Kita, Bukan Mereka
Ada yang bilang bahwa kamu tidak nyata...
Ada yang bilang bahwa kamu hanyalah kamuflase...
Ada yang bilang bahwa dunia kita terlalu berbeda...
Ada yang bilang bahwa kamu bukanlah tipe lelaki setia...
Begitu pun dengan kamu disana,
Mungkin banyak temanmu yang bilang bahwa aku begitu, aku begini.
Tapi pada kenyataannya hanya kita berdua yang tau, hanya hati kita, bukan yang lain apalagi mereka.
Mereka bahkan tak menjalani hubungan yang sama seperti kita, mereka tak pernah tau bagaimana sulitnya menjaga dan saling percaya dari kejauhan, bahkan mereka mungkin tak tau bagaimana caranya menyatukan hati lewat sebuah mimpi. Tapi kita? Kita bukan mereka, bahkan tak pernah akan sama. Kita jauh, kita dibatasi oleh ruang dan waktu, kita dibatasi oleh jarak yang bahkan sulit sekali rasanya untuk ditembus setiap hari. Kita seperti hidup di dalam dimensi yang berbeda meski kenyataannya tidak! Kita hanya butuh kesepakatan untuk bertemu, mengurangi rindu yang rasanya telah memuncak di ujung dada, bahkan rasanya sudah seperti naik ke ubun-ubun. Kita hanya butuh kesabaran ekstra dan membiarkan waktu yang menjawab semua.
Malam itu suasana jalanan di ibukota memang tak seramai biasanya. Tak ramai kendaraan yang berlalu-lalang, apalagi kemacetan. Hanya ada beberapa kendaraan, dan sorot-sorot lampu dari setiap bangunan yang ada. Maklum saja, suasana idul fitri masih sangat terasa di sini. Ibukota pasti masih ditinggal sebagian penduduknya untuk mudik ke kampung halaman.
Aku duduk di dalam sebuah mobil sedan yang sedang melaju menembus dinginnya malam. Aku duduk di jok belakang, sedangkan di jok depan diisi oleh sepasang kekasih yang sedang kasmaran. Mereka adalah kakak sepupuku, Anne dan pacarnya, Grizly. Sesekali aku memandang keluar, memandangi langit malam dan menerawang jauh kepadamu. Andai saja kamu ada disini bersamaku. Andai saja aku adalah Anne dan kamu adalah Grizly. Andai saja, tapi nyatanya bukan begitu. Aku ada di sini, dan kamu jauh di sana. Kita jauh, kita dibatasi oleh jarak meskipun setiap saat aku merasakan bahwa kamu ada di sini, di sampingku.
"Hati-hati loh sama cowok kayak dia. Bisa jadi cuma kamuflase." ucap Grizly sambil tetap melajukan kendaraannya.
"Iya Far, hati-hati aja. Banyak kok temen kampus gue yang modelnya kayak dia gitu." lanjut Anne
Aku pun terdiam dan memikirkan baik-baik kata mereka barusan. Ya, sulit sekali rasanya. Andaikan di sana kamu tau bagaimana rasanya jadi aku, andaikan kamu bisa mengetahui perasaanku seutuhnya. Jauh darimu saja sudah cukup menyiksa batinku, dan sekarang semua orang berbicara tentangmu padaku. Bahkan mereka pun tidak tau bagaimana kamu yang sebenarnya, mengenal sosok dirimu pun tidak! Mereka tidak pernah saling berbicara denganmu, lalu bagaimana mereka bisa menghakimi dan menilaimu sesuai dengan apa yang ada di kepala mereka? Hatiku miris. Bagaimanapun kamu, kamu adalah sosok yang aku cintai selain Tuhan dan keluarga intiku.
"Kok diem? Gue salah ngomong ya?" tanya Grizly padaku.
"Ah engga kok kak." jawabku. Dan lagi-lagi aku hanya bisa memendam perasaanku.
"Hmm... Sorry ya kalau gue salah ngomong."
"Iya gapapa kok, santai aja."
Tak lama, mobil sedan yang aku tumpangi ini tiba di sebuah cafe yang letaknya di pinggiran kota Jakarta. Meskipun memang pinggiran, tapi tempatnya cukup bisa bikin susana yang tadinya lumayan kacau jadi lebih baik, ya setidaknya tidak sekacau tadi. Di sana lampunya di-design tidak terlalu terang, dan di dalam cafe itu diputar lagu-lagu yang sedang 'in' di kalangan remaja. Aku pun dengan mudahnya bisa mengenali beberapa lagu yang diputar di sana, kemudian aku menikmatinya.
Kami cukup lama berada di cafe itu. Melihat Anne dan Grizly saling bermesraan, kemudian makan makanan yang sudah kami pesan, ngobrol barang sedikit meskipun lagi-lagi harus tentang kamu, dan kemudian melihat mereka bermesraan lagi. Iri? Sudah pasti aku iri melihat tingkah mereka. Jauh di lubuk hatiku, aku berharap kamu yang akan menggenggam jemariku, menatapku hangat, kemudian kamu pula yang akan membelai rambutku lembut. Tapi meskipun begitu, setidaknya kamu sudah bersedia menemaniku setiap hari melalui pesan-pesan yang kamu kirimkan untukku. Itu sudah lebih dari cukup.
From: Langit
Aku sayang sama kamu, Far. Jangan tinggalin aku ya.
