Moment Of High School
Pagi itu langit masih terlalu biru, embun pagi pun mengalir dari setiap helai daun dan tumpah ke tanah yang basah. Bau hujan semalam pun masih membekas, menyeruak hingga indera penciumanku. Wangi sekali sehingga menyegarkan pikiranku saat ini. Ingin rasanya aku menari di atas bayanganku sendiri, melantunkan nada-nada yang indah, dan kemudian tenggelam dalam rasa penuh suka cita putih abu-abu.
Hari ini tahun terakhirku di bangku SMA resmi dimulai! Deg-degan pastinya. But, it's the moment which I've waited for so long! It's exciting because I really can't wait for the college, new friends, new city, new home, and new experience exactly!!! But I hope it won't be the trouble in my last year... Well, I'll do my best to get the success.
Mungkin saat itu masih terlalu pagi untuk menginjakkan kaki di sekolah. Koridor kelas 10, 11, dan 12 masih sangat sepi. Hanya ada penjaga sekolah yang terlihat sedang bersih-bersih karena pada saat itu debu tebal masih menumpuk di atas meja dan kursi. Aku memandangnya sesaat dari depan pintu. Pak Darjiman, seorang laki-laki lanjut usia yang telah setia mengabdikan dirinya selama puluhan tahun di sekolah ini. Seperti tanpa rasa lelah, ia sangat bersemangat untuk melakukan tugasnya setiap hari, tanpa berkeluh kesah meski upahnya tak seberapa. Sayang sekali nampaknya jika murid-murid yang masih segar bugar harus kalah semangatnya dengan Pak Darjiman yang usianya bahkan sudah menginjak 68 tahun. Dengan tubuhnya yang kurus dan kulitnya yang sudah keriput, ia membersihkan meja dan kursi-kursi itu satu per satu. Seperti tanpa cela, meja dan kursi-kursi itu terlihat sangat bersih. Nampaknya ia benar-benar sangat teliti dalam melakukan tugasnya.
"Selamat pagi, Adrella." ucap Pak Darjiman sambil tersenyum padaku. Beberapa giginya yang sudah tanggal pun terlihat ketika itu.
"Pagi, Bapak." jawabku sambil membalas senyumnya, kemudian aku mendekati lelaki tua itu.
"Wiiihh rajin banget si Bapak hehe... Mau saya bantu? Lumayan loh, Pak untuk menghemat waktu."
"Yaampun, Non ga usah. Nanti seragam Non kotor, lagian nanti Non pasti keringatan. Kalau Non keringatan, nanti belajarnya ga fokus." ucap Pak Darjiman sambil terus mengusap beberapa permukaan meja dan kursi itu dengan pembersih.
"Ih engga kok, Pak. Malahan saya senang bisa membantu Bapak. Yaaa hitung-hitung sekalian belajar untuk bekal nge-kost nanti Pak." ucapku sambil memungut beberapa kotoran yang terselip di bawah kaki meja dan kursi-kursi itu.
"Oh iya ya, si Non udah kelas 12 sekarang. Tahun depan semoga lulus dengan nilai yang memuaskan ya, Non." ucap Pak Darjiman tersenyum ramah kepadaku.
***
Teng...teng...teng!
Jam pertama pun dimulai. Yang datang pertama kali saat itu adalah guru ekonomi. Anak-anak pun saling berbisik membicarakan guru wanita yang berkacamata itu. Cara berjalannya yang anggun membuatnya terlihat cantik, tatapannya yang lurus mencerminkan bahwa ia adalah seseorang yang tegas dan disiplin, namun dibalik itu semua sangat terlihat bahwa ia adalah sosok penyayang ketika ia berbicara kepada murid-muridnya.
"Dia tuh disiplin banget loh. Tugas kita bakalan banyak banget nih, ga boleh telat pula." ucap Kanayya, teman sebangkuku.
"Oh ya? Bagus dong, Ya. Kan itu artinya dia mau kalau murid-muridnya disiplin." jawabku santai.
"No, La noooo!!! Aku ga suka guru yang kayak dia gitu, terlalu tegang!"
"What?! Apanya?"
"Cara ngajarnya lah, La."
Aku pun hanya mengangguk dan membentuk bulatan pada bibir seperti huruf O. Tak lama, guru itu pun mulai memperkenalkan dirinya. Dimulai dengan memperkenalkan namanya yang ternyata adalah Bu Aini, kemudian ia mulai menceritakan beberapa pengalamannya selama menjadi guru.
