Sebuah Curhatan

Lagi-lagi aku menangis malam ini sambil menatap layar laptopku yang tak pernah berubah, sama seperti perasaanku yang tak pernah berubah meski kenyataannya kisah ini telah lama aku jalani semenjak dia hadir ke dalam kehidupanku. Sepi, sedih, dan sendiri. Rasanya air mataku ini pun sudah tak berarti lagi, sudah tak dapat melukiskan betapa sakitnya merasakan hal itu di saat dia ada. Dia yang seharusnya menghapus segala rasa itu, namun pada kenyataannya dia tak pernah ikut andil di dalamnya. Berusaha atau tidak, entahlah. Aku tidak tahu apa yang sesungguhnya dia lakukan. Bahkan mengetahui perasaannya pun tidak! Kini aku merasa sangat tidak berarti untuknya, aku hanya bayangan semu yang tak kan pernah jadi nyata. Aku hanyalah sebuah nama yang tak berwujud, tak berlaku apa-apa.

Sekarang sepertinya sulit sekali menghentikan tangis ini meski dadaku sudah terasa sangat sesak merasakan sebuah luka. Jika kalian bertanya bagaimana rasanya, mungkin aku akan sangat sulit untuk menjelaskan. Jika kalian bertanya lebih sakit mana lukaku dan luka akibat tertusuk belati, mungkin aku tak kan menjawabnya, aku akan diam karena yang ku tahu lukaku tak kan pernah ada obatnya, apapun itu!

Aku seringkali berpikir apakah dia benar-benar mencintaiku seperti apa yang seringkali ia katakan, atau memang ini hanyalah bagian dari sandiwara. Lagi lagi aku tidak tahu. Lalu apalah aku sebenarnya? Aku tidak pernah benar-benar tahu siapa dia, yang aku tahu hanyalah aku telah jatuh cinta kepadanya. Itu saja. Cintaku padanya seperti air bah yang datang tiba-tiba, bahkan di saat aku sedang takut untuk mencinta lagi. 

Aku mentari tapi tak menghangatkanmu...
Aku pelangi tak memberi warna hidupmu...
Aku  rembulan tak menerangi malammu...
Aku lah bintang yang hilang ditelan kegelapan...

Seringkali aku merasakan perasaan yang tak sepantasnya aku rasakan. Seringkali pula aku memikirkan suatu hal yang seharusnya tidak aku pikirkan. Tapi hatiku merasakan hal yang lain, suatu hal yang bertolak belakang dengan logika ku. Dan lagi lagi semua ini tentangnya.

Pernahkah kalian merasa iri di saat teman dekat kalian merasakan kasih sayang yang begitu tulus dari kekasihnya sedangkan kalian tidak? Atau, pernahkah kalian menginginkan hal yang sama ketika kalian tahu bahwa kekasih mereka akan selalu ada di saat mereka butuhkan sedangkan kekasih kalian tidak? Ini bukan masalah pengertian atau tidak, tapi ini tentang rasanya diperlakukan seperti tidak dibutuhkan berkali-kali. Sakit tentu saja di saat kalian merasa sebagai kekasih yang tak diinginkan. Begitu juga denganku. Seringkali aku berpikir untuk apa dia menyatakan perasaannya jikalau hanya untuk mempermainkanku? Seringkali juga aku menerawang jauh, membayangkan isi hatinya. Namun pada kenyataannya hal itu akan berakhir sia-sia. Semua ini terasa begitu fana, terasa begitu menyakitkan.

Dan aku tak tahu lagi apa yang seharusnya aku lakukan. Yang aku tahu hanyalah bahwa aku sangat mencintainya, tulus. Dan mungkin aku tak kan pernah menemukan sosok dia pada diri orang lain. Tak akan.

Comments

Popular Posts