Satu pesanmu berarti segalanya untukku. Membuatku tersenyum sendiri, tertawa sendiri, atau bahkan menangis sendiri. Ya, benar kata orang. Cinta memang begitu, cinta memang buta, tak pernah memandang siapa kamu dan seberapa jauh dirimu dengan orang yang kau cintai. Jika cinta ingin, maka cinta akan tumbuh begitu saja. Kau tak perlu tau diri dan mengukur segalanya dari materi. Cinta yang sesungguhnya adalah cinta yang akan tetap tumbuh dan berkembang tanpa peduli siapa kamu, dan cinta yang mampu membuatmu bertahan menjadi dirimu sendiri atau bahkan merubah sosok dirimu menjadi sosok yang lebih baik lagi.
Kamu tak perlu pedulikan apapun tentang mereka.
Tak peduli seberapa jauh kamu dariku, hatimu kan tetap bersamaku.
Selamanya.
Aku duduk di dalam sebuah mobil sedan yang sedang melaju menembus dinginnya malam. Aku duduk di jok belakang, sedangkan di jok depan diisi oleh sepasang kekasih yang sedang kasmaran. Mereka adalah kakak sepupuku, Anne dan pacarnya, Grizly. Sesekali aku memandang keluar, memandangi langit malam dan menerawang jauh kepadamu. Andai saja kamu ada disini bersamaku. Andai saja aku adalah Anne dan kamu adalah Grizly. Andai saja, tapi nyatanya bukan begitu. Aku ada di sini, dan kamu jauh di sana. Kita jauh, kita dibatasi oleh jarak meskipun setiap saat aku merasakan bahwa kamu ada di sini, di sampingku.
"Hati-hati loh sama cowok kayak dia. Bisa jadi cuma kamuflase." ucap Grizly sambil tetap melajukan kendaraannya.
"Iya Far, hati-hati aja. Banyak kok temen kampus gue yang modelnya kayak dia gitu." lanjut Anne
Aku pun terdiam dan memikirkan baik-baik kata mereka barusan. Ya, sulit sekali rasanya. Andaikan di sana kamu tau bagaimana rasanya jadi aku, andaikan kamu bisa mengetahui perasaanku seutuhnya. Jauh darimu saja sudah cukup menyiksa batinku, dan sekarang semua orang berbicara tentangmu padaku. Bahkan mereka pun tidak tau bagaimana kamu yang sebenarnya, mengenal sosok dirimu pun tidak! Mereka tidak pernah saling berbicara denganmu, lalu bagaimana mereka bisa menghakimi dan menilaimu sesuai dengan apa yang ada di kepala mereka? Hatiku miris. Bagaimanapun kamu, kamu adalah sosok yang aku cintai selain Tuhan dan keluarga intiku.
"Kok diem? Gue salah ngomong ya?" tanya Grizly padaku.
"Ah engga kok kak." jawabku. Dan lagi-lagi aku hanya bisa memendam perasaanku.
"Hmm... Sorry ya kalau gue salah ngomong."
"Iya gapapa kok, santai aja."
Tak lama, mobil sedan yang aku tumpangi ini tiba di sebuah cafe yang letaknya di pinggiran kota Jakarta. Meskipun memang pinggiran, tapi tempatnya cukup bisa bikin susana yang tadinya lumayan kacau jadi lebih baik, ya setidaknya tidak sekacau tadi. Di sana lampunya di-design tidak terlalu terang, dan di dalam cafe itu diputar lagu-lagu yang sedang 'in' di kalangan remaja. Aku pun dengan mudahnya bisa mengenali beberapa lagu yang diputar di sana, kemudian aku menikmatinya.
Kami cukup lama berada di cafe itu. Melihat Anne dan Grizly saling bermesraan, kemudian makan makanan yang sudah kami pesan, ngobrol barang sedikit meskipun lagi-lagi harus tentang kamu, dan kemudian melihat mereka bermesraan lagi. Iri? Sudah pasti aku iri melihat tingkah mereka. Jauh di lubuk hatiku, aku berharap kamu yang akan menggenggam jemariku, menatapku hangat, kemudian kamu pula yang akan membelai rambutku lembut. Tapi meskipun begitu, setidaknya kamu sudah bersedia menemaniku setiap hari melalui pesan-pesan yang kamu kirimkan untukku. Itu sudah lebih dari cukup.
From: Langit
Aku sayang sama kamu, Far. Jangan tinggalin aku ya.
Satu pesanmu berarti segalanya untukku. Membuatku tersenyum sendiri, tertawa sendiri, atau bahkan menangis sendiri. Ya, benar kata orang. Cinta memang begitu, cinta memang buta, tak pernah memandang siapa kamu dan seberapa jauh dirimu dengan orang yang kau cintai. Jika cinta ingin, maka cinta akan tumbuh begitu saja. Kau tak perlu tau diri dan mengukur segalanya dari materi. Cinta yang sesungguhnya adalah cinta yang akan tetap tumbuh dan berkembang tanpa peduli siapa kamu, dan cinta yang mampu membuatmu bertahan menjadi dirimu sendiri atau bahkan merubah sosok dirimu menjadi sosok yang lebih baik lagi.
Kamu tak perlu pedulikan apapun tentang mereka.
Tak peduli seberapa jauh kamu dariku, hatimu kan tetap bersamaku.
Selamanya.
Far? Far who?
ReplyDeleteA simple nickname for the character
Delete