"Luar biasa!" ucapku kagum.
"Hah?! Apanya? It's ordinary, boring, and...." ucap Kanayya menanggapi. Namun ketika sederet opininya mulai muncul, aku justru memotong pembicaraan.
"Jadi guru itu luar biasa, Ya. Guru itu membagikan ilmu pengetahuannya kepada murid-muridnya, mengajar mereka dengan sabar, menuntun, membuat kita menjadi tahu apa yang sebelumnya tidak kita ketahui, and anything else."
"Tapi guru itu nyebelin. Mereka selalu ngasih tugas, tugas, dan tugas. Like there isn't life without the sun, there isn't day without homework. Pusiiiingggg....!!!!"
"Kamu akan tahu manfaatnya nanti, Ya. Ga sekarang." ucapku sambil tersenyum.
***
Hari selalu berganti, semuanya berjalan begitu cepat. Dan aku masih mengingat kata-kata mereka yang selalu bilang bahwa sedetik pun waktu yang terlewat, kita tak akan bisa untuk mengulangnya untuk selamanya...
Dan seperti hari ini setelah UN yang telah menjadi bebanku beberapa bulan belakangan ini akhirnya berjalan dengan lancar. And guess what?! I got the best scores at school. It makes me proud, without cheating. Daaannn.... Yang paling penting adalah ketika aku berhasil mendapatkan salah satu perguruan tinggi negeri yang sangat aku minati melalui jalur undangan. That's the best moment ever!!!
Aku menatap seluruh wajah guruku saat itu, ada seulas senyuman di sana untukku. Itu adalah hal terindah yang pernah aku dapatkan, serta tangisan haru dari kedua orangtuaku. Sungguh, ini adalah nikmat Tuhan yang sangat patut untuk aku syukuri. Berkat restu dan doa dari orangtuaku, serta bimbingan dari para guru lah aku mendapatkan sukses ini. But, it's not enough! I've studied and prayed hard for the chance! And I've done.
Seperti kata mereka yang selalu bilang bahwa jika ada kemauan maka ada jalan. Dan aku percaya, orang sukses tidak pernah santai dan orang yang santai tidak pernah akan menjadi sukses. Segala perjuangan dan kegigihan pasti akan berbuah manis, asalkan kita bersabar dan ada kemauan yang kuat.
Hari ini tahun terakhirku di bangku SMA resmi dimulai! Deg-degan pastinya. But, it's the moment which I've waited for so long! It's exciting because I really can't wait for the college, new friends, new city, new home, and new experience exactly!!! But I hope it won't be the trouble in my last year... Well, I'll do my best to get the success.
Mungkin saat itu masih terlalu pagi untuk menginjakkan kaki di sekolah. Koridor kelas 10, 11, dan 12 masih sangat sepi. Hanya ada penjaga sekolah yang terlihat sedang bersih-bersih karena pada saat itu debu tebal masih menumpuk di atas meja dan kursi. Aku memandangnya sesaat dari depan pintu. Pak Darjiman, seorang laki-laki lanjut usia yang telah setia mengabdikan dirinya selama puluhan tahun di sekolah ini. Seperti tanpa rasa lelah, ia sangat bersemangat untuk melakukan tugasnya setiap hari, tanpa berkeluh kesah meski upahnya tak seberapa. Sayang sekali nampaknya jika murid-murid yang masih segar bugar harus kalah semangatnya dengan Pak Darjiman yang usianya bahkan sudah menginjak 68 tahun. Dengan tubuhnya yang kurus dan kulitnya yang sudah keriput, ia membersihkan meja dan kursi-kursi itu satu per satu. Seperti tanpa cela, meja dan kursi-kursi itu terlihat sangat bersih. Nampaknya ia benar-benar sangat teliti dalam melakukan tugasnya.
"Selamat pagi, Adrella." ucap Pak Darjiman sambil tersenyum padaku. Beberapa giginya yang sudah tanggal pun terlihat ketika itu.
"Pagi, Bapak." jawabku sambil membalas senyumnya, kemudian aku mendekati lelaki tua itu.
"Wiiihh rajin banget si Bapak hehe... Mau saya bantu? Lumayan loh, Pak untuk menghemat waktu."
