Ketika Hidup Adalah Cinta dan Perjuangan
Dalam malam yang gelap aku bercerita tentang segalanya; tentang cerita hidup yang tak pernah aku harapkan, tentang luka yang selalu mengendap di dalam hati, tentang cinta yang tak tahu kepada siapa aku harus berbagi, dan masih banyak lagi. Aku tidak tahu kepada siapa lagi aku harus bercerita, berceloteh mengeluarkan segala keluh-kesah yang ada, hanya malam. Hanya malam lah yang mengerti aku, hanya malam lah yang paham betul akan arti kesendirian. Saat bibir ini hanya mampu membisu dan tak sanggup untuk bergerak, aku hanya sanggup membagikannya dalam hati. Dan hanya malam lah yang mampu mengerti kesedihan dan kesepian...
***
Malam ini aku merasakan pilu itu lagi. Bukan hanya di dalam hati, namun lagi-lagi tubuhku yang jadi sasaran kemarahannya. Lagi-lagi dia menampar pipiku, memukulku dengan sebuah gagang sapu hingga berkali-kali, meninggalkan bekas lebam di beberapa bagian tubuhku. Ia tak pernah menghiraukanku meski berkali-kali aku menjerit dan menangis kesakitan, ia terus melakukannya seperti orang yang sedang kesetanan. Bahkan ia menginjak wajahku dengan kakinya, memperlakukanku seperti orang biadab yang tak tahu arah. Bahkan saat ia berhenti, ia meninggalkanku begitu saja, tak berperikemanusiaan. Air mataku terus mengalir, seluruh tubuhku pun terasa remuk. Aku hanya bisa pasrah, berharap Tuhan akan memberikan keadilan padaku suatu saat nanti.
Aku sering bertanya-tanya pada Tuhan di kala malam menjelang, haruskah aku dilahirkan untuk menanggung kepedihan ini? Andaikan ibuku masih hidup, aku yakin ia tak akan tahan dengan perlakuan ayah yang semakin membabi buta. Dulu ia pun sering mendapatkannya; pukulan, tendangan, dan tamparan ayah. Dulu aku sering mendengar tangisan ibu, bahkan hampir setiap malam aku mendengar suara ibu meronta-ronta karena kesakitan. Ayah selalu pulang dalam keadaan mabuk dan menghajarnya. Hingga suatu hari ibu jatuh sakit. Namun ayahku memang orang gila, bahkan saat ibu sakit pun ia tetap menggoreskan luka yang sama, selalu begitu. Hingga saat terakhir ibu pun, ibu tetap merasakan penderitaan itu, sakit yang bahkan terasa lebih dari sekedar pengkhianatan. Ibu meninggal di tangan ayah. Saat ibu lemah, ayah tetap memukulinya dengan tanpa perasaan karena ibu tidak mau memberikan uang kepada ayah untuk berjudi. Ayah memang punya beberapa kebiasaan yang sangat buruk. Selain ayah suka menganiaya keluarganya sendiri, ayah pun suka berjudi, minum-minum, dan bergonta-ganti wanita. Bahkan anak ayah bukan hanya aku saja. Ayah mempunyai seorang anak perempuan lainnya dari wanita yang ia kenal di sebuah diskotik. Dan anak itu pun bernasib sama sepertiku, bahkan mungkin lebih parah. Karena sifat ayah, ibunya pergi meninggalkannya begitu saja. Saat itu ibuku masih hidup, maka ia memutuskan untuk merawat anak itu karena kasihan. Dan saat ibuku meninggal, tanggung jawab itu beralih kepadaku.
Aku pun semakin memandang realistis pada kehidupan. Aku tak percaya pada cinta sejati. Bagiku cinta hanyalah bagian dari kisah di negeri dongeng. Hanya cinderella lah yang mampu bertemu dengan pangerannya, menemukan cinta sejati, dan hidup bahagia untuk selama-lamanya. Itu semua tidak berlaku di dunia nyata, termasuk pada kisah ibuku yang malang. Ibuku sangat mencintai ayahku, menikah dengannya dan berharap kebahagiaan. Namun bukan cinta dan kasih sayang yang ia dapat, justru penderitaan yang bertubi-tubi lah yang ayah berikan.
