukan untuk mencintaimu. Aku PERNAH bertahan untukmu, walau sulit dan menyakitkan.
***
Malam itu seperti biasanya aku kembali menulis sesuatu tentang dirimu dalam blogku. Dalam linangan air mata dan rasa sakit yang tak kan pernah ada obatnya, kecuali dirimu. Aku sadar betapa sulitnya mencintaimu, seseorang yang tak pernah bisa untuk mencintaiku, bahkan mungkin kamu tak pernah menganggapku ada. Namun apa daya ternyata hasratku untuk mencintaimu masih begitu besar, bahkan lebih besar dari rasa sakit yang kupendam, yang tak pernah ku tunjukkan kepada satu orang pun di luar sana. Hanya aku, Tuhanku, dan beberapa saksi bisu yang teronggok di dalam kamarku. Hanya mereka yang tahu kapan saatnya aku menangis ketika aku membaca beberapa tulisanmu, kumpulan paragraf yang mengatakan bahwa kamu tak pernah jadi milikku, dan aku tak pernah ada dalam hidupmu. Di sana hanya ada kisah cintamu yang begitu manis dengan masa lalumu, bukan kisahmu denganku saat sekarang.
Tahukah kamu? Namamu ada dalam setiap doaku, meskipun aku yakin namaku takkan pernah ada dalam setiap doa yang kau panjatkan. Dan lagi-lagi aku mengerti, aku hanya bisa bersabar hingga suatu saat nanti waktu yang akan menjawab dan menunjukkan betapa besar kasih sayang yang aku miliki. Aku tak kan pernah memaksa dirimu untuk benar-benar mencintaiku, tidak akan karena yang aku tahu cinta itu tulus, murni, dan mengalir apa adanya. Cinta itu berbicara tentang perasaan, bukan paksaan. Lagipula aku bukanlah tipe orang yang seperti itu, yang suka memaksa sesuatu yang dikehendaki meski harus mengorbankan perasaan orang lain. Aku lebih baik diam, aku lebih baik membisu hingga suatu saat nanti kau akan sadar siapa orang yang paling mencintaimu dengan tulus selain kedua orangtuamu.
Aku cukup sadar diri hingga saat ini. Mungkin aku memang ditakdirkan hanya sebagai pengagum dirimu, bukan seseorang yang layak untuk kau cintai. Aku sadar aku bukan siapa-siapa. Aku bukan dia yang pantas untuk kau cintai, aku sangat berbeda dengannya yang selalu kau banggakan. Aku tahu aku hanya sebagai benalu di dalam hidupmu. Mengharapkan cintamu sama saja dengan berharap memeluk bulan yang rasanya takkan pernah mungkin, bahkan sangat mustahil. Aku tak banyak berharap jika suatu saat aku yang akan mengisi hatimu, membiarkanmu mengenggam erat jemari ini, menemaniku saat aku merasa sedih, sepi, dan sendiri. Tetap mencintaimu pun rasanya sudah cukup, meski kenyataannya cintaku tak pernah berbalas.
DAN... suatu saat ketika waktu sanggup untuk menghapus ragaku, aku berharap kamu tahu bahwa cintaku takkan pernah mati padamu, tak seperti ruh yang akan meninggalkan raganya, tak seperti tumbuhan yang akan mati tanpa air, dan tak juga seperti langit malam yang akan sangat gelap tanpa cahaya bulan dan bintang. Cintaku akan terus ada bagimu, selama-lamanya. Setelah kehidupan dan kematian...
Berkali-kali kamu hancurkan perasaanku, dan selama itu pula aku tak pernah berhenti mencintaimu.
Berkali-kali kamu menyembunyikanku dibalik kekosongan yang kau tunjukkan, tapi tetap saja aku berusaha untuk jadi sesuatu yang berarti bagimu meski rasanya begitu sulit.
Aku bahkan sangat sabar menantimu untuk menyadari bahwa aku ada di dalam hidupmu, aku sangat sabar untuk berusaha menjadi sesuatu yang dapat kau rindukan, yang dapat kau banggakan meski nyatanya kamu tak pernah melakukannya untukku.