"Yaampun, Non ga usah. Nanti seragam Non kotor, lagian nanti Non pasti keringatan. Kalau Non keringatan, nanti belajarnya ga fokus." ucap Pak Darjiman sambil terus mengusap beberapa permukaan meja dan kursi itu dengan pembersih.
"Ih engga kok, Pak. Malahan saya senang bisa membantu Bapak. Yaaa hitung-hitung sekalian belajar untuk bekal nge-kost nanti Pak." ucapku sambil memungut beberapa kotoran yang terselip di bawah kaki meja dan kursi-kursi itu.
"Oh iya ya, si Non udah kelas 12 sekarang. Tahun depan semoga lulus dengan nilai yang memuaskan ya, Non." ucap Pak Darjiman tersenyum ramah kepadaku.
***
Teng...teng...teng!
Jam pertama pun dimulai. Yang datang pertama kali saat itu adalah guru ekonomi. Anak-anak pun saling berbisik membicarakan guru wanita yang berkacamata itu. Cara berjalannya yang anggun membuatnya terlihat cantik, tatapannya yang lurus mencerminkan bahwa ia adalah seseorang yang tegas dan disiplin, namun dibalik itu semua sangat terlihat bahwa ia adalah sosok penyayang ketika ia berbicara kepada murid-muridnya.
"Dia tuh disiplin banget loh. Tugas kita bakalan banyak banget nih, ga boleh telat pula." ucap Kanayya, teman sebangkuku.
"Oh ya? Bagus dong, Ya. Kan itu artinya dia mau kalau murid-muridnya disiplin." jawabku santai.
"No, La noooo!!! Aku ga suka guru yang kayak dia gitu, terlalu tegang!"
"What?! Apanya?"
"Cara ngajarnya lah, La."
Aku pun hanya mengangguk dan membentuk bulatan pada bibir seperti huruf O. Tak lama, guru itu pun mulai memperkenalkan dirinya. Dimulai dengan memperkenalkan namanya yang ternyata adalah Bu Aini, kemudian ia mulai menceritakan beberapa pengalamannya selama menjadi guru.
"Luar biasa!" ucapku kagum.
"Hah?! Apanya? It's ordinary, boring, and...." ucap Kanayya menanggapi. Namun ketika sederet opininya mulai muncul, aku justru memotong pembicaraan.
"Jadi guru itu luar biasa, Ya. Guru itu membagikan ilmu pengetahuannya kepada murid-muridnya, mengajar mereka dengan sabar, menuntun, membuat kita menjadi tahu apa yang sebelumnya tidak kita ketahui, and anything else."
"Tapi guru itu nyebelin. Mereka selalu ngasih tugas, tugas, dan tugas. Like there isn't life without the sun, there isn't day without homework. Pusiiiingggg....!!!!"
"Kamu akan tahu manfaatnya nanti, Ya. Ga sekarang." ucapku sambil tersenyum.
***
Hari selalu berganti, semuanya berjalan begitu cepat. Dan aku masih mengingat kata-kata mereka yang selalu bilang bahwa sedetik pun waktu yang terlewat, kita tak akan bisa untuk mengulangnya untuk selamanya...
Dan seperti hari ini setelah UN yang telah menjadi bebanku beberapa bulan belakangan ini akhirnya berjalan dengan lancar. And guess what?! I got the best scores at school. It makes me proud, without cheating. Daaannn.... Yang paling penting adalah ketika aku berhasil mendapatkan salah satu perguruan tinggi negeri yang sangat aku minati melalui jalur undangan. That's the best moment ever!!!
Aku menatap seluruh wajah guruku saat itu, ada seulas senyuman di sana untukku. Itu adalah hal terindah yang pernah aku dapatkan, serta tangisan haru dari kedua orangtuaku. Sungguh, ini adalah nikmat Tuhan yang sangat patut untuk aku syukuri. Berkat restu dan doa dari orangtuaku, serta bimbingan dari para guru lah aku mendapatkan sukses ini. But, it's not enough! I've studied and prayed hard for the chance! And I've done.
Seperti kata mereka yang selalu bilang bahwa jika ada kemauan maka ada jalan. Dan aku percaya, orang sukses tidak pernah santai dan orang yang santai tidak pernah akan menjadi sukses. Segala perjuangan dan kegigihan pasti akan berbuah manis, asalkan kita bersabar dan ada kemauan yang kuat.
Comments
Post a Comment