"Kak, kakak bangun! Kakak!" teriak Jelita sambil menangis di sampingku. Aku pun mencoba membuka mataku, menatap wajah polosnya meski samar-samar, kemudian dengan susah payah aku meraih tangan mungilnya yang terasa begitu menenangkan.
"Kakak ga kenapa kenapa, sayang. Kamu jangan menangis." ucapku lirih sambil tersenyum, meski harus menahan sakit.
"Aku sayang sama kakak. Kalau kak Kasih mati, aku engga tau harus tinggal sama siapa." ucapnya dengan terisak.
"Engga sayang, kakak akan terus ada di sini untuk Jelita."
***
Saat malam berganti pagi, hidupku pun sekejap berubah. Menjadi kakak sekaligus ibu bagi Jelita. Mengurusnya, merawatnya, memperlakukannya dengan cinta dan kasih sayang. Sebisa mungkin aku membuatnya bahagia, hanya dia satu-satunya keluarga yang aku punya, hanya dia satu-satunya harapanku sekaligus alasan agar aku tetap hidup. Dia adalah malaikat kecil yang membuatku bertahan dalam kehidupan yang terasa begitu sulit ini.
Setelah selesai mengurus segala keperluan Jelita dan mengantarkannya ke taman kanak-kanak, aku pun masih harus bekerja sebagai pelayan di sebuah restaurant yang letaknya di tengah keramaian ibukota. Aku tidak punya pilihan. Setelah lulus sekolah menengah, aku tidak melanjutkan ke perguruan tinggi. Selain biayanya yang mahal, aku harus membiayai hidupku sendiri dan juga Jelita setelah ibuku meninggal. Meskipun rasanya begitu menyakitkan melihat orang-orang seumuranku bisa melanjutkan kuliah dan tertawa dengan teman-teman mereka, sedangkan aku harus bekerja keras menafkahi keluarga. Namun aku sadar bahwa pada kenyataannya hidup ini memang tidak adil, bukan? Ada orang kaya, ada juga orang miskin. Ada yang bahagia, ada juga yang menderita seperti aku ini. Namun satu hal yang aku inginkan, aku tidak ingin Jelita merasakan bagaimana susah dan pahitnya menjadi diriku. Aku ingin dia bahagia, aku ingin dia bisa menggapai suksesnya suatu saat nanti. Semoga...
***
Setelah bertahun-tahun semenjak malam itu, ayah tak kunjung kembali ke rumah. Namun meskipun begitu, kami tetap hidup dalam ketakutan dan trauma. Kami takut kalau-kalau ayah akan kembali lagi dan menganiaya kami meski kenyataannya tidak lagi. Hingga berita itu terdengar sampai ke telinga kami bahwa ayah telah meninggal karena suatu hal yang tidak mungkin aku sebutkan karena terlalu seronok. Kami pun tidak tahu harus bagaimana, senang atau sedih. Kami mungkin senang karena kami tidak harus mendengar rintihan dari salah satu di antara kami, namun juga sedih karena kami sangat menyayangkan ayah harus pergi dalam keadaan yang sedemikian dan belum dalam keadaan bertaubat.
Namun aku sadar kami harus tetap melanjutkan hidup, mengubur dalam-dalam semua kenangan pahit itu, semua kenangan yang telah mampu membuat ibuku pergi selama-lamanya dan membuat ibu Jelita memilih untuk menelantarkan anaknya sendiri. Namun tak apalah, aku yakin semuanya akan ada hikmahnya. Aku sudah cukup bahagia merawat Jelita dan melihatnya tumbuh menjadi seperti anak-anak yang lain, anak-anak yang ceria dan mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan. Meski harus dengan susah payah, meski harus mengerahkan seluruh energi yang ada, meski harus mengorbankan sebuah cita-cita yang tak akan pernah hilang.
Hidup itu tak semudah ketika membalikan telapak tangan.
Hidup itu butuh perjuangan dan kerja keras.
Hidup itu penuh dengan duka yang akan meninggalkan kenangan.
Jangan pernah menyerah dan berputus asa.
Comments
Post a Comment