Meskipun aku pun tak pernah tahu sampai kapan batas waktu yang Tuhan berikan padaku.
Jikalau waktuku telah habis, aku harap kamu tak akan menyesali bahwa aku PERNAH ada di dalam hidupmu, aku PERNAH memperjuangkanmu meski aku harus menangis beribu kali, aku PERNAH mencintaimu meskipun mungkin begitu mustahil rasanya untuk mendapat balas cintamu.
Aku PERNAH hadir, aku PERNAH bernafas, aku PERNAH hidup, itu semua aku lakukan untuk mencintaimu. Aku PERNAH bertahan untukmu, walau sulit dan menyakitkan.
***
Malam itu seperti biasanya aku kembali menulis sesuatu tentang dirimu dalam blogku. Dalam linangan air mata dan rasa sakit yang tak kan pernah ada obatnya, kecuali dirimu. Aku sadar betapa sulitnya mencintaimu, seseorang yang tak pernah bisa untuk mencintaiku, bahkan mungkin kamu tak pernah menganggapku ada. Namun apa daya ternyata hasratku untuk mencintaimu masih begitu besar, bahkan lebih besar dari rasa sakit yang kupendam, yang tak pernah ku tunjukkan kepada satu orang pun di luar sana. Hanya aku, Tuhanku, dan beberapa saksi bisu yang teronggok di dalam kamarku. Hanya mereka yang tahu kapan saatnya aku menangis ketika aku membaca beberapa tulisanmu, kumpulan paragraf yang mengatakan bahwa kamu tak pernah jadi milikku, dan aku tak pernah ada dalam hidupmu. Di sana hanya ada kisah cintamu yang begitu manis dengan masa lalumu, bukan kisahmu denganku saat sekarang.
Tahukah kamu? Namamu ada dalam setiap doaku, meskipun aku yakin namaku takkan pernah ada dalam setiap doa yang kau panjatkan. Dan lagi-lagi aku mengerti, aku hanya bisa bersabar hingga suatu saat nanti waktu yang akan menjawab dan menunjukkan betapa besar kasih sayang yang aku miliki. Aku tak kan pernah memaksa dirimu untuk benar-benar mencintaiku, tidak akan karena yang aku tahu cinta itu tulus, murni, dan mengalir apa adanya. Cinta itu berbicara tentang perasaan, bukan paksaan. Lagipula aku bukanlah tipe orang yang seperti itu, yang suka memaksa sesuatu yang dikehendaki meski harus mengorbankan perasaan orang lain. Aku lebih baik diam, aku lebih baik membisu hingga suatu saat nanti kau akan sadar siapa orang yang paling mencintaimu dengan tulus selain kedua orangtuamu.
Aku cukup sadar diri hingga saat ini. Mungkin aku memang ditakdirkan hanya sebagai pengagum dirimu, bukan seseorang yang layak untuk kau cintai. Aku sadar aku bukan siapa-siapa. Aku bukan dia yang pantas untuk kau cintai, aku sangat berbeda dengannya yang selalu kau banggakan. Aku tahu aku hanya sebagai benalu di dalam hidupmu. Mengharapkan cintamu sama saja dengan berharap memeluk bulan yang rasanya takkan pernah mungkin, bahkan sangat mustahil. Aku tak banyak berharap jika suatu saat aku yang akan mengisi hatimu, membiarkanmu mengenggam erat jemari ini, menemaniku saat aku merasa sedih, sepi, dan sendiri. Tetap mencintaimu pun rasanya sudah cukup, meski kenyataannya cintaku tak pernah berbalas.
DAN... suatu saat ketika waktu sanggup untuk menghapus ragaku, aku berharap kamu tahu bahwa cintaku takkan pernah mati padamu, tak seperti ruh yang akan meninggalkan raganya, tak seperti tumbuhan yang akan mati tanpa air, dan tak juga seperti langit malam yang akan sangat gelap tanpa cahaya bulan dan bintang. Cintaku akan terus ada bagimu, selama-lamanya. Setelah kehidupan dan kematian...
Comments
Post a Comment